murniramli

Belajar dengan Suara Keras

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan pra sekolah, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang, Taman Kanak-Kanak on Januari 6, 2012 at 2:01 am

Apakah anak Anda atau Anda pada masa sekolah dulu sering membaca buku pelajaran dengan suara keras?

Banyak anak usia SD yang selalu mengeraskan suaranya saat belajar. Yang paling sering terlihat adalah saat membaca sebuah bacaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kebiasaan membaca keras lambat laun akan hilang sejalan dengan perkembangan usia dan jenis bacaan yang dibacanya. Tetapi tetap ada anak yang harus membunyikan-sekalipun tidak dengan suara keras-apa yang dibacanya.

Suatu kali teman saya menegur anaknya yang belajar bahasa Inggris sambil membaca semua kalimat dengan suara keras. Ibunya menegur begini, “Nak, kalau belajarnya teriak-teriak seperti itu, nanti yang pinter tonggone (tetangganya)”. Saya meledak tertawa mendengarnya. Si kecil yang duduk di kelas 6 SD kemudian berdalih bahwa dia tidak bisa mengerti bacaannya kalau tidak dibaca keras-keras.

Di Jepang, ada beberapa sekolah yang menerapkan kelas membaca di pagi hari selain pelajaran membaca yang diperoleh pada jam pelajaran bahasa Jepang. Pelajaran membaca di pagi hari untuk kelas atas (4-6) biasanya adalah membaca dalam hati, dan masing-masing siswa bebas membawa buku bacaannya sendiri. Sementara pelajaran membaca untuk kelas bawah (kelas 2-3) biasanya dengan suara lantang. Dalam pelajaran bahasa Jepang, kegiatan membaca dilakukan dengan berdiri tegak sambil memegang buku sejajar dengan mata, dan membacanya dengan suara lantang.

Cara membaca seperti di atas memiliki nilai-nilai positif yaitu:

1) Melatih anak untuk mengucapkan dengan benar
2) Melatih anak untuk tidak malu-malu mengeluarkan suaranya, walaupun salah bacaannya
3) Terkait di atas, akan timbul kepercayaan diri anak
4) Memudahkan anak untuk mengingat isi bacaan

Adapun nilai negatifnya adalah anak tidak bisa membaca dengan cepat. Untuk sekedar latihan membaca, maka cara membaca dengan keras bisa diterapkan, tetapi jika yang ditekankan adalah pemahaman yang lebih luas, maka membaca dalam hati adalah langkah yang lebih tepat karena tanpa suara, bacaan akan lebih cepat terselesaikan.

Sering saya alami ketika mengajar anak-anak di MA dalam pelajaran bahasa Inggris maupun bahasa Arab, mereka membaca dengan suara yang pelan, dan bolak-balik menatap guru, seakan meminta pertolongan terhadap suatu bacaan yang sulit. Demikian pula sikap ini berimbas pada kemampuan bicara dan mengungkapkan pendapat. Saya kira hal ini lahir karena rasa percaya dirinya tidak dipupuk dengan baik sejak dia duduk di bangku TK/SD.

Jadi, ketika anak sudah menginjak masa dia bisa membaca dengan baik, maka biarkan dia memilih cara belajar/membaca dengan suara keras. Bukankah dengan mendengarkan mereka membaca lantang, orang tua sekaligus dapat mengoreksi betul tidaknya bacaan yang dibacanya?

Biarlah belajar dengan suara keras sekaligus juga meminterkan tetangganya🙂

 

  1. dulu, umur 13 tahun waktu nyantri di Pondok Modern Gontor, kami (mayoritas santri) menghapal dengan suara lantang, misal menghapal hadits, ataupun hapalan2 lainnya. Jadi suara lantang sebetulnya dipakai saat seseorang menghapal bukan membaca, tapi memang sebelum menghapal kita harus membaca dulu, dan biasanya dengan suara lantang, dengan harapan bisa lancar, intinya seseorang bersuara lantang ketika belajar adalah dengan maksud menghapal bukan untuk memahami bacaan, dengan bersuara lantang, menghapal lebih efektif.

    Membaca dalam hati ditujukan untuk memahami bacaan, bila dipakai untuk menghapal, maka kurang efektif.

    kesimpulannya, tujuan apa yang diinginkan siswa atau guru dari membaca, bila tujuannya menghapal, maka pakailah suara lantang, bila tujuannya pemahaman, suasana hening sangat efektif dan dibutuhkan, maka, membaca dalam hatilah yang kita gunakan.
    terima kasih

    Salam Blogger Persahabatan

    http://arebyne.wordpress.com/2012/01/20/pesan-rahasia-si-anak-batu-untuk-siswa-pak-andy/#more-613

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: