murniramli

Menyontek = Penyakit

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Januari 13, 2012 at 1:50 pm

Mengapa banyak siswa/mahasiswa sering menyontek? Barangkali sudah ada penelitian yang dilakukan oleh para psikolog tentang alasan menyontek, dan mampu menemukan solusi/pendekatan untuk menghilangkan kebiasaan menyontek.

Kalau ditanyakan kepada para siswa/mahasiswa, mengapa mereka menyontek? Alasan utamanya adalah ketakutan dapat nilai jelek.Mengapa takut? Kalau dapat nilai jelek, ayah-ibu akan marah. Kalau dapat nilai jelek,  malu pada teman-teman. Tetapi, kenapa tidak malu menyontek?

Dari pengalaman menjadi dosen di dua negara, saya belum pernah menemukan mahasiswa Jepang yang menyontek. Tetapi, dari pengalaman mengajar mahasiswa di Indonesia, saya kadang putus asa menegur mereka yang masih sering tengok kiri kanan. Ada banyak mahasiswa yang melakukan tindakan memalukan ini, bahkan di antara mahasiswa yang sekarang saya ajari. Menyontek tidak pandang umur, kadang-kadang saya malu menegur mahasiswa yang sejatinya adalah guru di sekolah atau karyawan di perusahaan jika mereka menyontek.

Ada mahasiswa yang bahkan sengaja memberikan contekan. Ini barangkali cerminan sikap pemurah yang salah dimaknai oleh orang Indonesia. Mahasiswa yang menyontek di kelas memang tidak saya keluarkan, tetapi saya punya hak mengurangi nilai mereka. Hari ini saya agak kerepotan karena pada awal ujian, saya harus mengawasi dua kelas yang bersamaan waktu ujiannya. Maka, saya meminta kepada mahasiswa untuk yakin pada diri sendiri, jangan menyontek, karena itu adalah pekerjaan yang dilaknat🙂. Dan syukurlah mahasiswa sangat tertib, meskipun ada satu dua orang yang masih juga toleh sana-sini, melihat kertas jawaban temannya.

Saya dulu juga pernah menyontek (ketika duduk di bangku SD), tetapi akhirnya saya akhiri karena pada akhirnya saya sangat senang belajar, dan nyaris mendapatkan nilai seratus dalam setiap ulangan. Maksudnya, saya akhirnya merasa tidak perlu melirik seperti apa pekerjaan teman, sebab kadang saya terlalu asyik menulis jawaban. Saking kuatnya hafalan saya ketika itu (alhamdulillah), saya sampai-sampai bisa menyelesaikan ulangan dalam waktu yang sangat cepat. Tetapi jangan ditanya sekarang ini, kemampuan mengingat saya sudah melemah🙂

Lalu, mengapa mahasiswa menyontek?

Mahasiswa kita tampaknya mengidap penyakit minder yang berlebihan, kurang percaya diri, dan tidak menghargai proses, mengutamakan hasil saja. Lalu, kenapa mahasiswa bisa mengidap penyakit seperti ini? Penyakit ini bukan penyakit yang tiba-tiba muncul karena perubahan cuaca atau karena serangan bakteri/virus tertentu. Penyakit ini seperti penyakit darah tinggi yang sulit disembuhkan.

Sistem pendidikan di tanah air adalah sistem pendidikan yang mengutamakan hasil akhir. Buktinya? Pemerintah hanya menggembar-gemborkan segelintir anak yang berprestasi di dunia kompetisi. Tetapi jarang sekali mengangkat kisah anak yang berjuang untuk menjadi pintar. Sekolah pun akhirnya mengekor. Yang dipajang dan selalu diceritakan kepada tamu-tamu adalah piala-piala yang menghiasi lemari di ruang kepsek. Sekolah tidak pernah mengekspose anak yang berubah perilakunya menjadi santun setelah menjadi murid di sekolah tersebut, kalau si anak tidak menunjukkan prestasi belajar (rangking) pertama. Sementara, di tingkat kodya/kabupaten dan provinsi, yang selalu digembar-gemborkan adalah nilai UAN tertinggi, angka kelulusan, dan rangking sekolah.

Apa akibat orientasi pendidikan seperti itu? Yang ada di kepala anak-anak hanyalah keharusan mendapatkan nilai bagus/tinggi bagaimanapun caranya. Kadang kala, orang tua, guru ataupun dosen “membuka jalan kepada mereka” dengan mengatakan, “Apapun caranya, ibu nggak mau tahu! Kamu harus mengumpulkan laporan tsb, kamu harus dapat nilai bagus…bla…bla”. Alhasil siswa/mahasiswa mempraktekkan teorinya Machiavelli, yaitu gunakan segala cara untuk meraih kesuksesan.

Model soal dalam ujian juga kemungkinan menjadi penyebab mahasiswa menyontek. Saat ini sudah jarang sekali ujian diberikan dalam bentuk multiple choice. Banyak pertanyaan ujian yang dibuat dalam bentuk jawaban essay, sehingga cukup menyulitkan mahasiswa untuk menyontek. Tetapi memang tidak bisa menjadi jaminan, sebab dalam beberapa kali ujian yang saya selenggarakan, sekalipun saya sudah membuat ujian essay, masih saja ada mahasiswa yang menyontek.

Barangkali ke depan perlu dikembangkan sistem ujian lisan🙂 Sangat tidak mungkin mereka menyontek jika sistem ujian adalah ujian lisan. Kendala terbesar memang akan dihadapi apabila jumlah mahasiswa peserta lebih dari 20 orang. Ujian dalam bentuk laporan/take home test, juga tidak malah mencegah mahasiswa menyontek. Dengan kecanggihan IT, mereka dengan mudah mengcopy paste tulisan di internet. Bahkan pernah ada mahasiswa yang menjawab PR yang saya berikan dengan menuliskan link yang harus diakses.  Bukannya mengkritisi isi tulisan dalam situs tertentu, mereka malahan memblok satu tulisan dan menjadikannya sebagai jawaban. Saya pasti akan memberi nilai nol kepada mahasiswa yang menggunakan teknik ini.

Saya ingin mahasiswa memiliki rasa percaya diri, baik di kalangan teman-temannya, maupun jika kelak dia berada di lingkungan orang asing. Sebab kalau sudah tidak ada rasa percaya pada diri sendiri, siapatah lagi yang akan mempercayai Anda🙂

  1. Ya, benar atas apa yang anda ulas, saya pun termasuk korban kebiasaan tersebut, tapi alhamdulillah, sejak semangat saya timbul saya tidak pernah lagi berniat untuk mencontek.

  2. ya . . . barangkali karena (kultur) 7 ciri guru disukai murid :
    nyontek mbulat bundar mbulet dari : http://gurukreatif.wordpress.com/

    1. Menghormati siswa dan tidak membuat mereka runtuh mentalnya dengan perkataan yang negatif dan memojokkan.
    guru sosok pembimbing/pengasuh /pamong bukan bersifat instruktur melihat hitam-putih persoalan {spt. tertera di point 1 atas] ;

    2. Melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Tentunya anda punya hak perogratif sebagai guru, namun melibatkan mereka boleh juga sebagai cara untuk membagi kewenangan dan mempermudah tugas anda dalam mengendalikan mereka dikelas.
    usai dibimbing/diasuh/diemong, tentu ada “serapan” informasi baru diperoleh, itu perlu dilakukan uji coba keberanian/tumbuhkan percaya diri dalam hati buah asuhannya… tu’ cheq & recheq sejauh mana daya tangkap & nalar si receiver {lancar atau ada derau/noise.. karna apa?}

    3. Mendengarkan mereka saat mereka berbicara pada anda. Tidak berteriak marah jika mereka berbuat sesuatu yang mungkin menurut anda adalah sebuah kesalahan.
    sebentuk ekspresi dari point 2 lebih tinggi tingkatnya, dari perbuatan diubah menjadi verbal {banyak siswa disini alami kesulitan, ungkap “ide/ kemauan” di dalam otak/hati mereka untuk dikomunikasikan kepada orang lain lewat verbal… [cara hilangkan bagaimana ya…? biasa diidap kaum pekerja teknokrat = banyak kerja tanpa cakap, bukannya birokrat apalagi administrator = banyak cakap tanpa kerja/pembual ulung]

    4. Adil, mudah diajak berkomunikasi, selalu ada saat mereka membutuhkan, selalu mendukung.
    menjadi ortu SIAGA nih, siap antar jaga ; sahabat/sobat setia = ing madyo mangun karso

    5. Saat mengajar tidak tegang, dan melakukan pembelajaran yang menyenangkan dengan berbagai macam cara dan metode.
    kalau ini sih pembawaan lahir, susah diubah, terkecuali mereka mau dan berani berkorban ; karna KETEGANGAN itu= kenikmatan–> dibilang berwibawa ;
    MENYENANGKAN?—> wah bisa kurang ajar tak terkendali tuh siswa, dan tak siap kendali, apa kata rekan di Ruang Guru bagaimana nanti….?
    BERMACAM CARA & METODE?—> ini butuh MODAL kreatifitas & intelektual luas kalau pas-2an bagaimana… kan bisa-2 kamu ketahuan….?!?! ;
    biaya & harus kepada siapa peroleh akses informasi? ;
    kebo kabotan sungu = beban setumpuk, duit sejumput, masih dituntut cam-macam pula… apa’an tuh maunya?? enak aza.. bagi rajin bikin policy, sing ngelakoni policy, mbingungi rek!

    6. Jelas, saat menerangkan sesuatu dikelas kepada mereka, artinya memang tidak mudah berbicara dalam bahasa mereka. Namun ketahuilah lebih berat untuk mereka untuk memahami anda dibandingkan sebaliknya.
    tersurat & tersirat diatas jujur harus DIPAHAMI oleh si PENYAMPAI pesan dan memang benar demikian adanya. Adalah sungguh kelewatan banget, kalau sampai mengatakan si murid “dobog=goblog” gara-2 tak paham apa diomongkan guru= dia pasti dan belum membaca dan menyelami blog ini [khususon poin 6) periode intelektual {oemoemnya lho] periode S1 ; sama bingungnya
    periode S2 : sombongkan ilmu dipunyai jadi bahan Trade Mark, semakin sulit, semakin membanggakan [sok penguasa / pakar ilmu itu banget ngaten lo]
    periode S3 ; temukan & mengurai titik kesulitan periode sebelumnya kemudian “pahami & ngerti” bangets kesulitan dihadapi juniornya….

    7. Jangan menyerah terhadap mereka. Ada banyak film yang menjelaska menganai hal ini salah satunya film Dangerous Minds. Mudah-mudahan anda pernah menontonnya.
    Sosok Guru = Ki Dalang, gak bakalan kehilangan Lakon/Akal melawan muridna itu pakemnya demikian, karena dari segi sisi usia, kehadiran dan makan asam garam dunia > senior dbanding muridnya, bukan begitu? filmnya sampun diterjemahkan ke bahasa ibu kah, sehingga ayas gampang meres sapi? matur nuwun sanget tulisanipun sae lan guyon parikeno…

    8. pangapunten mohon maaf . . . (meragukan) menjaga amanah/percaya/ Al Amin, lha wong ujian wae nyontek (di haramkan, titik! tanpa di berikan therapi ora dhemen njaplak/nyontek, pokoke waton njeplak, sanksi hukuman menanti Anda nek ketemon! iyo opo ora, diakui / tidak sudah ada peraturan menjelaskan!) , ini mengawasi murid ujian apa sipir menahan malink?!?!

    9. dialogis antara dunia hasrat pemikiran pemahaman dunia guru dengan wujud karsa itu di terjemahkan dan di rasakan oleh murid nakal+mbethik-e ora djamak . . .
    pangapunten mbakyu Guru Murni Ramli . . ., juga minjem+memasarkan tulisanmoe lho = nyontek ya..wis ngaku dan ampuni lah murid nakalmoe ini..guru, masih dikasih e-nol kah?

  3. maaf mau ijin untuk share boleh?

  4. Bener sekali gan bahwa menyontek adalah penyakit dan perlu ditanam pada siswa dan murid agar tidak selalu menyontek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: