murniramli

Mengajar dan Belajar Bahasa

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Tinggi on Januari 7, 2012 at 8:10 pm

Saya bukan lulusan sekolah bahasa atau jurusan bahasa dan sastra, tetapi saya menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Arab, dan tentu saja bahasa Indonesia. Dan beruntung sekali bahwa saya pernah menjadi pengajar bahasa, baik ketika berada di Indonesia maupun di Jepang. Sebelum berangkat ke Jepang, saya mengajar bahasa Inggris dan Arab di Madrasah, dan instruktur bahasa Arab di Pusat Pelatihan Bahasa IPB. Dan ketika tinggal di Jepang, saya mengajarkan bahasa Indonesia di beberapa sekolah bahasa dan juga universitas, atau juga beberapa private lesson yang diminta secara langsung oleh orang Jepang. Selain mengajar, beberapa kali juga saya menjadi penerjemah di lembaga yang menyelenggarakan training pegawai Indonesia yang dikirim ke Jepang, dan terakhir di kelas para perawat dalam program EPA.

Dari semua pengajaran bahasa yang saya pernah dapat dan terapkan, saya kira pengajaran ala lembaga B (sebuah lembaga bahasa internasional yang sudah berusia 130 tahun) adalah metode yang paling susah bagi pengajar, tetapi paling cepat membuat siswa dapat mencapai tujuan belajar (berbicara, menulis, membaca). Ketika pertama kali bergabung di B Jepang pada tahun 2006, saya sama sekali tidak bisa menyatu dengan metode mengajar ala B, sebab textbook  bahasa Indonesia yang diadopsi tidak cocok dengan buku ilustrasi yang dipakai. Sehingga tatkala mempelajari dengan seksama buku panduan mengajar Manual 1 dan 2, saya menemukan banyak kejanggalan. Saya pikir karena bahasa Indonesia di lembaga tsb tergolong bahasa minor, maka kurang mendapat perhatian dari pihak pengelola, sehingga buku yang dipakai asal saja. Beruntunglah supervisor kami adalah orang yang sangat terbuka. Setelah satu semester berjalan, saya mulai dievaluasi. Evaluasi datang dari siswa dan juga semua staf yang berinteraksi dengan saya. Hasilnya baik, tetapi supervisor saya menginginkan kata “sangat baik”, terutama dari siswa. Saya kemudian ditanya, apakah ada ide untuk memperbaiki pengajaran. Maka saya mengutarakan tentang ketidaksesuaian buku ajar dan buku ilustrasi, sehingga sulit untuk menggunakan keduanya. Supervisor mengatakan sebenarnya cabang Tokyo memiliki buku ajar bahasa Indonesia ala B dan juga buku ilustrasi untuk bahasa Indonesia (selama ini kami menggunakan buku ilustrasi bahasa Inggris), tetapi atas pertimbangan guru sebelumnya buku tersebut tidak dipakai. Ketika buku-buku tersebut ditunjukkan, saya langsung mengatakan bahwa buku-buku ini yang cocok untuk metode mengajar ala B. Kami kemudian menggunakan buku-buku tersebut dan menjadikan buku Yasashi Shohou Indonesia Go sebagai buku penunjang saja.

Selanjutnya, tentunya banyak sekali kesulitan dalam proses adaptasi menggunakan buku-buku tersebut, dan apalagi murid-murid orang Jepang adalah orang yang selalu sangat ingin tahu tatabahasa. Ini cukup menyulitkan pengajar karena kami sama sekali tidak diperkenankan menggunakan bahasa Jepang atau bahasa Inggris ketika mengajar bahasa Indonesia. Tetapi, dengan berjalannya waktu, saya sebagai pengajar semakin ahli dalam menggunakan kedua buku, sehingga tidak menemukan masalah yang berarti jika siswa yang diajar pun bersemangat. Tetapi jika siswa sangat sulit membuka mulut, maka harus ada trik baru untuk mendorong mereka agar berani bicara.

Saya sangat salut dengan sistem evaluasi yang dilakukan di lembaga B. Pada saat krisis melanda Jepang, jumlah student berkurang. Saya kira, pihak B kemudian melakukan pendekatan ke banyak perusahaan Jepang yang mempunyai cabang di Indonesia, dan mereka menawarkan konsep baru, pembelajaran yang mengikuti kemauan dan keinginan konsumen. Selama ini belum pernah ada kelas budaya, apabila siswa tidak menghendaki, maka berdasarkan evaluasi siswa, saya kemudian diberi ijin untuk menjelaskan tentang budaya dalam satu kali pertemuan dengan menggunakan bahasa Jepang atau bahasa Inggris (kebanyakan bahasa Jepang), ketika ada siswa-siswa (umumnya direktur) yang menghendaki hal itu. Beberapa siswa juga meminta kepada pengelola agar diberi satu pertemuan untuk membantu memahami manual kerja di pabrik/kantor dalam bahasa Indonesia. Menanggapi hal tersebut, saya bukannya menerjemahkan langsung manual tersebut ke dalam bahasa Jepang, tetapi meminta siswa untuk mencoba menerjemahkannya sendiri di rumah, dan akan saya koreksi dalam pertemuan yang sudah dijadwalkan. Tindakan ini tampaknya efektif karena siswa-siswa menjadi sedikit bertambah perbendaharaan katanya.

Sekalipun langkah di atas menyimpang dari mengajar ala B, tetapi sebuah lembaga bahasa harus mampu melakukan terobosan baru untuk bertahan dan bersaing. Dan saya yakin lembaga ini sudah memenangkan itu, melihat kemampuannya bertahan di tengah krisis ekonomi yang mendera Jepang pada saat itu.

Satu hal yang menjadikan saya bersemangat bekerja di B adalah kepercayaan yang diberikan untuk menyusun Lesson Plan Bahasa Indonesia, dan kesempatan memberikan masukan-masukan pembelajaran. Dengan lesson plan, lembaga dapat menawarkan beberapa course, dari mulai short course hingga long course, dan sekaligus dapat menerangkan kepada siswa sebatas mana kemampuan yang akan dia peroleh berdasarkan course yang dipilihnya. Semula, karena kurangnya penjelasan saya tidak memahami betul pembaharuan yang dilakukan di level pengelola, tetapi barangkali karena minat saya di bidang pendidikan, saya pelan-pelan melihat hal itu sebagai sebuah terobosan mendidik, dan sangat tertarik untuk mengetahuinya. Sekali lagi, saya beruntung mendapatkan supervisor yang mau menjelaskan semuanya dengan detil.

Di tempat kursus yang lain, ada beberapa yang memberikan saya wewenang penuh untuk mengembangkan konsep mengajar, ada juga yang mengharuskan saya untuk mengikuti konsep mengajar yang dimilikinya. Kesemuanya adalah pengalaman yang sangat berarti dan mengasyikkan bagi seorang pengajar karena ada kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh metode mengajar, dan sebagai seseorang yang selalu ingin tahu, bagi saya pengalaman dengan banyak metode tersebut adalah bahan belajar yang mengasah kejelian saya memahami siswa dan menyesuaikan teknik pengajarannya.

Saya pun belum pernah mengikuti kursus penerjemahan bahasa Indonesia-Jepang atau sebaliknya. Tetapi, saya yakin kalau dicoba, pastilah bisa. Maka, atas kebaikan seorang professor di Nanzan Univ, saya diberikan satu naskah artikel ilmiah berbahasa Jepang yang ditulis oleh seorang professor di Tokyo Gakugei Univ, untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Setelah satu artikel selesai dalam waktu dua minggu lebih, artikel berikutnya dari seorang professor di Kyoto Univ, menyusul. Kedua artikel tersebut telah diterbitkan dalam buku Geliat Bahasa Selaras Zaman yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

Menjadi interpreter di lembaga training pekerja juga sebuah pengalaman belajar dan mengajar bahasa yang tidak langsung. Saya kira semua orang yang pernah menjadi interpreter, lama-kelamaan akan menemukan trik penerjemahan yang sesuai dengan dirinya. Dan begitu pula adanya saya. Kemahiran menerjemahkan semakin terasah dengan banyaknya tawaran kerja di bidang ini.

Metode mengajar bahasa yang saya uraikan di atas adalah metode ala kursus. Sementara metode mengajar di universitas tidak bisa disamakan karena ada perbedaan tujuan dan cakupan materi. Kadang-kadang kemampuan bahasa orang yang mengikuti kursus lebih baik daripada yang bertahun-tahun belajar di lembaga pendidikan formal. Bayangkan saja, semua orang telah mempelajari bahasa Inggris di sekolah sejak SMP (dulu) hingga perguruan tinggi, tetapi tidak juga dia pandai berkomunikasi, menulis, dan memahami bacaan dalam bahasa tersebut.

Demikian pula yang saya temukan di kalangan mahasiswa sastra Jepang yang sekarang sedang saya ajar. Mereka sekarang di semester tiga, artinya sudah 1,5 tahun belajar bahasa Jepang. Mahasiswa ekstensi (R2) tentu lebih lama lagi telah belajar bahasa Jepang (mereka dari D3). Kemampuan membaca, menulis, dan berbicara sangat bervariasi, bahkan ada yang seperti orang yang belum pernah belajar bahasa Jepang.

Katanya, belajar bahasa adalah bakat-bakatan. Ada orang yang termasuk cepat dalam belajar, dan ada orang yang sekalipun sudah belajar lama, tetap tidak bisa. Saya pikir bukan karena bakat, tetapi kepesatan seseorang belajar tergantung pada kesadarannya terhadap tujuan belajar. Saya sudah menghadapi ratusan murid yang belajar bahasa dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Dari mereka, saya dapat menyimpulkan bahwa belajar bahasa bukan karena bakat, tetapi lebih didasari pada kepentingan belajar, untuk keperluan apa dia belajar, alasan apa dia mempelajari bahasa tersebut. Beberapa orang murid yang saya pernah ajar benar-benar sulit menyerap ilmu yang diajarkan. Apa yang diajarkan lima menit yang lalu, segera terlupakan dengan berubahnya subjek pembicaraan. Tetapi, saya juga mendapati mereka berhasil melewati/mengatasi itu dengan semangat tinggi yang muncul karena kesadaran pentingnya atau bergunanya bahasa yang sedang dipelajarinya ketika dia bertugas di Indonesia.

Para mahasiswa atau siswa-siswa di sekolah yang dijejali dengan pelajaran bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya tidak memahami mengapa mereka harus belajar itu. Apa tujuannya dan apa manfaatnya, sama sekali belum dipahami dengan akal dan jiwa. Mereka hanya tahu bahwa itu adalah mapel atau mata kuliah wajib. Kalau hanya dipahami sebatas itu, maka tujuan belajar hanyalah sebuah informasi dan bukan pemahaman. Tetapi kalau pemahaman dibarengi dengan pemahaman jiwa, maka tentulah dia mengerti apa langkah-langkah untuk menguasai bahasa tersebut.

Ketika saya belajar bahasa Arab, saya sangat cepat menguasainya karena tujuan belajar kami pada waktu itu adalah kemampuan membaca kitab Arab gundul. Demikian pula saat enam bulan belajar bahasa Jepang di Nagoya Univ, kemampuan berbahasa saya berkembang sangat cepat, karena saya menyadari (atau bahkan ketakutan) bahwa saya akan berhadapan dengan perkuliahan yang semuanya berbahasa Jepang. Seandainya, ada kuliah yang disampaikan dalam bahasa Inggris di fakultas pendidikan Nagoya Univ, maka tentulah saya akan mengandalkan bahasa Inggris, dan pasti akan mengendorkan semangat belajar bahasa Jepang saya.

Pelajaran bahasa menurut saya harus menekankan pada dua aspek, yaitu bahasa sebagai skill dan bahasa sebagai ilmu. Bahasa sebagai sebuah skill berarti bahasa adalah alat untuk memahami ilmu, sehingga dia dipelajari untuk mendalami ilmu-ilmu yang tertulis dalam bahasa tersebut. Bahasa sebagai ilmu bermakna yang ditekankan adalah kajian dalam bahasa tersebut untuk memahami asal-usul kata, istilah, bentuk-bentuk kata, morfologi, ilmu semantiknya, termasuk keindahannya (sastra). Lalu, apakah kedua komponen ini ditekankan di lembaga pendidikan formal?

Pelajaran bahasa di level SD, SMP dan SMA bertujuan untuk membentuk skill berbahasa. Oleh karena itu, tidak terlalu ditekankan kajian bahasa dan sastra yang njlimet, tetapi tujuan utamanya adalah kemampuan berbahasa yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk berkomunikasi, menulis, dan membaca. Atau dengan kata lain, tujuannya adalah untuk membantu siswa mendalami ilmu.

Adapun di level perguruan tinggi, seharusnya lebih cenderung pada ilmu. Sebagai contoh, Jurusan Sastra dan Bahasa  Asing semestinya menekankan pada aspek keilmuan, dan tidak lagi pada tataran kemampuan berbahasa. Namun, adalah fakta bahwa yang mahasiswa yang memilih kuliah di Jurusan Bahasa Asing  belum mempunyai pengalaman belajar bahasa tersebut di level pendidikan sebelumnya. Oleh karena itu, tujuan pelajaran bahasa di tingkat-tingkat awal harus disesuaikan, yaitu bukan pada tataran bahasa sebagai ilmu, tetapi bahasa sebagai skill.

Jika berbicara tentang kemampuan atau skill, maka ada penjenjangan, misalnya basic, intermediate, dan advance. Jadi, apabila S1 berlangsung selama 4 tahun, dan selama masa pendidikan tersebut dirancang dengan komposisi dua tahun belajar dengan penekanan bahasa sebagai skill, dan dua tahun belajar dengan penekanan bahasa sebagai ilmu (termasuk sastra dan budaya), maka setelah belajar dua tahun, semestinya mahasiswa sudah bisa berkomunikasi, membaca, dan menulis dengan baik. Dua tahun pertama kemampuan bahasa level intermediate bisa tercapai apabila ada program dan metode pengajaran yang tepat. Tahun ketiga ditargetkan menguasai level advance awal. Namun, pada kenyataannya hal ini sulit diwujudkan, karena masih ada beberapa mata kuliah lain yang harus diajarkan pada tingkat awal (1 dan 2).

Seandainya pada tingkat 1 dan 2 difokuskan pada pelajaran bahasa saja, dan hanya ada satu tambahan mata kuliah non bahasa, maka ada kemungkinan akselerasi kemampuan berbahasa lebih dapat tercapai. Semestinya demikian, sebab jika dibandingkan dengan kursus, dengan intensitas belajar sekali seminggu, selama tiga bulan, kemampuan bahasa Jepang level basic bisa dikuasai.

Memang pembicaraan tentang kurikulum pendidikan tinggi tidak semudah analisa di atas. Setiap lembaga harus jitu dalam merumuskan dan senantiasa melakukan evaluasi berdasarkan kemajuan belajar mahasiswa. Terobosan metode mengajar juga perlu dilakukan untuk mendorong percepatan kemampuan bahasa peserta didik.

Apabila peserta didik telah memiliki level bahasa intermediate, barulah konsentrasi peminatan dapat diterapkan, dan dengan tetap berprinsip bahwa semua mata kuliah menunjang kemampuan berkomunikasi dalam bahasa bersangkutan, maka tentunya perlu upaya mengantarkan mata kuliah tersebut dalam bahasa tersebut. Dengan berdasarkan pemikiran inilah, saya memutuskan memberikan mata kuliah Nihon Jijou dan Nihon Bunka Nyuumon dalam bahasa Jepang. Namun, karena mata kuliah ini ditempatkan pada semester tiga, maka saya merasakan (juga mahasiswa) kesulitan ketika mempelajari ini dalam bahasa Jepang. Akhirnya metode belajar diubah, dengan mempergunakan bahasa Indonesia sedikit, untuk membantu pemahaman materi. Lebih sayang lagi, karena saya merasa gagal mengajak mahasiswa untuk termotivasi meningkatkan kemampuan bahasa mereka melalui mata kuliah ini.

Mata kuliah lain yang dapat berjalan dengan pengantar bahasa Jepang adalah Project Work. Saya kira hal ini bisa tercapai karena mahasiswa sudah berpengalaman menggunakan bahasa Jepang (kuliah lebih dari 4 tahun pasca D3, dan sudah praktek mengajar). Sekalipun kadang kala mahasiswa merasa putus asa mencari kosa kata yang tepat dan meminta ijin menggunakan bahasa Indonesia. Seandainya, lebih banyak kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menggunakan bahasa Jepangnya, saya yakin mereka akan terbiasa menemukan pola-pola sederhana dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya.

Kemampuan berbahasa tidak hanya tercipta dari buku ajar yang bagus, dosen/pengajar yang memiliki pendekatan belajar yang efektif, tetapi juga sangat tergantung pada semangat dan kesadaran orang yang belajar, kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut, baik yang diciptakan oleh dosen ataupun si mahasiswa sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: