murniramli

Agar Penelitian Semakin Bergairah : Kembangkan Pusat Studi

In Manajemen Pendidikan, Organizational Learning, Pendidikan Jepang, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Januari 15, 2012 at 11:22 am

Penelitian di berbagai PTN di negara kita masih belum terlalu terdengar gaungnya. Baik implementasinya di masyarakat, maupun penyebaran informasinya melalui jurnal ilmiah atau buku.Menurut Indonesian Scientific Journal Database, hingga Mei 2011 terdapat kurang lebih 7000 jurnal yang mendaftarkan diri, dan 4000 jurnal yang rutin mengirimkan terbitan, dan 5100 jurnal yang dapat diakses online. Dari total tersebut, yang sudah diakreditasi oleh DIKTI bisa dihitung dengan jari. Sebanyak 4000 guru besar yang sudah dilantik di tanah air, dan sesuai dengan UU No 14 Tahun 2005 Pasal 49, seorang guru besar harus menghasilkan karya ilmiah dan buku. Memang tidak dituliskan periode atau rentang waktu penulisan, dan tampaknya pasal ini masih diabaikan, karena barangkali sekalipun wajib, tidak ada sanksi yang mengikutinya.

Tentunya perlu diadakan penelitian untuk mengetahui di mana kendalanya, mengapa banyak guru besar dan doktor yang tidak produktif meneliti, dan  mengapa mereka pun tidak produktif menulis karya ilmiah atau buku? Apakah karena beban mengajar cukup besar, ataukah kegiatan mengisi seminar dan lokakarya membuat mereka kehabisan waktu, ataukah kesibukan mereka sebagai pakar/tenaga ahli yang dipakai oleh pemerintah sungguh menyita waktu? Saya kira tidak terlalu sulit untuk mendata dan melacak aktivitas ke-4000 guru besar, lalu kemudian menganalisa di mana letak ketidakbisaan tersebut.

Tidak perlu menunggu dana dari pemerintah untuk menyelenggarakan penelitian dan survey guru besar dan doktor di setiap universitas, setiap universitas yang benar-benar ingin maju secara akademik dan riset, harus berani mengambil langkah ini. Yang penting ada komitmen dan keinginan untuk maju, serta berada pada garda anti kemapanan.

Salah satu langkah mendorong para dosen untuk bergiat dalam penelitian adalah mengembangkan pusat studi, tempat para dosen mengasah ilmu dan kepakarannya, melalui kegiatan penelitian dan diskusi ilmiah, serta penulisan karya ilmiah. Pusat Studi di universitas tergolong minim, karena selalu terbentur pada pendanaan dan kemauan. Kalau tidak ada kucuran dana dari universitas, maka sulit memulainya. Semuanya selalu menunggu SK turun, sebelum mulai bergerak. Parahnya lagi, SK sudah turun, tetapi kegiatan tidak segera dimulai.

Saya ingin membagi pengalaman tentang pusat studi di universitas di Jepang yang saya ketahui. Saya bersinggungan pertama kali dengan Pusat Studi Pendidikan yang dikembangkan oleh Teacher Union. Mereka tidak didanai pemerintah, dan awalnya berdiri karena ada beberapa guru yang menyukai penelitian. Setelah melakukan beberapa aktivitas, Teacher Union mengakuisisinya, dan pihak pemerintah juga mengembangkan Pusat Studi Pendidikan di daerah.Sama juga cerita Pusat Studi Pendidikan Tinggi di Nagoya University. Ini juga berkembang dari kumpulan dosen yang mempunyai arah dan tema penelitian yang sama. Semula tidak ada pendanaan dari universitas, mereka hanya bergerak didasari atas keinginan untuk mengembangkan keilmuwan dan tentu saja kebijakan pemerintah Jepang yang hendak mempromosikan bidang riset dan teknologi di Jepang. Memang ada juga Pusat Studi yang dibentuk atas inisiatif universitas, tetapi umumnya pola yang berkembang adalah inisiasi dari dosen.

Lalu, bagaimana mengembangkan Pusat Studi di perguruan tinggi di tanah air? Barangkali langkah-langkah berikut ini dapat ditempuh :

Jika kita dosen reformer :

1) Mulai dengan memetakan dosen dan bidang keilmuan/penelitiannya.

2) Ajak dosen untuk berbicara informal (kalau perlu saat makan siang, karena orang yang makan tidak sempat marah atau tersinggung, dan tentunya lebih santai). Isi pembicaraan adalah merencanakan pendirian pusat studi, atau mungkin diawali dengan kegiatan penelitian bersama.

3) Jika sudah ada 3-4 orang yang berkomitmen, maka pusat studi bisa diinisiasi dengan meminta SK Dekan.

4) Kalau sudah ada SK, maka secara legal, kita bisa bebas beraktivitas. Jika tidak ada dana dari fakultas, maka harus rela menyisihkan uang dari kantong pribadi atau membuat kesepakatan antaranggota untuk menyisihkan sekian persen dari nilai proyek penelitian yang didapatnya, untuk pusat studi.

5) Untuk membantu berkembangnya kegiatan, kita perlu menjajagi kerjasama dengan pusat studi serupa di universitas di luar negeri.

6) Jangan bosan mengirim proposal penelitian yang didanai pihak asing, karena biasanya nilainya besar.

7) Uang yang diperoleh dari hasil penelitian bukan untuk menggemukkan kantong pribadi, tetapi untuk mengembangkan lembaga. Karenanya perlu kerelaan, dan orang-orang yang mata duitan tidak layak diajak bergabung, kecuali kalau dia mau mengubah tabiatnya.

8) Lalu, apakah tidak ada fee yang masuk untuk pengelola? Itu bisa diatur dengan kesepakatan bersama, misalnya dari dana proyek, seminar, lokakarya, kerjasama, berapa persen yang harus disetorkan ke lembaga, dan berapa persen menjadi uang saku anggota. Semestinya, anggota tidak usah meminta fee lagi, karena dengan kegiatan proyek yang didapat, dia secara otomatis sudah mendapatkan fee.

9) Jangan berputus asa untuk mengembangkan lembaga dengan merekrut dan mengajak dosen-dosen yang terkait untuk terlibat.

10) Kembangkan kerjasama dengan univeristas dalam negeri, instansi pemerintah dan swasta.

11) Selalu rutin menyusun publikasi pusat studi. Selain mengembangkan publikasi ke Jurnal Nasional dan Internasional, pusat studi juga perlu merilis buku laporan kegiatan yang dapat dikonsumsi semua pihak (dijual juga boleh).

12) Publikasi ke Jurnal hendaknya mencantumkan nama-nama peneliti terkait di pusat studi. Tidak bisa semuanya dimasukkan, hanya orang-orang yang namanya diusulkan dalam proyek.

13) Dalam kegiatan penelitian bersama, kembangkan pembagian tugas penelitian yang merata. Usahakan bukan hanya pimpinan proyek yang bekerja keras, sementara anggotanya santai-santai, atau sebaliknya, pimpinan proyek ongkang-ongkang kaki, dan anggota banting tulang.

14) Rencana Kegiatan Tahunan harus disusun pada awal tahun. Salah satunya adalah rencana melakukan penelitian ke luar negeri dengan model kerjasama penelitian dengan rekan sesama bidang kajian. Juga, mendaftarkan diri sebagai anggota masyarakat keilmuan level internasional. Jika terdaftar sebagai member, maka akan selalu ada dorongan untuk terus meneliti karena implikasi dari keanggotaan adalah selain pembayaran iuran, juga kewajiban mempresentasikan hasil penelitian atau men-submit-nya ke jurnal asosiasi keilmuan.

Saya sangat meyakini apabila sudah berkembang pusat-pusat studi di institusi pendidikan tinggi, akan semakin mudah bagi dosen untuk menulis, karena sudah ada bahan yang harus ditulisnya. Masalah ketidakmampuan berbahasa Inggris (untuk mengakses jurnal internasional) di jaman yang sudah sangat modern ini, bukan lagi masalah. Banyak jasa translator yang menawarkannya, atau jika enggan mengeluarkan uang untuk mereka, rekan-rekan dosen yang mahir berbahasa Inggris dapat diajak bergabung sebagai konsultan bahasa, sembari kita juga memacu diri untuk menguasai bahasa asing.

Banyak dosen senior yang merasa sudah tua atau mendekati pensiun dan merasa tidak cocok lagi untuk terlibat. Saya kira, keilmuwan seseorang hanya berhenti berkembang saat kematian menjemputnya, maka dosen-dosen senior dan sudah pensiun perlu tetap diajak bergabung, baik sebagai penasehat atau peneliti senior.

Banyak pula dosen muda yang enggan terlibat karena masih belum cukup pengalaman. Para pengelola pusat studi harus berpikir senantiasa pada pengkaderan. Karenanya perlu mengajak orang muda atau mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas pusat studi.

 

 

 

 

 

 

  1. saya sempet bikin penelitian tindakan kelas, tapi gak tahu cara pengajuannya ke lpmp, apa hanya jadi arsip pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: