murniramli

Mesem

In Renungan, Serba-serbi Indonesia on Februari 2, 2012 at 12:27 pm

Koran Warta Jateng edisi 1 Februari 2012 memuat sebuah kisah di kolom Mesem, tentang sebuah kelucuan dan keluguan negeri ini.

Saya ingin menuliskannya ulang di blog ini.

Judul tulisan adalah Bom Atom.

Gembil, lulusan perguruan tinggi di Semarang, ditawari mengajar di sekolah dasar di sebuah desa terpencil. Gembil menerima tantangan itu. Dia pun segera berangkat ke desa untuk mencari tempat tinggal. Akhirnya Gembil indekos di rumah kepala desa. Awalnya, suasana desa yang sepi dan jauh dari kehidupan modern membuatnya kurang betah. Maklum, ia dibesarkan di kota besar. Namun, beberapa hari kemudian Gembil bisa menyesuaikan diri.

Setelah urusan tempat tinggal dan penyesuaian lingkungan beres, Gembil pun siap untuk mulai mengajar. Maka, hadi Senin pagi itu menjadi hari pertama Gembil mengajar di SD di desa terpencil. Setelah upacara, Gembil segera mengambil buku sejarah kelas lima dan beranjak ke kelas lima. Bangunan sekolah jauh dari memadai. Fasilitasnya pun seadanya. Namun, Gembil melihat semangat belajar muri-murid SD itu patut diacungi dua jempol. Walaupun rumah mereka jauh dari sekolah, mereka dengan suka cita berjalan kaki sebelum fajar menyingsing agar tidak terlambat sampai di sekolah. Itu pula yang membuat Gembil bersemangat.

Setelah menyapa murid dan memperkenalkan diri, Gembil memulai pelajaran sejarah dengan pertanyaan, “Anak-anak, siapa yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki?” Gembil bermaksud menjelaskan akhir peristiwa bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang yang menyudahi Perang Dunia II. Dengan polosnya siswa kelas lima itu menjawab, “Bukan kami….bukan kami, Bu Guru….!” Gembil heran dan sedih dengan jawaban siswanya yang seperti itu. Pas jam istirahat, Gembil curhat kepada seorang guru senior, “Dik Gembil, anak-anak memang begitu, mereka tidak mau mengakui perbuatan mereka. Nanti, kami tanyakan pelan-pelan, pasti ada yang mau mengakuinya,” kata guru senior. 

Besoknya saat para guru diajak rapat oleh kepala sekolah, Gembil menceritakan pengalaman pertamanya di kelas lima. “Saya sedih karena siswa tidak ada yang tahu siapa yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki….! ujar Gembil. Sang kepala sekolah berbisik kepada guru-guru senior di kanan kirinya lalu berkata, “Bu Gembil, kami telah sepakat. Begini saja, Bu. Hitung saja berapa kerugiannya, nanti kami akan urunan untuk menggantinya…!”

Selesai membacanya saya dan teman (kami membacanya bersama) tertawa terbahak.  Setelah itu, kami membincangkan kelucuan dan keluguan tersebut hingga berderai air mata karena terus tertawa. Bincangan kami barangkali berlebihan karena merembet pada ironi masyarakat kita. Pemaparan tentang ketidakmengertian siswa kelas lima SD, dan didukung pula oleh kepolosan guru-guru dan kepsek yang menganggap kasus pengeboman/penghancuran Hiroshima dan Nagasaki adalah “tindakan nakal” anak-anak, adalah sebuah keluguan atau fakta tentang betapa kurangnya pemahaman terhadap sejarah itu sendiri, sekaligus menyindir pengajaran mapel apapun (tidak hanya sejarah) yang hanya menghafal saja.

“Bukan kami, Bu Guru” , jawaban anak-anak dan komentar guru yang menganggap anak-anak memang alaminya selalu tidak mau mengakui kesalahan, membuat saya dan teman tertawa miris, sebab kami beberapa hari ini membaca berita di koran, dan menonton layar TV yang mempertontonkan tentang pelaku kejahatan yang tidak mau mengakui kesalahan fatalnya, dan semakin menjauh dari pengakuan, karena teman-temannya membela tindakan salahnya, lalu bersepakat membiarkan waktu menyelesaikannya. Teman-teman pendukung pelaku kejahatan mereka persis seperti sang kepala sekola , menyelesaikan masalah dengan uang🙂

Apapun interpretasi Anda terhadap tulisan di atas adalah sah-sah saja. Sebab ini alam merdeka !

  1. sy belum lahir, shg bukan sy yg hancurkan …😀 … pa kabar mba murni? smg dlm sehat slalu … hendak kemanakah setelah UNDIP? kapan ke jakarta?

  2. @Pak Dedi :
    Apa kabar, Pak? Alhamdulillah saya baik-baik saja.
    Insya Allah dalam waktu dekat ke Jakarta. Saya mau cari data penelitian di Perpus Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: