murniramli

Ini Hanya Ada di Indonesia – Kunjungan ke Pesantren Darussalam Watucongol

In Islam di Indonesia, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Islam, Pesantren on Maret 9, 2012 at 2:43 pm

Saya tidak tahu mengapa professor pembimbing saya ketika kuliah di Nagoya meminati pesantren-pesantren yang ada di pelosok. Yang lebih tidak habis pikir lagi atau kadang-kadang malu adalah pengetahuannya yang luas dan daya ingatnya tentang lokasi pesantren yang pernah dikunjunginya sekalipun itu sudah berlalu 30 tahun yang lalu, dan sekalipun lokasi pesantren ada jauh terpencil.

Sebelum berkunjung ke Semarang, beberapa waktu lalu, beliau sudah menyampaikan rencana “bergerilya” mengunjungi kembali pesantren-pesantren yang 30 tahun lalu pernah disambanginya. Tujuan utama kunjungan ke Semarang adalah pertemuan dengan pengusaha Jepang dalam rangka membicarakan scheme beasiswa. Setelah itu selesai, maka keesokan harinya, kami siap berangkat bergerilya. Saya pribadi memiliki rencana mengunjungi pesantren-pesantren di Mlangi dan Tegalrejo, karena pernah membacanya dalam sejarah Diponegoro. Sementara professor ingin berkunjung ke Watucongol, Muntilan. Jadi, kami menyepakati hari itu ada dua pesantren yang akan kami kunjungi, yaitu Pesantren di Watucongol dan Tegalrejo.

Sepanjang perjalanan, saya sudah was-was, jangan-jangan beliau tidak ingat jalan, saat kami sudah masuk ke jalan-jalan desa. Tetapi dengan sekali bertanya, kami sudah sampai di lingkungan pesantren yang ternyata sudah sangat terkenal. Saya yang tidak tahu banyak tentang pesantren-pesantren di Jawa, baru menyadari bahwa pesantren yang kami kunjungi adalah pesantren besar, dengan para kyai yang merupakan tokoh-tokoh besar dan sangat terkenal di kalangan ulama di Jawa. Kyai Dalhar atau yang biasa disebut Mbah Dalhar (alm) yang mendirikan pesantren tsb adalah tokoh sentral di Magelang. Karena ilmu dan karismanya, banyak sudah ulama yang belajar kepada beliau.

Sewaktu kami sampai, pesantren sedang mengadakan pelatihan umroh untuk warga setempat yang akan berangkat. Oleh karenanya, kami sengaja memarkir mobil di halaman sebuah rumah kecil di lingkungan pesantren. Ada seorang Ibu yang sedang duduk di teras rumah, dan setelah saya menceritakan maksud kedatangan kami, beliau segera mengantarkan kami berkeliling, dan menemui Ibu Nyai Fariqah, istri salah satu putra Kyai Dalhar (ada tiga putra), yang rumahnya paling dekat dengan pintu gerbang yang kami masuki tadi.

Ibu Nyai menyambut dengan sangat ramah, dan gembira mengetahui maksud kunjungan professor, dan tatkala mendengar cerita professor tentang kunjungannya 30 th lalu, dan interaksinya dengan santri-santri, pertemuannya dengan Pak Kyai almarhum, menimbulkan kegembiraan yang teramat sangat di wajah Ibu Nyai. Beliau kemudian menceritakan beberapa kejadian dan perkembangan baru di pesantren. Kami juga menyampaikan keinginan untuk melihat-lihat pesantren, mendatangi makam Kyai Dalhar, dan keluarga pesantren yang lainnya. Dengan sangat ramahnya, beliau mempersilahkan kami makan siang dulu.

Professor saya sudah terbiasa dengan kunjungan ke pesantren, maka tentu beliau tidak kaget lagi dengan tawaran makan siang ini. Saat kami mulai menyendok makanan, beliau mengatakan inilah yang khas dan hanya ada di Indonesia, hospitality ala pesantren. Di Jepang, katanya, tidak ada kebiasaan seperti ini. Sementara di Indonesia, di pesantren-pesantren, sesederhana apapun itu,  selalu tersedia suguhan untuk siapa saja yang berkunjung. Keberkahan telah dikaruniakan Allah kepada siapa saja yang menolong agamanya.

Saat menikmati makan siang, kami sempat mengobrol dan terbersit keinginan untuk meneliti pesantren ini, terutama dari segi sejarah, perubahan pendidikan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, setting kunjungan kami ganti secara mendadak, yaitu sekaligus mencari informan yang bisa menceritakan sejarah pesantren. Kerabat pesantren yang paling tua adalah Bude dari Ibu Nyai, tetapi sayangnya

Dengan perut yang sudah terisi, kami kemudian dipandu oleh seorang santri mendatangi setiap sudut pesantren hingga bergerak ke makam Kyai Dalhar yang terletak di area bukit yang tampaknya kecil dari jauh, tetapi setelah harus menaiki tangga untuk sampai ke makam di puncak bukit, saya hampir kehabisan nafas, ternyata tinggi juga. Menurut professor, pendakian ke makam dulu dilakukan dengan menyisir kaki bukit dari arah kampung. Sekarang ini, sudah sangat nyaman karena dibangun tangga-tangga dengan keramik, dan dipisahkan antara tangga naik dan turun. Menurut santri, peziarah berkunjung setiap hari, dan akan meningkat tajam pada malam Jumat Kliwon.

Pesantren Darussalam Watucongol sangat khas dengan nilai-nilai budaya Jawa yang dipadukan dengan nilai Islam sebagaimana yang dibawa oleh wali songo. Oleh karenanya, sistem penanggalan yang mereka gunakan adalah istilah-istilah penanggalan Jawa. Beberapa kebiasaan masyarakat tentang ziarah ke makam-makam juga sangat khas.

Selain tertarik dengan sejarah pesantren, saya sebenarnya juga memiliki minat pada kurikulum pesantren dan pengembangan life skill para santri. Sebelum berkunjung ke masjid, kami diantarkan untuk melihat SMK milik pesantren yang bergerak di bidang otomotif dan pertanian. Lalu, pada saat mengunjungi makam, kami bertemu dengan pekerja-pekerja yang sedang mengelas, membuat kotak-kotak untuk hiasan dinding gedung, dna ternyata mereka semua adalah santri. Tampaknya budaya santri yang hanya menderas Al-Quran dan kitab-kitab saja tidak begitu tampak di sini. Semua santri disibukkan dengan kegiatan kerjanya masing-masing.

Kami tidak sempat mewawancarai Nyai Hajjah Nurhanah yang merupakan pimpinan Pesantren Putri Addalhariyah, sebab ketika kami datang, beliau sedang beristirahat. Tetapi saya sudah menyatakan keinginan untuk mempelajari lebih jauh tentang sejarah pesantren ini, terutama yang terkait dengan kependidikannya. Oleh karena itu, saya sekaligus meminta ijin untuk mengirimkan pertanyaan dalam bentuk tertulis. Namun, itu belum saya kerjakan juga hingga detik ini, karena kesibukan yang silih berganti.

Adalah sebuah pekerjaan besar untuk menelusuri jejak dan benang merah pesantren-pesantren di Indonesia, sekaligus memperdalam bagaimana transfer ajaran berlangsung dari pesantren satu ke pesantren yang lain. Namun, bagi kami, semakin kami mendalaminya, semakin banyak ide penelitian yang muncul. Sayangnya kami dibatasi waktu dan kesempatan.

Keramahtamahan pihak pesantren saya kira menjadi pendorong juga banyaknya peneliti asing yang ingin mempelajari kekhasan dan keunikan perkembangan agama Islam di nusantara. Makan bahkan tinggal dengan gratis adalah layanan yang kadang-kadang diterima oleh para peneliti asing. Seperti halnya professor, saya kira banyak peneliti asing yang terkesima dengan keramahtamahan ala pesantren.

  1. Salam. Sebuah ulasan menarik tentang, kunjungan dan “sarapan” di pesantren. Saya sendiri pernah tinggal di dekat pesantren watu congol. Sempat bersilaturahim kepada Al-Marhum K. Ahmad Bin Dalhar rohimahumallah.

    Banyak hal yang menarik dari pesantren-pesantren lama memang termasuk, di antaranya pesantren watu congol. Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah kitab Tsabat (berisi tentang keguruan dan pengkajian ilmu) tulisan Syeikh mahfudz Termas, Seorang Ulam Indonesia yang terkenal di dunia hijaz. Di sana tercantum bahwa diantara yang pernah belajar kepada beliau antara lain kyai dalhar, dan ini bagi saya sesuatu yang menarik,,

    Terus upluad liputan liputan anda lainya,, tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: