murniramli

Anak-Anak Sungguh Betah Menonton Sinetron

In Serba-serbi Indonesia on Maret 1, 2012 at 10:13 am

Saya pernah iseng bertanya pada teman-teman bagaimana mereka menjaga anak dari kecanduan menonton TV. Macam-macam jawabannya. Ada yang menyetel TV pada jam tertentu, ada yang selalu menemani anak menonton, sehingga menyeleksi tontonan, dan bahkan ada yang tidak membeli TV.

Tontonan TV saat ini benar-benar masih lebih besar porsi hiburannya daripada sebagai media belajar. Karenanya, otak penonton lebih banyak dibuai dan dilenakan. Parahnya, anak-anak di sekolah sudah jutek dengan beban belajar yang sungguh berat, sehingga tontonan TV yang melenakan di rumah, menjadi obat/pelipur, yang dapat membuat mereka betah berjam-jam menyaksikannya.

Begitu pula dengan anak teman saya. Setiap hari dia pasti sudah duduk diam di depan TV pada jam-jam 7 malam karena ada sinetron yang sangat digemarinya. Saya bahkan berani mengatakan dia sudah kecanduan, sebab jika orang tuanya mengajaknya keluar pada jam-jam tersebut, dia kemudian muring-muring, berupaya membatalkan acara keluar, dengan mengemukakan banyak alasan. Kalau toh ikut, misalnya ke restoran, dia akan berani meminta pelayan untuk menyetel TV ke channel yang disukainya. Yang cukup membuat saya kaget, ibunya pun meminta hal yang sama. Entah bermaksud menghibur si anak, atau memang ibunya juga suka dengan sinetron.

Ketika keluarga kami memiliki untuk pertama kalinya TV hitam putih di tahun 80-an, dan kemudian beberapa tahun ditambahi layar bergaris warna-warni, sehingga gambar di TV menjadi berwarna, kami sekeluarga juga sangat suka menonton TV. Kotak 14 inch itu telah menyihir kami, anak-anak, untuk duduk rapih di depannya pada jam-jam film kartun. Tetapi pada waktu itu, belum ada les, kecuali hanya pergi mengaji, pelajaran di sekolah juga hanya sampai jam 1 siang, jadi banyak waktu untuk makan siang, sholat dan tidur siang sangat cukup. Akibatnya, jam 4 sore, kami sudah berenergi besar untuk mulai bermain di jalanan komplek perumahan. Permainan-permainan itu lebih menarik, ketimbang duduk diam di depan TV, sebagus apapun acaranya.

Perubahan pola hidup telah berlangsung drastis. Anak-anak tidak bisa lagi menikmati permainan di sore hari, karena mereka harus pergi ke tempat les, tanpa pulang dulu ke rumah. Pulang malam setelah maghrib, jika ibu bapaknya tidak tertib, maka si anak bisa saja langsung mematung di depan TV, sambil menikmati makan malamnya, dan melupakan ibadah sholat maghrib. Jika dulu, masih sempat anak mengaji Al-Quran sesudah sholat maghrib, sambil menunggu Isya, maka tidaklah lagi masa sekarang. Bahkan kebiasaan keluarga menikmati teh/kopi panas dengan pisang goreng di teras rumah sudah tak pernah lagi saya saksikan. Di rumah kami di Madiun, acara minum teh sore kadang-kadang saja kami lakukan, dan itupun bukan di depan rumah, tetapi di ruang makan, sambil menikmati siaran TV.

Terkadang, kita menyaksikan pemandangan yang sungguh mengherankan. Sambil menonton TV, ibu sesekali mengingatkan agar si anak belajar dan mematikan TV. Tetapi ibu hanya sekedar bicara saja, dan justru dialah yang terlarut menonton. Akibatnya, ibu tidak punya alasan kuat untuk menyuruh anak belajar dan menyetop kebiasaan menonton. Apalagi dengan tegas melarang anak menonton. Saking senangnya menonton TV, saya tidak pernah melihat si anak membaca buku. Ketidakbiasaannya itu saya kira tertular dari ibu dan bapaknya yang juga tidak pernah serius membaca buku.

Ada anak teman saya yang lain, masih balita dan belum disekolahkan. Kalau saya pergi ke rumahnya, dan kebetulan di pagi hari, ayah ibunya sudah berangkat kerja, dia hanya berdua dengan pembantu. Sambil mengasuhnya dan mengerjakan pekerjaan rumah, pembantu menyalakan TV. Si balita kadang-kadang tiba-tiba menghentikan permainan mobil-mobilannya, dan kemudian menggoyang-goyangkan sendiri badannya mencoba mengikuti joget penyanyi di TV. Anak-anak gampang sekali meniru. Sehingga orangtua perlu mengingatkan pembantu agar tetap menyeleksi acara TV yang ingin ditontonnya.

Sinetron-sinetron bagaikan candu.Apalagi dengan tampilnya bintang-bintang muda, kehidupan glamor, serba ada yang dipertontonkan. Anak teman saya bahkan sering menunjuk-nunjuk BB yang digunakan pemain sinetron dan merajuk kepada ibunya agar dihadiahi BB seperti itu. Dia bahkan menambahkan bahwa teman-temannya juga sudah memakainya. Sayangnya lagi, ada beberapa ibu yang merasa “harus” memenuhi keinginan anak agar si anak tidak minder dalam pergaulannya.

Penayangan sinetron di tanah air sangat berbeda dengan di Jepang. Di sana, sinetron tidak diputar setiap hari. Seingat saya hanya ada pada hari-hari tertentu saja, dan ada satu atau dua hari tanpa sinetron. Karena sinetron berseri hanya sekitar 16 atau 20 episode, dan itupun diputar seminggu sekali, maka tidak ada rumah tangga yang menyetel TV seharian. Lalu,kalau tanpa sinetron apa yang disajikan? Yang banyak adalah siaran documentary, perjalanan, kuis, variety show, komedi, dan musik. Sinetron atau film akan diputar tengah malam, saat jam tidur anak-anak.

Mengharapkan stasiun TV untuk menyajikan tontonan yang bermutu tampaknya tak pernah diseriusi, dan menjadilah dia sebatas keinginan segelintir orang saja. Barangkali tontonan yang tidak bermutu identik dengan kondisi keterdidikan bangsa kita. Tontonan yang melenakan, tidak bermuatan sebuah pengetahuan baru, tidak mengajak untuk mikir njlimet lebih disukai oleh masyarakat kita. Jadi, jika hanya berpikir pada nilai komersialnya saja, maka media tidak akan terketuk menyajikan acara yang sarat ilmu pengetahuan.

Tampaknya harus ada gerakan masyarakat mematikan TV, seperti yang pernah dilakukan atau mungkin masih dilakukan oleh sebuah kelurahan di Yogya. TV-TV dimatikan pada jam-jam belajar siswa di rumah (sore hingga jam 8 malam). Barangkali perlu juga ada ronda atau petugas seperti siskamling yang berkeliling ke rumah warga untuk mengecek apakah TV sudah dimatikan pada jam belajar siswa🙂 Tetapi, tentu saja ini tidak dapat berjalan efektif apabila orang dewasa belum mampu mengerem kecanduannya menonton sinetron.

 

 

 

  1. ya saya inget juga di Yogya, tidak membiasakan nonton tipi saat jam2 belajar itu memang patut ditiru di daerah2 lain. jangan hnya jadi slogan saja, tapi usaha nyata

  2. hampir di semua stasiun tv serba sinetron…yaa mau gak mau terpaksa nonton sinetron…ga ada hiburan menarik lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: