murniramli

Etika dan Etos Kerja Tenaga Administrasi

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Februari 2, 2012 at 11:03 am

Saya memutuskan untuk menghapus tulisan ini, sekalipun judul tetap saya pertahankan. Karena sekalipun isinya adalah rangkuman dari pengalaman sendiri, cerita rekan dosen, dan mahasiswa, tetapi saya pikir barangkali saya telah menuliskan dari sisi yang tidak berimbang. Sehingga  staf yang yang memang unggul, etis, tidak melakukan tindakan amoral, tidak ngerumpi sembarangan di kantor merasa tersinggung dengan penyorotan sisi negatif. Saya tidak menyenangi hal-hal yang menimbulkan polemik dari apa yang saya tulis, sekalipun kadang-kadang ini tidak bisa terhindari.

Banyak yang merasa tidak pas jika dibandingkan dengan Jepang, sekalipun sebenarnya kita sama-sama manusia dunia, bahkan seharusnya kita lebih baik karena kita beragama. Tetapi tampaknya agama tidak bisa dijadikan tolok ukur. Apa yang saya ceritakan tentang etika dan etos kerja di Jepang adalah kenyataan yang saya alami, dan saya berusaha mengikutinya karena memahami itu adalah baik. Tetapi tampaknya masih sulit diterima sebagai sebuah bahan pembelajaran.

Judgement yang bernuansa satu sisi dengan melihat kondisi negatif saja dari etika dan etos kerja yang saya temui di lapangan, adalah hal yang manusiawi. Sengaja saya angkat, dan menyodorkan contoh etos kerja Jepang yang lebih maju, semata demi mengambil usroh/pelajaran.

Banyak komentar yang tersaring dalam kotak SPAM blog ini. Saya sudah membacanya dan menerimanya sebagai masukan yang berharga. Terima kasih atas masukannya, dan mohon maaf saya tidak publish untuk menghindari polemik. Sekali lagi, pihak-pihak yang merasa tidak terkena atau tidak melakukan apa yang saya sampaikan dalam tulisan tsb, mohon untuk tidak tersinggung.

  1. Knpa Buuuu,,,rangkuman apa pitnahhhh……………anda itu dari sekian ratus karyawan dan dosen saya jamin tidak sampai jari2 saya yg kenal anda…yg kenal dari deppest heart palinggggg gak ‘da………maap ya bu ..SAYA HARAP IBU MINTA MAAF KE SEGENAP DOSEN DAN KARYAWAN (terutama ) yg dideskreditkan ibu………….baik di blog ini atau tertulis dan lebih baik terbuka di suatu forum biar tahu siapa ibu dan KAMI…………

    • @Mas/Mba Louder :
      Saya mencoba mengirim email kepada Anda, tetapi alamat email Anda ternyata tidak terdeteksi. Terima kasih atas komentar Anda di blog ini. Saya mohon bantuan Anda, bisakah Anda menyebutkan nama dan di mana saya bisa menemui Anda ? Jika saya bersalah pada Anda, atau Anda termasuk Pak Satpam yang telah saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya, saya ingin menemui Anda langsung, sebelum saya meninggalkan Semarang dan juga sebelum saya meninggal….
      Dalam tulisan sebelumnya, kasus yang saya angkat adalah kasus Pak Satpam, tidak ada kaitannya dengan dosen ataupun karyawan lainnya. Lalu, yang mana yang Anda maksud dengan dosen dan karyawan?
      Kalau Anda menyebut saya tidak terkenal, Mas/Mba Louder, saya yakin pasti Anda lebih terkenal daripada saya. Saya baru bergabung dan hanya sebagai dosen luar biasa. Lalu, apakah dengan status itu, saya tidak boleh bebas menyampaikan apa yang menimpa saya?

      Yang mengenal saya dengan baik hanya teman-teman di PUSAT STUDI ASIA UNDIP, dan baru-baru ini saya membantu-bantu di International Office, jadi mungkin sedikit dan belum sampai hitungan jari yg mengenal saya, Mba/Mas. Anda akan termasuk yang mau berkenalan dengan saya barangkali….saya akan sangat senang ! Tetapi….sudahlah saya tidak perlu dikenal from the deepest heart, seperti kata Anda, kecuali kalau ada peraturan yang mewajibkan pegawai UNDIP demikian🙂

      Jadi, Mas/Mba Louder….silakan kirim alamat email atau no HP Anda ke email saya, alamat email saya ada di bagian HOME.

      Sekali lagi mohon maaf kalau saya telah menyinggung Anda, dan terima kasih atas masukannya.

      • halo Ibu Murni Ramli,

        setahu saya, mmg tdk ada peraturan tertulis mengenai “pendatang baru” harus/wajib lapor dan mengenalkan diri. tetapi mengingat ibu meskipun sebagai dosen luar biasa, tetapi sering berada di psa, dimana gedung yang sama juga digunakan oleh banyak staf, saya rasa tidak ada salahnya ibu berkenalan dengan yang lain. bukankah kalau bertemu dengan yang lain akan terasa lebih enak dan luwes bu🙂 ya, semoga pengalaman ini berguna dilain waktu.. lain tempat lain adat kebiasaan, mngkin di sini apa2nya guyup dan mengenal satu sama lain meskipun hanya dosen yang mengajar seminggu 1 kali saja, mngkin ditempat lain lebih acuh, masing2 orang mengurusi keperluannya masing2. tapi tidak ada salahnya mengguyupi lingkungan🙂

      • @ Pak Kaisar.kecil : Halo juga, Pak.
        dari namanya saya bisa tebak ini pasti Bapak-Bapak🙂
        Ya, terima kasih atas masukannya. Semua masukannya sangat berharga, demikian pula yang disampaikan oleh teman-teman
        yang lain di thread ini. Saya menghargainya sebagai sesuatu yang akan membentuk diri saya. Terima kasih sekali.
        Semoga kita semua bisa mewujudkan itu.Selama ini proses berkenalan saya memang tidak aktif, baru berkenalan saat ada urusan dg
        orang bersangkutan. Mungkin sy harus ikut Orientasi Mahasiswa Baru🙂
        Sekali lagi, terima kasih dan mohon maaf jika ada salah, Pak

  2. Pendapat anda yang partial dan manusiawi itu saya temukan sebagai ciri tulisan orang yang demam luar negeri. Melihat dunia di luar negeri sebagai dunia impian yang romantis. Dalam bahasa Inggris disebut romantizing. Kalau dalam teori budaya disebut sebagai tulisan pasca colonial, artinya penulis cenderung memakai kaca mata kolonial untuk melihat negeri sendiri. Singkat kata, penulis menganggap penjajah adalah berkaliber super sementara pribumi bodoh dan dungu. Ciri-ciri dari post colonial semacam ini tidak kita butuhkan untuk membangun negeri ini karena orang-orang yang akan kita berdayakan hanya akan dipandang sebagai pion bodoh, tidak bermoral Oleh karena itu, saya anjurkan pelajarilah local knowledge masyarakat di mana anda tinggal. Semoga kita bisa berdiskusi lagi lebih panjang di media ini sehingga wawasan kita tidak bagai katak dalam tempurung kebodohan kita yang mengaku pandai cendekiawan.

    Salam,
    Sapawae

    • Pak/Bu Sapawae, saya suka dengan tulisan anda. Masukan yang bagus juga buat saya pribadi.

      Saya tambahi di sini, karyawan di institusi ini memang masih jauh dari sempurna. Tapi yakinlah, mereka semua sangat mencintai institusi tempat mereka bekerja dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan tidak pernah berhenti belajar dan memperbaiki diri.
      Berbeda pendapat itu biasa dan menjadi warna dalam dunia kerja.
      Kita semua adalah sebuah keluarga besar, entah yang masih tercatat sebagai pegawai honorer ataupun PNS.

      Mohon maaf juga jika dalam melayani kami masih banyak kekurangan. Seiring berjalannya waktu, pasti akan kami tingkatkan dan perbaiki.

      Yth. Ibu Murni Ramli, karena anda juga bagian dalam keluarga kami, maka kami juga mengharapkan peran serta Ibu untuk memberi masukan positif pada keluarga besar kita ini.

      salam budaya.

      • @ Pak/Bu Silent yang saya hormati,
        Saya membaca komentar Bapak/Ibu dengan seksama, kalau tidak salah kemarin juga Bapak/Ibu menuliskan komentar di blog ini. Saya ingin menyampaikan terima kasih atas nasehat yang berharga dan mohon maaf atas pernyataan yang mungkin menyinggung Bapak/Ibu.
        Saya yakin Bapak/Ibu Silent adalah pegawai teladan di fakultas, dan barangkali pernah bekerja bersama dalam kegiatan universitas/fakultas. Mohon maaf jika dalam kerjasama tsb, apabila saya melakukan tindakan yg menyinggung Bapak/Ibu.

        Saya sebenarnya ingin sekali berbagi kpd teman-teman di fakultas, tp sayangnya saya tidak diberi waktu dan tempat. Beberapa ide sudah saya sampaikan kpd PD IV, krn hanya itu jalur yg bisa saya masuki.

        Major saya Manajemen Pendidikan, dan selama berada di Jepang, saya berkesempatan menjadi penerjemah di Pusat Training AOTS, lembaga yg memberikan training kpd pekerja Indonesia yg dikirim ke Jepang oleh perusahaannya. Dalam kesempatan itu, saya sempat belajar ttg pengelolaan administrasi dan manajemen perusahaan. Ilmu ttg ini pernah saya sampaikan kpd mahasiswa dalam salah satu perkuliahan, dan diskusikan dg dosen-dosen di PSA. Hanya, kami belum punya jalan masuk untuk mengaplikasikannya, baik di jurusan maupun fakultas.

        Saya sama sekali tidak menganggap apa-apa yg dari Jepang adalah terbaik. Demikian pula seperti yg Pak/Bu Sapawae katakan, saya memuja pemikiran kolonial. Sama sekali tidak, Pak/Bu. Makanya dalam setiap adopsi yg saya usulkan, saya selalu mengingatkan untuk mempelajari kondisi di Indonesia dulu. Konsep manajemen perusahaan sebenarnya bisa diterapkan di dunia pendidikan, dan ini sedang kami coba.

        Sebagai akhir tugas saya di fakultas/universitas (krn sebentar lagi sy harus pindah), saya terlibat dalam kegiatan promosi fakultas yg akan diselenggarakan awal Maret. Sebenarnya konsep yg diajukan dalam kegiatan promosi tsb adalah apa yg sudah diterapkan oleh negara maju yg notabene adalah penjajah (dulu dan sekarang). Saya kira, kita harus fair bahwa banyak kebijakan di negara ini adalah adopsi dari negara penjajah (saya sebenarnya tdk suka menggunakan istilah ini, krn ini semua orang di dunia sedang menuju pada perdamaian dunia).

        Bagi saya, negara yg dulu menjadi penjajah dan sekarang mencapai kesuksesan adalah tempat belajar yang sangat baik, untuk mendapatkan jawaban, mengapa mereka menjadi sukses, pasca kekalahan perang. Saya masih punya cita-cita mendatangi negeri Belanda, karena dokumen sejarah pendidikan di Indonesia banyak tersedia di sana.

        Jika saya mendapatkan kesempatan ke sana, dan kembali ke tanah air, saya kemungkinan akan kembali membawa ide-ide baik yg saya dapatkan dari orang Belanda dan menshare-nya kpd teman-teman di tanah air.

        Tidak mengapa saya dituduh memiliki romantisme negeri penjajah. Selama yg saya bawa adalah kebaikan untuk negeri ini, maka saya tetap akan maju memberikan sumbangsih kpd negeri ini.

        Demikian Pak/Bu Silent, saya sangat menunggu Bapak/Ibu menghubungi saya untuk berdiskusi lebih lanjut. Semestinya Bapak/Ibu mengetahui sy karena nama saya sudah terpampang di blog ini, tp mohon maaf, saya tidak mengetahui nama asli Bapak/Ibu. Jika tdk keberatan mohon menyampaikan nama.

        Saya yakin, fakultas akan maju dg adanya orang-orang spt Bapak/Ibu yg menyadari bahwa tidak ada kata puas dalam bekerja, dan selalu bergiat untuk berkarya.

        Sekali lagi terima kasih atas komentarnya, dan mohon maaf atas segala khilaf

    • @Pak/Bu Sapawae : Terima kasih atas komentarnya, Pak/Bu.
      Saya tertarik dg pendapat Bapak/Ibu ttg teori yang Bapak/Ibu sebutkan, makanya tadi sempat tanya dan diskusi dg Prof Singgih, apa maksudnya, post colonial, romantizing. Mungkin kita perlu bertemu membahas ini, Pak/Bu?

      Pak/Bu saya tidak bisa melihat Jepang yg pernah saya tinggali selama hampir 7 th sebagai impian romantis, tp saya sangat yakin Indonesia akan mencapai dan setara dg Jepang. Kalau Bapak/Ibu membaca tulisan2 sy di blog ini, Bapak/Ibu akan tahu bagaimana saya mencintai negeri ini, dan bagaimana saya menempatkan Jepang sebagai sebuah negara yang memiliki sisi positif dan negatif.
      Tolong ajari saya dg kaca mata apa sebaiknya saya melihat Indonesia (btw, saya sudah berkacamata sejak SMP🙂 ).

      Saya benar-benar ingin berdiskusi dg Bapak/Ibu ttg local knowledge yg Bapak/Ibu maksudkan, saya akan menjadi pendengar yg baik, andaikan kita bisa bertemu.
      Dan saya kira, ini akan menjadi diskusi yg menarik dg teman-teman di PSA. Bagaimana, Pak/Bu, bisakah saya mendapatkan nomor kontak Bapak/Ibu?

      Sekali lagi terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Biasanya sepi pengunjung, tidak menyangka thread ini banyak dibaca.

  3. maaf bu….saya liat memang banyak karyawan ataupun dosen yang tidak tau anda itu yang mana. nyatanya byk skali yg tidak mengenal anda dan mreka baru tau kalau ada dosen yang bernama murni ramli setelah ada artikel di blog anda kemarin (yang sudah anda hapus ^_^ ).
    coba lah menyapa jika bertemu orang di tempat anda bekerja, karena hubungan dosen dan pegawae itu saling membantu. ada kalanya mreka butuh anda dan juga ANDA BUTUH MEREKA.. dan jangan menganggap mreka berada jauh di bawah anda karena anda dosen.terima kasih…

    • @Pak/Bu ME : Terima kasih atas komentarnya. Ya, Bapak/Ibu betul, saya bukan orang terkenal. Jadi wajar banyak yang tidak tahu, dan saya pikir ini lebih baik….menjadi orang biasa saja.
      Sebenarnya saya kadang-kadang datang ke PSA sejak tahun 2007 karena ada kerjasama Nagoya dan PSA. Hanya waktu itu status saya sbg tamu, dan tdk terlalu banyak interaksi. Saya mengenal dosen-dosen yang pernah datang ke Jepang dan kebetulan bertemu, makanya sewaktu saya diminta bergabung, tempat yg paling tdk mengasingkan bagi saya adalah PSA.
      Saya masih sulit mengingat nama, tetapi beberapa sudah sy ketahui. Semestinya masih perlu waktu untuk mengenal…tapi saya harus pergi.
      Saya menganggap Bapak/Ibu sebagai mitra kerja dan bukan bawahan (sebab saya bukan bos/majikan). Sama sekali tdk pernah memandang rendah para pegawai, siapapun dia, tp saya menjadi tidak respect kpd siapapun yg sewenang-wenang pada orang lain, baik dia pimpinan ataupun pegawai rendah.

      Sekali lagi terima kasih atas nasehatnya, dan mohon maaf jika pernah berbuat salah.
      Saya tidak menyangka tulisan saya di blog kemarin menjadi seramai ini.

  4. ibu Murni Ramli yang terkasih,

    saya baru mengetahui bahwa ibu adalah dosen, ketika membaca blog ini. sebelumnya saya mengira ibu adalah mahasiswa S2 sejarah. knp saya berpikiran spt itu? itu dikarenakan ibu sering berada di PSA dan berkutat dengan dosen2 sejarah yang ada di PSA. pernahkah ibu mengingat, kita menggunakan fasilitas yang sama di gedung yang sama? tapi belum pernah saya disapa ibu ketika ibu hendak mengambil kunci kamar kecil (pdhl saya nulis di depan meja lho bu), atau ibu masuk ruangan dan ber “say hallo” kepada kami yg selalu ada diruangan.. dan melihat dengan bbrp dosen pun, ibu juga bersikap sama, maka saya memutuskan mngkin ibu pribadi yg pendiam dan saya bisa menghormatinya.. (saya pernah menyapa ibu di tangga, dan bukan sapaan hangat yg saya terima, hanya anggukan kecil saja ^^,) ketika membaca pengalaman ibu dgn pak satpam, maka saya pun bisa memahaminya.. dan ketika saya bertanya pada yang lain “kenal ibu murni ramli tidak” banyak yg menjawab tidak tau..
    ibu, bukan maksud saya menggurui ibu, tetapi, saya pun pendatang baru di fakultas ini. saya bekerja disini mmg karena hubungan kekerabatan, tetapi itu tidak membuat saya malas untuk berkenalan di awal saya bekerja disini. satu persatu saya datangi, dan itulah yang membuat suasana tidak menjadi kaku. dikemudian hari ketika saya membutuhkan bantuan rekan kerja, dosen, pak satpam, saya tidak pernah mengalami hal buruk krn “tidak dikenali” oleh mereka. ada baiknya hal itu ibu coba, dan sekali waktu sempatkanlah menyapa kami2 ini.. sekalipun hanya lambaian tangan dan senyuman cerah ceria.. yaaa, siapa tau, kedepannya ibu tidak bisa pulang, kami bisa menawarkan boncengan sampai depan ^^,) hanya hal2 kecil, tetapi itulah yang meng-akrab-kan kami semua..
    seluruh staf fib, ramah2 kok bu, dan tak kenal maka tak sayang..🙂

    salam,
    bintang.

    • Pak/Ibu Bintang yg baik :
      Terima kasih atas komentarnya. Mau dianggap mahasiswa S2 juga sangat tdk mengapa. Banyak mahasiswa yg jg menganggap sy petugas TU di PSA, dan sy kira itu tdk apa-apa. Yg penting dosen, staf dan mahasiswa sama saja, harus mendpatkan perlakuan yg adil dan santun.

      Saya mohon maaf kalau tidak sempat menyapa dan kadang-kadang cuma mengangguk kecil. Betul dugaan Bapak/Ibu, sy tdk “seramah” dosen yg lain yg selalu ber-say hello kpd Bpk/Ibu di TU. Krn Bapak/Ibu Bintang skrang sudah mengenal sy, silakan menyapa dg nama sy, jk nanti bertemu. Apakah nama asli Bapak/Ibu adalah “Bintang”? Sy tidak terbiasa menggunakan nama samaran.
      Ya, saya bukan orang terkenal Pak/Bu, jadi wajar kalau banyak yg tdk kenal sy, apalagi belum genap setahun sy bergabung. Sebenarnya, jurusan sejarah bukan home base sy, makanya sedapat mungkin tdk merepotkan teman2 di situ, dan kalaupun terpaksa, biasanya yg ada kaitannya dg PSA saja. Saya cukup berhati-hati dg hal ini, dan sering meminta ijin dulu kpd dosen di PSA, apk saya tdk ada masalah jk ke jurusan dan minta stempel, misalnya? Kedekatan dg kajur sekarang (krn kami sdh kenal sejak 2007) menyebabkan sy belakangan sering masuk ke ruangannya, dan ini melewati staf-staf TU. Mohon maaf kalau tdk menyapa.

      Kasus kamar kecil dikunci waktu itu, sebenarnya sy cukup bingung, kenapa dikunci? Seingat sy itu adalah saat pompa mengalami kerusakan (?). Jadi, sy sempat tanya ke dosen di PSA, apakah sy boleh memakai kamar kecil jurusan? Dan mengapa dikunci. Ibu dosenlah yg menunjuk-nunjukkan letak kunci kamar kecil di ruang jurusan, dan sy diminta mengambilnya. Barangkali krn sdh sangat kebelet🙂, sy lupa minta ijin. Mohon maaf sekali.

      Saya hanya menghadapi masalah dg satu orang satpam saja, yg lainnya semuanya baik. Apa yg saya tuliskan dalam tulisan yg sudah saya hapus, adalah bentuk ingatan spy ke depan jurusan dan fakultas menjadi semakin baik.
      Selama hampir 15 tahun bekerja, baik di Indonesia maupun di Jepang,saya sebenarnya tdk pernah ada konflik dg teman sekerja. Baru kali ini, dan cukup kaget dg perlakukan Pak Satpam.Tetapi sy sudah memahaminya, krn beberapa dosen menceritakan hal yg sama.

      Ya, saya menemukan beberapa staf yg ramah, tetapi sy juga mendapati yg tidak ramah Pak/Bu. Jadi, maafkan saya jk ini penilaian subjektif. Saya kira saya harus jujur mengatakan ini, karena ini adalah hal yg wajar di manapun.
      Saya sangat salut dg tindakan Bapak/Ibu Bintang memperkenalkan diri kpd semua staf. Selama ini, krn menganggap status sy sbg dosen luar biasa, mk sy sebenarnya seharusnya hanya datang ke kampus pada saat jam mengajar sj, mk sy tanya teman-teman yg sama-sama dosen LB, apakah hrs melapor ke TU atau ke keuangan? Dan beliau menjelaskan tdk perlu. Mungkin sy mendpatkan info yg salah, dan seharusnya meniru tindakan Pak/Bu Bintang. Banyak hal yg sy tdk tahu sebelumnya termasuk bhw honor harus diambil di keuangan🙂 Saya kira akan dikirim ke rekening. Hal yg pernah sy tulis di blog ini bhw selama menjadi pekerja di beberapa tempat, hal yg paling enggan sy lakukan adalah mengambil honor🙂 Saya tdk tahu kenapa, tp sy lebih suka dg model transfer.

      Terima kasih atas tawaran membonceng ke depan. Selama ini saya tdk ingin merepotkan, kecuali dg seorang mahasiswa yg memang sudah sangat dekat, krn sy menganggapnya adik (mungkin Bpk/Ibu Bintang jg mengenalnya). Pernah sekali dua kali saya meminta tolong kpd staf jurusan sejarah (apakah panjenengan “Mba” yg membonceng sy waktu itu :-)), tp belakangan sy berpikir, saya telah mengkorupsi waktu kerjanya, jadi saya memutuskan untuk tdk melakukannya.Saya sangat berhati-hati dg masalah korupsi waktu (krn ini mjd sorotan beberapa pejabat dan mahasiswa), dan juga memanfaatkan fasilitas yg bukan hak saya, termasuk menggunakan telepon kampus untuk keperluan pribadi.Seingat sy, pernah sekali memakai telp jurusan sejarah untuk keperluan memanggil taksi, dan itupun stlh minta ijin dosen sejarah.Adapun telp di PSA, kami sudah bersepakat untuk menggunakannya hanya untuk kepentingan organisasi.Maaf, dg penggambaran ini, mudah-mudahan Bapak/Ibu Bintang tidak salah memahami padangan sy.
      Sebenarnya beberapa kali sy merasa tdk nyaman, krn mendapatkan “fasilitas” (spt mendapatkan makanan mhsw yg sedang seminar, padahal itu bukan hak sy). Saya sudah menolaknya, tp beberapa dosen memaksa. Saya mohon maaf atas “korupsi” ini.
      Sy menganggap Bapak/Ibu di TU bukan “pesuruh”, jadi sedapat mungkin sy tdk menyuruh mereka.Selama ini, saya berusaha menyiapkan sendiri semua bahan kuliah, trmasuk fotocopy dan peralatan LCD (kebetulan sy kebagian mengajar di ruang-ruang yang tdk ada LCD-nya).Teman-teman dosen biasanya meminta sy untuk “menyuruh” si A atau si B, tp sy sungkan, dan merasa tdk berhak. Sy tahu, sy bagian dari komunitas sosial yg suatu waktu pasti akan tergantung dg bantuan orang lain, tp selama sy masih bisa mengerjakannya sendiri, sedapat mungkin sy tdk merepotkan yg lain.
      Belakangan ini sy harus bolak-balik ke PSA dan ICT. Biasanya sy minta tlg mahasiswa, tp belakangan sy pikir, sy terlalu merepotkan mrk, jd saya putuskan untuk jalan kaki. Dan ternyata nikmat jg menyusuri jalan-jalan di kampus ini🙂

      Sekali lagi, terima kasih atas ingatan dan nasehatnya, dan mohon maaf dengan ketidaksantunan sy selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: