murniramli

Tukang Sayur Menuntut Keadilan

In Renungan, Serba-serbi Indonesia on Januari 14, 2012 at 1:37 am

Badannya kecil, tak sebanding dengan besarnya gerobak sayur yang harus didorongnya. Setiap hari perempuan tukang sayur itu berteriak lantang, “yur….sayur…..sayur buu…Kadang-kadang dia hanya menaruh seiket sayur bayam atau tauge yang dipesan ibu, di atas tembok pagar. Dia tidak pernah libur seingat saya. Sama seperti hari Sabtu ini, dia tetap berteriak lantang, yur…sayuur.

Kemarin, saya menjejeri langkahnya tatkala berangkat menuju tempat pemberhentian angkot di dekat komplek. Jalan yang harus kami lalui cukup mendaki dan berbatu. Tak mudah melewatkan gerobak di atasnya. Saya saja yang menggendong ransel yang maha berat merasa semakin bungkuk, apalagi ibu tukang sayur yang mendorong gerobaknya. Dia tersenyum dan saya tersenyum, kami sama-sama melewati jalan berbatu mendaki dalam keadaan membisu, karena suara tak mampu mendahului nafas yang terengah. Saya lirik jualannya, masih banyak yang tersisa. Entah, ke mana dia akan menjajakannya lagi. Di akhir jalan mendaki, dia berhenti sambil berkata, capek… Sayapun pamit mendahului jalannya.

Tukang sayur seperti si ibu tidak hanya satu di negeri ini. Mereka barangkali ribuan jumlahnya. Dalam teori pekerja, mereka adalah pekerja keras yang tidak kenal menyerah. Sekalipun untung yang didapatnya dari menjual sayur dan ikan hanya 200-500 rupiah saja, dia tidak pernah putus asa mendorong gerobaknya. Dia juga tak pernah putus menyebar senyum dan merayu ibu-ibu agar membeli sayurnya. Tapi tak jarang, ibu-ibu yang tidak mengerti betapa sulitnya ibu tukang sayur memperoleh 1 rupiah setiap harinya, menawar barang dagangan yang sudah demikian murah.Teman dosen saya bercerita tentang guyonan penjual sayur dan pembelinya. Suatu kali di tahun 1976-an, ketika harga sayur bayam masih 100 rupiah per ikat, ada seorang ibu yang menawar kepada tukang sayur yang biasa lewat di komplek. Si tukang sayur dengan nada tinggi berkata, “Ibu, kalau tidak bisa beli dengan harga seratus, ini saya pinjamkan uangnya. Atau saya kasih ibu 100 rupiah, silakan ibu tanam bayam sendiri !”

Banyak sekali orang yang tidak menghargai tenaga orang bekerja. Termasuk para petinggi yang dengan sengaja atau tidak, menyetujui gaji yang rendah bagi para guru/dosen honorer yang sudah bekerja banting tulang, dan sebaliknya mengamini gaji besar untuk pejabat kampus yang kebanyakan hanya duduk dan tanda-tangan, atau melebihbesarkan gaji pegawai administrasi yang hanya mengerjakan pekerjaan rutin. Setiap kali saya berkata seperti ini, pasti saja ada teman yang mengatakan semuanya harus disyukuri. Itu adalah rizkiNya. Saya ingin berteriak, siapa yang tidak mensyukuriNya? Apakah bapak-ibu tahu apa makna bersyukur itu?

Atas rizki yang Allah berikan kepada kami,hambaNya, tidaklah pernah kami nafikan. Tetaplah dikeluarkan hak orang lain di dalamnya, tetaplah dipakai untuk jalan kebajikan, bukan kemaksiatan. Tetaplah dikirimkan untuk handai taulan yang menanti-nanti bagiannya, tetaplah terucapkan terima kasih dan puji-pujian kepadaNya atas pemberiannya yang penuh keberkahan.

Saya dan teman-teman yang memprotes penghargaan kepada guru/dosen honorer yang sangat tidak manusiawi, barangkali sama dengan tukang sayur di atas. Ingin berteriak, “Ini honor kami, silakan Anda pakai untuk mengajar dan membimbing mahasiswa-mahasiswa itu, sama seperti kami membimbing mereka, dan kita lihat apakah bapak ibu bisa bertahan”.

Kami tetap meyakini bahwa Yang Di Atas tidak pernah tidur, dan senantiasa melimpahkan kasih sayangNya kepada orang yang didzolimi. Tetapi, kami hanya terlalu sedih dan sesak, mengapa mereka yang juga sama dengan kami, terbuat dari tanah dan akan kembali ke tanah, tidak bisa berlaku adil dan juga mengasihi sesamanya?

  1. ya begitulah hidup dinegeri dongeng ya. ketika kita memberitahukan kelayakan hidup, mulut kita disumpal dengan bahasa agama, “ikhlas, disyukuri, sabar” dah akhirnya kita malu bila protes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: