murniramli

Konsumsi

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Maret 1, 2012 at 10:53 am

Apa yang harus dipikirkan pertama kali ketika hendak mengadakan rapat/meeting? Menurut saya, agenda rapat. Tetapi tidak demikian adanya yang selama setahun ini saya alami. Rapat-rapat kepanitiaan tidak mewajibkan anggota panitia untuk berpikir tentang apa yang akan disampaikan di dalam rapat. Yang serius berpikir tentang hal ini hanya pimpinan rapat saja. Lalu, apa yang lebih penting ? Jawabnya, Konsumsi.

Jika rapat bertepatan atau melewati jam makan siang, maka sebelum rapat dimulai harus ada acara makan siang. Jika rapat diselenggarakan di pagi hari atau sore hari, maka harus ada snack. Kadang-kadang kalau tidak mau pusing memikirkan konsumsi rapat, maka pertemuan bisa dilakukan di restoran.

Karena budaya konsumsi di setiap rapat, maka menjadilah pembiayaan kepanitiaan menjadi sedikit membengkak dengan ongkos-ongkos tak terduga karena keharusan menyiapkan konsumsi.

Terus terang, saya tidak tahu bagaimana filosofinya, sehingga setiap rapat harus ada konsumsi.

Yang lebih menarik lagi adalah, bahwa tidak hanya setiap rapat, bahkan dalam seminar akhir mahasiswa, atau ujian kelulusan mahasiswa pun harus ada konsumsi. Dengan aturan tak tertulis yang sama dengan rapat, yaitu makan siang dan snack jika melewati makan siang, dan snack saja jika pagi atau sore hari.

Lain Indonesia, lain pula di Jepang. Dalam kegiatan rapat, seminar, bahkan ujian, sama sekali tidak ada konsumsi. Rapat-rapat diselenggarakan berjam-jam, tanpa air sedikit pun. Seminar dan ujian dilakukan dua sampai tiga jam, pun tanpa air se-aqua gelas sekalipun.Lalu, mengapa bisa demikian?

Orang Jepang beranggapan bahwa makan minum tatkala rapat adalah kurang sopan, dan orang yang melakukannya tidak menghargai pentingnya acara. Makanan dan minuman dianggap akan mengganggu konsentrasi orang berpikir, oleh karena itu rapat di pagi hari, atau sore hari, bahkan malam hari tidak dijamin ada konsumsi. Rapat pada siang hari saat jam makan siang tidak akan pernah dilaksanakan karena itu melanggar hak beristirahat semua pihak. Sekalipun ada snack tersaji dalam pertemuan di lab misalnya, makanan itu tidak boleh dimakan saat rapat berlangsung. Semuanya boleh mencicipinya ketika rapat sudah selesai.

Lalu, mengapa di Indonesia ada konsumsi saat rapat? Saya bertanya iseng kepada teman, dan jawabannya kira-kira sebagai berikut,
1) Kalau tidak ada konsumsi, kita akan mengalami dehidrasi karena Indonesia panas
2) Konsumsi untuk mendorong agar seseorang mau hadir di rapat.
3) Konsumsi untuk mencairkan suasana rapat
4) Konsumsi untuk melestarikan budaya orang Indonesia yang sering ngobrol sambil nyemil
5) dll

Menurut Anda, apa alasannya konsumsi disediakan dalam rapat-rapat di tanah air ?🙂

 

  1. menarik artikelnya…salam kenal slalu

  2. mbak murni, hisashiburii….
    hehehehe, tentang konsumsi rapat emang udah kyk jadi budaya di sini mbak…
    akibatnya?berpengaruh sangat signoficant terhadap kenaikan berat badan (kasus:krn sering ikutan rapat di kantor)

    • @Mba Ferli : Mbak Ferli hontouni hisasihiburi desune. Wah, jadi pengen tahu bgm rupane Mba Ferli saiki dg pertambahan bobotnya hehehe….
      Si Fathan Raja Dangdut gimana kabarnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: