murniramli

Dari Sekolah “Okol” ke Sekolah “Akal” : SMA 6 Yogyakarta

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Serba-serbi Indonesia, SMA on Februari 27, 2012 at 1:44 am

Tanggal 23 dan 24 Februari, saya mengunjungi Yogyakarta. Ada dua agenda, yaitu mencari literatur di UIN Sunan Kalijaga, dan mengunjungi SMA 6 Yogyakarta, yang merupakan sekolah riset pertama di Indonesia. Dari Solo, saya dan teman berangkat sekitar jam 09.00 dengan Kereta Prameks Solo-Yogya, dan berhenti di stasiun Maguwo. Lalu, kira-kira jam 10.00 kami naik taksi menuju UIN Yogya.

Saya seperti biasa “kehausan” mencari literatur, sehingga harus diingatkan kalau waktu sudah menunjukkan angka 14.30, dan kami sudah dijemput oleh tuan rumah. Saya mendapatkan banyak literatur tentang pendidikan Islam (terutama yang bernilai sejarah), dan juga beberapa tulisan yang semestinya sudah sangat terkenal, tetapi karena keterbatasan, saya baru mengetahuinya.

Tanggal 24 Februari siang, ba’da sholat Jumat, kami meluncur ke SMA 6 Yogyakarta, yang terletak di Jl. Cornelis Simanjuntak, sekitar 15 menit bermobil dari UIN. Sekolah ini tidak terlalu besar, namun sangat menyolok mata saya tatkala membaca nama sebuah perusahaan otomotif ternama Jepang, Toyota, terpampang di bawah nama sekolah. Saya memang sudah mencari informasi tentang sekolah ini di internet, dan sedikit tahu bahwa mereka bekerjasama dengan Toyota, namun belum mengetahui seperti apa bentuk kerjasama tersebut.

Sekolah ini berdiri pada tahun 1950, dan gedung utamanya adalah bangunan sekolah AMS jaman Belanda. Kesemuanya masih kokoh berdiri dilingkupi oleh hijaunya tanaman yang hampir memenuhi semua sudut sekolah. Kehijauan ini menurut saya berdampak pada semangat belajar, kelembutan jiwa, dan sekaligus kesehatan mata. Kalau saya menjadi siswa di sekolah ini, saya akan sangat betah berlama-lama di sana.

Kami disambut oleh Wakasek, Pak Sukarman dan Ibu Eni, karena kepsek memiliki agenda yang lain. Keramahan keduanya membuat saya sangat menikmati kunjungan ini. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, Pak Sukarman dan Bu Eni secara bergantian menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang kami ajukan (kami bertiga). Dan kepenasaran saya terhadap sekolah ini pelan-pelan terjawab.

Ada dua alasan saya mengirimkan permohonan berkunjung ke SMA 6 Yogya. Pertama, dalam rangka studi banding sekolah berbasis riset. Sehubungan dengan rencana pengembangan Sekolah Berbasis Riset (pernah saya tulis di blog ini) di Jawa Tengah, yang sedang kami gagas, saya merasa perlu mendatangi sekolah ini untuk memahami bagaimana proses, pelaksanaan, animo,dan terutama “kerepotan” para guru dalam menyelenggarakannya. Alasan kedua, sebagaimana saya baca di internet, SMA 6 Yogya adalah sekolah tawuran, bahkan tatkala saya bercerita kepada orang Yogya yang mengantarkan kami, cap sebagai sekolah tawur masih kekal dalam kepala mereka. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa sekolah tawur menjadi sekolah riset?

Penjelasan rinci tentang program sekolah riset disampaikan oleh Pak Rudi Prakanto, yang merupakan Wakasek bidang Pengembangan dan Penelitian. Saya kira Pak Rudi adalah motor pengembangan sekolah riset di SMA 6 Yogya. Berdasarkan penjelasan dari ketiga guru yang menemui kami saya bisa menyimpulkan betapa kuatnya komitmen guru di sekolah ini, dan adanya sebuah semangat perubahan. Tidak sekedar mengatakan “We can change” seperti yang sering disebut-sebut setelah Obama mempopulerkannya, tetapi mereka mampu merealisasikan dan membuktikan kalimat sakti tsb.

Salah satu target yang ingin diraih SMA 6 Yogya adalah mengubah image sebagai sekolah okol (tawur/berkelahi) menjadi sekolah akal (berilmu). Menurut cerita Bapak Ibu guru yang menemui kami, siswa-siswa SMA 6 dulu tak dapat dikenalikan oleh guru, dan bahkan guru yang kadangkala menerima akibat kekerasan yang mereka lakukan. Lingkungan sekolah tidak sehijau sekarang, bahkan kadangkala siswa menginap di sekolah, dan hanya cuci muka kemudian masuk ke kelas. Intinya, siswa-siswa pada masa itu sulit diatur, dan semangat serta energi tawur-nya sangat tinggi.

Tahun 1999 (1998?), siswa SMA 6 Yogya pernah menjadi juara di KIR masa itu. Prestasi ini adalah sebuah kebanggaan yang nampaknya sulit terulang kembali. Namun, tahun 2003, atas bimbingan Pak Rudi, siswa kelas 11 mengulang prestasi tersebut, dan menjadi sebuah titik balik yang menyadarkan siswa-siswa dan guru SMA 6 bahwa mereka bisa berprestasi. Konsep yang dipakai Pak Rudi saya kira sederhana saja, bahwa energi anak-anak yang gemar tawuran tsb sangat besar, permasalahannya adalah bagaimana mengubah dan mengalihkan energi tsb pada bentuk kegiatan yang positif.

Saya duga guru-guru mengadakan sebuah gerakan “moral”, atau gerakan “menasehati” siswa, membangun kepercayaan siswa, mengajak mereka untuk menyadari langkahnya yang salah, membimbing siswa untuk lebih menghargai waktu, dan yang utama mengompori mereka untuk keluar dari imej yang buruk yang telah dicapkan oleh masyarakat. Sehingga upaya ini berbuah manis. Pada tahun 2004-2005, mulailah muncul peminatan pada KIR, dan sangat menakjubkan bahwa sebanyak kurang lebih 150 siswa kemudian bergabung di lembaga ini pada tahun-tahun terakhir. Penelitian telah menjadi sebuah candu baru di sekolah ini.

Bagaimana guru-guru mensikapinya? Tentu saja tidak semua guru terbiasa dengan penelitian. Namun, prestasi siswa di ajang kompetisi ilmiah, tampaknya menjadi alasan utama yang mendorong atau menyadarkan guru bahwa mereka juga harus meneliti dan berprestasi. Maka, walaupun tidak seintens siswa, guru-guru mulai bersemangat melakukan riset, baik berupa penelitian tindakan kelas maupun riset sesuai bidang ajarnya.

Sebagai bukti prestasi riset siswa-siswanya, di bagian belakang sekolah ada sebuah ruangan yang berfungsi untuk memamerkan hasil-hasil riset siswa, Ruang Riset Center. Saya kira sekolah ini telah menghasilkan puluhan karya, dan patut diapresiasi oleh pemerintah. Sayangnya, masih sedikit dukungan ke arah ini, yang membuktikan bahwa negara kita belum siap menjadi negara berilmu🙂

Lalu, apa kaitannya dengan Toyota? Ada sebuah program yang terkait dengan pengembangan sekolah lingkungan, dan berbuah pada didirikannya Toyata eco gallery di sekolah ini. Pantas saja, lingkungan sekolah yang menurut saya cukup mungil ini (tidak sebanding dengan prestasinya), sangat hijau, ramah lingkungan, dan tempat sampah tersedia di mana-mana dengan pola pemisahan yang mirip dengan apa yang diterapkan di Jepang. Mitra semacam ini sangat diperlukan oleh sekolah-sekolah di tanah air, mudah-mudahan akan semakin banyak perusahaan asing yang mau membagi ilmunya kepada sekolah-sekolah di Indonesia.

Angka tawuran di SMA 6 Yogya, sudah mencapai titik nol, sekalipun ada kasus yang agak mencoreng tahun lalu, yang dilakukan oleh alumninya. Sekolah ini memiliki metode pendekatan yang cukup baik untuk mengatasi masalah siswa tawuran, selain mengalihkan mereka pada aktivitas riset. Ketegasan untuk mengeluarkan siswa yang tidak bisa ditangani juga merupakan langkah yang berat tetapi perlu diambil untuk menunjukkan bahwa sekolah memiliki aturan yang jelas. Sebagaimana kita saksikan, banyak pelanggaran di tanah air yang tidak segera teratasi karena kekurangtegasan penegak hukumnya. Saya pikir, apa yang dilakukan oleh SMA 6 Yogya, masih termasuk dalam kewajaran dengan mengeluarkan siswa yang bermasalah. Ini adalah pilihan terakhir yang terpaksa harus dilakukan.

Terlepas dari semua permasalahannya, bagi saya pribadi adalah menarik mempelajari lebih jauh bagaimana sebuah sekolah berubah status. Proses perubahan tersebut tidak akan kami dapatkan di bangku-bangku kuliah Manajemen Pendidikan, bahkan juga tidak akan kami dapatkan di seminar-seminar. Guru-guru SMA 6 Yogya telah mengajari saya tentang sebuah kunci perubahan, yaitu keikhlasan dan komitmen guru. Saya teringat gurauan Pak Rudi, “Sekolah kami adalah SBI juga. Sekolah Berbasis Ikhlas”.

  1. Trima kasih..maturnuwun atas apresiasiny thd namche (SMAN 6)..
    Ralat.bpk wakasiswa Bpk Sukarman..ibu yg dmksud mngkin Ibu Eni
    Dr.sy guru namche🙂

  2. sebelumnya saya ingin mengoreksi, bahwa kedua guru yang pertama menemui anda adalah Pak Karman dan Ibu Eni dari wakil kepala sekolah.
    tulisan anda membuat saya sebagai salah satu siswa SMAN 6 Yk merasa terharu sekaligus bangga, serta ingin lebih memajukan sma saya agar menjadi lebih baik lagi. terima kasih atas review anda🙂

  3. @Ibu Nurani dan Ananda Swastati :
    Terima kasih atas koreksiannya, saya sudah koreksi nama beliau berdua dalam tulisan di atas.
    Kepada Pak Sukarman dan Ibu Eni yang mungkin membaca tulisan ini, mohon maaf atas kesalahan penulisan nama sebelumnya.

  4. Bapak bapak n ibu ibu guru ihklas n sabar adalah jalan menuju sorga, tetap semangat guru guru SMAN 6 Yogya.

  5. SEBAGAI ALUMNI ANGKATAN 90 YANG MASIH KENTAL DENGAN TAWURANNYA SAYA IKUT BANGGA BAHWA SMAN 6 YK SUDAH MULAI BERUBAH.
    SEBAGAI GURU SMA DI SEBUAH KABUPATEN DI JAWA TENGAH, SAYA SALUT DAN PENGEN KETULARAN SEMANGAT BAPAK IBU GURU SMAN 6. JALAN SORGA PASTI TERBENTANG LUAS .

  6. hem….semoga nemche tetap berjaya dari waktu ke waktu

  7. wah … kalo nemche ga tawuran ga seru donk. dijaman saya muridnya suka tawuran. tapi tetep cerdas dan berprestasi tuh ….🙂

  8. Saya alumnus SMA Namche tahun 2005 amat sangat bangga dengan almamater saya yg berubah total. Saya mengenyam pendidikan di SMA 6 Yogyakarta saat masa transisi di tahun 2002-2005 dimana saat saya sbg siswa, terjadi cutting generation yaitu siswa putra hanya 70 orang dan siswa putri 210 orang (dengan total 280 orang). Saya merasa yg orang2 bilang bahwa SMA 6 nakal tidak benar sama sekali. Jaman saya keadaan SMA tersebut sudah sangat kondusif dan mulai merintis Research School. Puji Tuhan setelah lulus dari SMA 6 Yogya, sekolah tersebut mengantarkan saya menuju UGM dan akhirnya sekarang saya menjadi Perwira Karir TNI AD. Sesuatu sekali pak, bisa bersekolah di SMA 6 Yogyakarta yg syarat prestasi. Terima kasih.

  9. saya sbg almuni tahun2 baru lulus sbenarnya sangat menyambut baik perubahan yang dilaukakan almamater kami. sebuah trobosan cemerlang yang tentunya harus didukung oleh seluruh entitas namche.

    namun perlu diketahui juga, dalam proses transisi tsb ditemukan metode tidak mendidik yang digunakan untuk keperluan perubahan ini. dari berbagai sumber saya sering mendapat cerita. kadang siswa dianggap sebagai musuh.terdapat berbagai kasus yang saya dengar sendiri dari beberapa korban siswa. sekolah dianggap angker, walaupun secara kasat mata teduh. memberlakukan siswa sebagai orang lain pun tidak etis, apalagi sebagai musuh.

    esensi pendidikan yang memanusiakan manusia kadang tak dihadirkan diproses itu. siswa kadang-kadang mendapat intimidasi sepihak dari para oknum tsb. bukan malah dibantu, dibimbing seperti idealnya peran seorang guru tapi malah di”ajar”.

    untuk memahami sebuah objek, perlu dilihat dari berbagai sisi. selain guru, perlu juga mengetahui bagaimana pendapat “siswa” tentang sekolahnya. trims.

    CMIIW – keep writting

  10. sebagai alumni SMA 6.. saya sangat bangga.. mengingat apa yg dilakukan dan betapa berdedikasinya guru-guru kami…saya bersyukur pernah dididik di sana… melihat betul upaya.yg dilakukan untuk mengubah image sekolah membuat saya begitu tersentuh… (tabita, namche ’06)

  11. Mudah-mudahan semakin banyak sekolah di Indonesia yang meniru sman 6 Yogya. Bahkan sekolah riset dimulai dari SD. Sehingga Indonesia menjadi bangsa yang produktif, kreatif, inovatif, mandiri dan tercipta kesejahteraan yang merata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: