murniramli

Sekolah Berbasis Riset

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Organizational Learning, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan pra sekolah, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Februari 18, 2012 at 2:31 pm

Pernahkah Anda mendengar tentang Sekolah Berbasis Riset (SBR) ?
Sewaktu pertanyaan ini saya ajukan kepada beberapa guru, mereka menjawab bahwa itu adalah program Penelitian Tindakan Kelas,  sebagian lagi menjawab bahwa itu adalah penelitian yang dilakukan siswa dalam eskul Kelompok Ilmiah atau Kelompok Sains, semacam KIR.

Apa yang disampaikan oleh teman-teman guru ada benarnya, tetapi kurang sempurna.

Perlu diperhatikan bahwa, istilah Sekolah Berbasis Riset tidak sama dengan Sekolah Riset (SR). Istilah Sekolah Riset barangkali sama dengan istilah universitas riset, yaitu sekolah yang mengembangkan penelitian, baik di kalangan siswa maupun guru, sehingga sekolah/universitas menjadi pusat riset, dan maju dalam bidang penelitiannya.

Adapun SBR adalah pengembangan sekolah berdasarkan riset. Lalu riset seperti apakah gerangan? Tema riset adalah hal-hal yang terkait dengan permasalahan dalam proses belajar mengajar, pengembangan kurikulum lokal sekolah, penilaian belajar, pengelolaan sekolah, keterlibatan orang tua (dalam rangka optimalisasi peran komite sekolah agar lebih bermanfaat bagi sekolah), dll. Banyak tema yang bisa diangkat oleh sivitas sekolah sebagai salah satu bahan riset, yang hasilnya nantinya akan dipakai untuk mengembangkan sekolah.

Konsep SBR akan menjadi wacana baru dalam model pengembangan sekolah. Jika selama ini, sekolah-sekolah publik/negeri dan juga sekolah swasta dikembangkan dan dikelola dengan landasan kebijakan dari pemerintah/yayasan, maka dengan konsep SBR, sekolah akan dikembangkan melalui riset. Program ini tentunya sejalan dengan KTSP yang memberikan wewenang kepada sekolah untuk mengembangkan model pembelajaran, aktivitas sekolah, dan kegiatan kesiswaan yang lebih khas karena berpangkal pada potensi dan kondisi sekolah.

Namun jangan diartikan bahwa konsep SBR akan menentang kebijakan-kebijakan pemerintah. Program ini justru akan menjadi salah satu langkah “menyambut” kebijakan tsb. Jika selama ini, sekolah hanya “menelan” kebijakan-kebijakan pemerintah dengan sekali telan (langsung diterapkan di sekolah), maka melalui SBR, kebijakan-kebijakan tsb akan “dikunyah” (dianalisa), dan disesuaikan dengan kondisi sekolah agar selanjutnya dapat diperoleh keputusan, kapan dan bagaimana pelaksanaannya di sekolah bersangkutan.

Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh itikad dan kemauan pimpinan sekolah, mengajak semua sivitas sekolah untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan pengembangan sekolah yang dilakukan setelah melalui kegiatan riset. Tentu saja, tidak semua sivitas akan “rela” terlibat, apalagi dengan kesibukan mengajar yang semakin menumpuk. Tetapi, sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju yang telah menerapkan konsep ini, maka sesibuk apapun guru, mereka dengan senang hati bergabung dalam kegiatan ini. Kuncinya ada pada kesadaran untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik kepada semua siswa, tanpa ada diskriminasi apapun, dan keinginan untuk memberikan yang terbaik, medidik siswa dengan berbagai perbedaan kondisi, agar memiliki motivasi belajar yang tinggi.

Untuk menerapkan konsep SBR, sekolah perlu bergandeng tangan dengan perguruan tinggi. Kemitraan perlu dibuat agar budaya riset di sekolah (termasuk kepekaan terhadap permasalahan yang ada, keingintahuan yang tinggi, dan teknik meneliti) perlu ditularkan oleh dosen-dosen PT yang sudah sering meneliti. Kemitraan tsb tidak saja terbatas pada institusi perguruan tinggi keguruan/kependidikan, tetapi akan menjadi lebih sempurna, apabila dikembangkan pada perguruan tinggi non kependidikan.

Konsep ini sebenarnya tercetus begitu saja di kepala saya, tatkala seorang dosen menyodorkan sebuah proposal seminar, dan meminta saya untuk mereview-nya. Saya bukan mengoreksi proposal tsb, tetapi sekaligus mengganti temanya, maka jadilah kami

Upaya inilah yang akan kami coba kembangkan di Jawa Tengah, dengan menggandeng UNDIP, YPL-PT PGRI, dan Dinas P & K provinsi Jateng. Kegiatan pertama akan diselenggarakan awal Maret berupa seminar untuk menyebarkan ide dan konsepnya. Kami yakin akan banyak kendala dalam implikasinya nanti, tetapi kami pun meyakini ini adalah sebuah kebaikan untuk pendidikan di tanah air, jadi jika sudah layar dikembangkan, maka kami insya Allah pantang surut.

Yang saya khawatirkan hanya jika ini dijadikan sebagai beban/kewajiban pada sekolah-sekolah, sehingga ada keterpaksaan dalam melaksanakannya kelak. Proyek SBR harus menjadi kegiatan yang bukan merupakan paksaan, tetapi harus lahir dari kesadaran sekolah untuk menyediakan layanan pendidikan yang lebih baik. Alangkah baiknya jika para pengelola sekolah senantiasa memiliki “alarm” tentang masalah/kekurangan pada institusinya, dan bergerak untuk memperbaikinya. Jika demikian adanya para kepala sekolah, maka saya yakin program SBR akan dapat terlaksana dengan mantap.

Mengerjakannya sendiri memang tidak akan berhasil, dan saya masih meyakini bahwa untuk mencapai sebuah keberhasilan,”kerjasama” adalah kuncinya. Semoga kegiatan awal nanti akan berjalan lancar. Amin.

 

 

  1. makasih infonya ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: