murniramli

Keberanian Masa Kecil

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Dasar, Pendidikan pra sekolah, Renungan, Serba-serbi Indonesia, Taman Kanak-Kanak on Maret 10, 2012 at 9:54 am

Sewaktu kecil, tindakan atau kenakalan apa yang pernah Anda lakukan yang membuat Anda merasa jagoan, pemberani atau bahkan bangga? Saya ingat-ingat lupa (= banyak ingatnya) apa saja kenakalan yang dulu pernah saya lakukan. Yang pasti, masa kecil saya penuh dengan bermain. Sejak TK, saya sudah terbiasa bermain di rumah pohon, dan memanjat adalah keahlian saya, selain berkelahi dengan kakak.

Saya belum pernah menyetop mobil truk untuk menumpang naik, karena dalam masyarakat kami, ini dianggap tabu. Tetapi, seingat saya, pernah sekali dua kali saya naik truk bersama teman-teman saat mengikuti pramuka. Lalu, mengapa naik truk menjadi perlu dibahas di sini ?

Dalam perjalanan pulang dari kunjungan pesantren beberapa hari yang lalu, kami menyaksikan kejadian yang mengingatkan pada kenangan masa kecil dulu. Professor saya di Jepang begitu antusias melihat anak-anak kecil (kira-kira SD kelas 2-3) yang menyetop truk besar, dan naik ke dalamnya, lalu saat lampu merah yang berdekatan dengan rumah, mereka turun sambil berteriak, “matur nuwun, Pak”.

Siapa yang tidak pernah mengalami keasyikan itu, tentu kurang seru masa kecilnya. Masa kecil menurut saya dan professor adalah masa yang harus diisi dengan kenakalan-kenakalan dan keberanian melakukan sesuatu yang sebenarnya berbahaya atau orang dewasa pasti melarangnya.  Anak-anak yang pernah mengalami tantangan-tantangan seperti itu, dewasanya dia akan mudah menghadapi kepelikan hidup.

Sederhana saja, menumpang truk memerlukan kepandaian berkomunikasi untuk menyetop truk dan memohon/memasang wajah memelas agar diijinkan naik oleh Pak Supir. Pun memerlukan kegesitan, kelincahan tangan dan kaki untuk mengayun badan agar bisa masuk ke dalam truk. Dan tentu saja kesehatan jasmani, karena bisa saja mabuk terkena angin di bak terbuka. Yang terakhir, adalah sikap santun dalam menyampaikan terima kasih kepada si pemberi pertolongan.

Memang gila. Tetapi coba kita hitung dengan jari, apakah anak-anak di perkotaan sekarang menikmati permainan alam anak-anak dulu? Apakah mereka sering memanjat pohon, bermain gobak sodor, berenang di sungai, menumpang mobil omprengan, bermain tanah?

Professor saya menyatakan kesedihannya bahwa anak-anak di Jepang sekarang sudah tidak lagi bisa menikmati kenakalan-kenakalan yang sering dilakukan anak-anak Jepang pada masa dulu. Anak-anak Jepang dewasa ini adalah anak-anak yang terkungkung dengan permainan modern dan artifisial, terbuat dari plastik atau kayu yang kaku. Sedikit saja mereka melanggar aturan bermain, pastilah teguran. Mereka tidak akan nekat menyetop truk atau mobil yang lewat untuk meminta tumpangan karena mereka dicekam ketakutan kalau-kalau diculik. Anak-anak kecil selalu dilengkapi dengan alarm tersembunyi di dalam tas ranselnya, yang selalu mendengung kalau ada orang tak dikenal yang mengganggu si anak.

Dengan kata lain, anak-anak yang sebenarnya harus dibiarkan hidup di alam yang tidak “berpagar”, justru saat ini hidup dalam kecaman-kecaman, dan ketidakbebasan. Rumah-rumah berhalaman kecil tanpa pohon dan tanaman yang dapat dikreasi menjadi sayur-sayuran alami. Tidak ada selokan yang berisi kecebong. Taman-taman hanya dilengkapi dengan permainan artifisial berupa ayunan dari tali dan besi, tali temali untuk dipanjati, seluncuran plastik, dll. Karena anak-anak diasuh oleh pembantu, maka kadang-kadang dia harus mengikuti ritme pembantu, alias berada di dalam rumah saja, dan bermain mainan plastik.

Kalau anak-anak pada masa dulu, berani mengutarakan pendapat, menyampaikan maksud dan keinginannya kepada orang dewasa, karena mereka biasa disuruh oleh ibunya untuk belanja di warung, pergi ke rumah tetangga meminjam tangga, pergi ke ladang mengantarkan nasi untuk ayah, dll, maka tidak hanya kemampuan verbal mereka yang berkembang, tetapi juga kemampuannya berbahasa, perhatiannya kepada lingkungan dan sesama.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak modern yang sekarang tinggal di antara rumah gedung, komplek perumahan? Kalau ada kesempatan, ajaklah mereka ke taman-taman yang ada pohonnya, ke sawah-sawah yang bisa diceburi, ke sungai-sungai yang bersih maupun kotor, dan sesekali mungkin ke kampung neneknya pada masa liburan. Berikan mereka pengalaman yang kaya, karena dengan banyaknya yang dia pernah temui, maka semakin kayalah dia dalam berbicara. Karena dengan banyaknya orang yang dia jumpai, maka akan semakin kayalah dia dengan karakter toleransi dan empati kepada sesamanya.

Jangan segan-segan menitipkan anak di kampung selama seminggu pada masa liburannya, agar dia bisa merasakan hidup mandiri, terpisah dengan orang tua. Jika sudah pernah dia merasakan kehidupan yang berbeda dengan apa yang sehari-hari dia hadapi, maka tentulah dia akan lebih menghargai apa yang ada di rumahnya.

“Kenakalan”, keberanian, dan “kegilaan” masa kecil, biarkanlah itu menjadi alat pembelajaran bagi anak-anak.

 

  1. boleh jadi atau barangkali cerita diatas secara sosio kultural, mungkin sdikit berbeda karena ruang+tempat/lokasi dan waktu, namun secara esensial inti cerita saya kira sama dengan nun beberapa (14) abad nan lampau, dimana sudah menjadi tradisi masa bayi kecil di susui dan di asuh oleh ibu susu di wilayah pedesaan, didiami suku badui hingga menjadi seorang bocah bermain dan hidup bercengkerama menghirup udara alam suasana pedesaan, baru di kembali kan lagi oleh ibu susunya, Halimah kepada ibundanya, Siti Aminah di kota jazirah arabia. dan bocah itu menjelma menjadi pemimpin mulia dan dimuliakan penuntun sekaligus guru mengajarkan juga di rindukan oleh ummat-NYA, Nabi Muhammad SAW.

    mengambil manfaat+memberdayakan nilai sejarah, sekelumit al-kisah bisa diambil kemanfaatannya, karena diyakini telah teruji berdasarkan pengalaman masa lalu tak terbantahkan. . . .knapa harus menguji+mengalami sendiri baru meyakini kemanfaatannya,
    ogah bercermin kepada sejarah, itu tindakan boros+sikap pandir dan sebuah pendapat nan patut disayangkan, karena usia ini terbatas dan amat mahal, dibuat sia-sia bukan?

    maksud hati menyayangi+melindungi anak, terhindar dari kategori “kata anak nakal” menyukai kata dan kalimat penyejuk “anak manies+penurut” apa yang terjadi?
    meragukan diri+melemahkan kemauan+menggantungkan diri kepada orang tua …
    dibuat repot hingga masa usia dewasa, dimana peralihan fungsi dan peran terbalik
    orang tua kembali ke masa anak dan anak mengambil alih fungsi itu sebagai rasa bakti merawat dan mengasuh orang tua, tidak terjadi . . . whaduh sungguh mengerikan . . . .
    pola pendidikan penuh perlindungan, ternyata merepotkan dan melemahkan, dilema sosial
    tak berkesudahan. . . .
    sumonggo dipikirkan jernih dan masak-masak ajakan mbak murni ramli diatas … wahai kawan+sahabat+ibu dan bapak sekalian . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: