murniramli

Masalah dan Tujuan Penelitian

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Desember 7, 2011 at 10:28 am

Ketika mengerjakan skripsi tentang pengaruh naungan terhadap produksi benih cabe di IPB dulu, saya tidak terlalu kesulitan merumuskan masalah dan tujuan penelitian. Demikian pula saat mengambil program master dan mengerjakan tentang ketahanan blast dalam beberapa species padi dalam rangka kegiatan seleksi untuk menyusun varietas baru padi. Namun, tidak demikian halnya ketika saya mengambil program S3 di Nagoya Univ, dan mengerjakan disertasi tentang peralihan konsep pendidikan menengah di Indonesia.

Tampaknya, agak menyulitkan memetakan mana yang menjadi masalah, dan mana yang ingin saya capai melalui kegiatan penelitian. Baru setelah berulang kali draft dan membaca banyak contoh peneliti yang ditulis dalam bahasa Jepang, saya baru dapat memahami sedikit apa yang membedakan antara masalah dan tujuan penelitian.

Minggu lalu saya mencoba menguji apakah mahasiswa saya dapat membedakan masalah dan tujuan penelitian dengan cara meminta mereka merumuskan masalah dan tujuan penelitian yang sedang mereka kerjakan dalam MK Project Work. Sebelumnya saya memberikan definisi “masalah” dan “tujuan” penelitian menurut metode penelitian ilmiah. Saya memberikan definisi dan contoh yang segampang mungkin tentang masalah dan tujuan.

Masalah dalam penelitian menurut saya adalah :
1) Fakta unik yang tidak mengikuti kelaziman, yang muncul sebagai akibat sebuah proses alami, perubahan cara pandang, pola hidup, dll. Misalnya, masa hidup orang Jepang yang terpanjang di dunia, atau prestasi anak-anak di Finlandia yang lebih unggul daripada anak-anak di negara lain; atau Suku Samin yang tidak mau menerima kebijakan pemerintah.
2) Fakta yang tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, negara sudah menerapkan pengawasan ketat saat ujian nasional berlangsung, tetapi ternyata masih banyak yang nyontek, guru sudah disertifikasi, namun kualitas pendidikan tidak meningkat, gigi saya sakit padahal saya sudah sikat gigi dengan teratur, dll.

Dalam MK Project Work, para mahasiswa mengangkat tema yang beragam. Ada tujuh kelompok, dengan tema peran guru, kehidupan siswa, pemahaman agama, budaya makan, perusahaan Jepang, olahraga di Jepang, dan kehidupan musim panas di Jepang. Pada tahap awal perkuliahan, setiap kelompok saya bebaskan untuk memilih tema yang mereka sukai, kecuali satu tema yang sudah saya tentukan yaitu perusahaan Jepang. Metode penelitian yang kami lakukan disepakati dengan cara interview orang Jepang yang tinggal di Semarang.

Ketika mempresentasikan rancangan penelitian dilakukan, masing-masing kelompok belum menyajikan permasalahan dengan jelas, dan hanya terfokus pada isi interview. Pada kelas sebelumnya, saya memang menekankan pada aspek tujuan penelitian dan tata cara melakukan interview dengan orang Jepang, termasuk membuat janji melakukan interview.Dan tampaknya semua kelompok sudah selesai dengan kegiatan di lapangan.

Namun, ketika kami mulai memasuki tahapan penyusunan laporan, saya mulai menyadari bahwa mahasiswa belum terbiasa dengan prinsip berpikir ilmiah. Saya tidak menyalahkan mahasiswa, sebab ketidakmampuan itu tentulah dari bekal pendidikan sebelumnya yang belum menekankan hal ini. Barangkali mereka sudah mendapatkan MK Metode Penelitian, tetapi sama seperti saya dulu yang bolak-balik belajar tentang hal ini, tidak mampu merumuskan permasalahan dengan baik. Saya menduga titik lemahnya adalah terlalu banyaknya teori penelitian yang dijejalkan di kepala kami, dan kurangnya kesempatan untuk menyusun proposal dan menelaah kasus-kasus sosial yang menjadi segmen penelitian kami. Sehingga barangkali mahasiswa sangat paham secara definitif tentang penelitian ilmiah, tetapi tidak pada tataran praktikal.

Saya ajukan contoh kasus kelompok MK Project Work yang membahas masalah pemahaman agama orang Jepang. Ketika saya berdiskusi dengan anggota kelompok, mereka mengajukan beberapa poin yang sebenarnya adalah tujuan penelitian.Misalnya, kami ingin mengetahui pemahaman agama orang Jepang, kami ingin mengetahui apakah orang Jepang beragama, dll. Lalu, saya kejar dengan pertanyaan, mengapa kalian ingin mengetahuinya? Sebab dengan pertanyaan inilah kita akan sampai pada fakta/masalah yang membuat kita terusik untuk mengetahui jawaban dan paparan tentang pemahaman beragama orang Jepang. Mahasiswa kesulitan untuk mejawab pertanyaan saya. Maka, saya ubah pertanyaannya dengan : Apa yang berbeda antara kondisi beragama di Jepang dan di Indonesia? Adakah yang fakta yang tidak sesuai antara kondisi masyarakat Jepang dan Indonesia? Dengan pertanyaan ini mereka mulai mengerti. Lalu, menyebutkan fakta yang berbeda adalah tingkat kedisiplinan, keteraturan, orang Jepang juga merayakan natal, sekalipun tidak beragama Kristen. Ya, itulah masalahnya. Kenyataan/fakta/kondisi masyarakat yang berbeda tersebut mengusik kita untuk mencari jawabannya, mengapa bisa demikian kondisinya. Lalu, kita menduga/menebak-nebak, penyebabnya salah satunya adalah pemahaman agama. Tentunya, jika ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa pemahaman agama berpengaruh pada sikap/perilaku seseorang, maka semakin kuatlah alasan kita memilih faktor pemahaman agama sebagai point untuk menjawab pertanyaan kita. Jika tidak ada hasil penelitian sebelumnya, maka kita dapat mengajukan hipotesa/dugaan bahwa ada hubungan antara pemahaman agama dengan sikap dan perilaku hidup orang Jepang.

Lalu, apa tujuan penelitian itu ?  Ya, tujuan adalah, apa yang ingin kita bongkar, temukan jawabannya, atau benang merah yang ingin diungkapkan. Oleh karena itu tujuan penelitian biasanya akan lebih mudah disampaikan dalam bentuk pertanyaan dengan menggunakan kata kunci 1H 5W. Misalnya, Ingin mengetahui bagaimana pemahaman agama orang Jepang, bagaimana ritual agama orang Jepang, bagaimana pandangan orang Jepang terhadap agama, dan apakah sikap, perilaku disebabkan oleh keyakinan agamanya, dll. Setelah menguraikan tujuan, barulah kita dapat menyusun item interview.

Ketika hasil penelitian telah terkumpul, maka data tersebut perlu dianalisa dengan tetap berpegang pada tujuan, atau tidak melenceng dari tujuan yang sudah kita kembangkan. Analisa data kadang-kadang tidak terfokus dan melupakan tujuan utama penelitian. Ketidakfokusan tersebut muncul karena kurang mantapnya pemahaman awal terhadap tujuan penelitian yang sedang dikerjakan. Oleh karena itu ketika melakukan analisa data, penulis kembali harus menghadirkan rumusan tujuan yang sudah disusunnya di awal.

Pada prinsipnya, tidak ada cara lain untuk memahaminya kecuali senantiasa mempraktekkannya. Pemahaman seseorang terhadap masalah dan tujuan penelitian akan menjadi sangat kaya dan mantap dengan memperbanyak praktek.

 

 

  1. outline, definisi, batasan, sampai kesimpulan harus terus dipegang ya, Mbak.

  2. Guru dan research adalah senjata untuk guru demi peningkatan kualitas guru tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: