murniramli

Manusia, Uang, dan Kekuasaan

In Berislam, Islamologi, Renungan, Serba-serbi Indonesia on Maret 11, 2012 at 5:12 am

Sejak dulu hingga mungkin kiamat, uang dan kekuasaan menjadi ujian terberat manusia di muka bumi ini yang mempercayai adanya hari akhir dan hari penghisaban. Saya tidak hidup dalam gelimangan harta dan kekuasaan, sehingga tidak bisa menceritakan dengan jujur seperti apa kehidupan yang dirasakan manusia yang bergelimang harta dan kekuasaan. Saya juga tidak berteman dengan mereka, sehingga sekalipun tidak pernah melongok nyata kehidupan mereka. Saya cuma membacanya di buku-buku, dan tatkala saya menjadi penonton mereka beraksi di layar TV, di media cetak, bahkan di panggung-panggung seminar.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan lemah terhadap uang dan kekuasaan. Kadang-kadang saya tidak habis pikir logika manusia untuk mendapatkan uang, bahkan logikanya dalam menggunakan uang.

Dalam skala kecil pada sebuah kepanitiaan seminar yang saya ikuti, saya tidak habis pikir dengan arus hilir mudiknya uang. Ada orang yang tidak bekerja, tetapi menganggap dirinya bekerja, dan bersedia menerima uang yang diberikan kepadanya karena namanya terpajang dalam sebuah kepanitiaan. Ada juga orang yang bekerja jungkir balik, tetapi namanya tidak tercantum dalam kepanitiaan dan dia tidak mau menerima uang honor. Ada yang namanya tercatat sebagai orang yang mengarahkan, tetapi sama sekali tidak mengarahkan. Dan itupun menurut teman saya, mereka harus diberi uang. Barangkali saya terlalu polos memaknai manusia dan uang. Tetapi saya menganggap, uang-uang honor (bukan rezeki) yang diterima tanpa kerja adalah uang yang tidak akan menyehatkan badan, jiwa dan pikiran. Apalagi kalau itu sampai dinikmati oleh anak-anak di rumah.

Saya pikir, jika skalanya saya perbesar kepada institusi pemerintahan, kementrian, dan atau level nasional/negara, maka tentu hilir mudiknya uang membuat saya bisa migren berat karena tidak bisa memahami, mengapa si A perlu diberi honor, mengapa si B perlu diberi uang pesangon, mengapa si C perlu diberi uang pelicin, dll. Teman saya sudah menjelaskan berbusa-busa dan berkali-kali bahwa itu semua adalah biasa, tetapi akal dan hati kecil saya belum bisa menerimanya. Saya sangat tidak bisa mengerti mengapa manusia bisa sangat serakah.

Kekuasaan menjadi barang aneh kedua yang saya tidak bisa mencernanya dengan baik. Kalau dipikir-pikir, saya sebenarnya juga berkuasa di “kerajaan” saya. Saya berkuasa menyuruh adik-adik, murid dan mahasiswa saya untuk mengerjakan apa yang saya inginkan. Tetapi kekuasaan itu tidak mutlak, karena kebanyakan dilanggar. Artinya, saya belum memiliki kekuasaan yang sebenar-benarnya.

Tetapi, saya banyak dipertemukan dengan fakta orang-orang yang menggilai kekuasaan. Dengan kuasanya, mereka bisa menekan orang-orang kecil. Dengan kuasanya, mereka bisa meminta diperlakukan terhormat. Dengan kuasanya, mereka mengatur kehidupan orang lain. Mereka bagaikan tuhan kecil di dunia. Dan saya saat ini sedang merasakan betapa orang yang berkuasa telah mengombang-ambingkan hidup dan masa depan saya. Apatah yang bisa saya lakukan, selain memohonkan pertolongan kepada Allah SWT, Tuhan di atas segala tuhan-tuhan.

Uang dan kekuasaan telah membutakan bahkan telah mendorong orang berucap yang tidak santun. Seperti pada sebuah seminar, seseorang (yang saya kira pembantu si pemilik uang) menyemprot dengan mengatakan kegiatan ini adalah milik bapak A, ketika saya tidak mengijinkan sebuah media mengisi sela waktu menunggu. Sebagai penanggung jawab acara dan persidangan, saya diamanahi untuk mengendalikan agar acara berjalan sesuai dengan rencana yang sudah disusun panitia. Tetapi orang-orang yang menyertai pemilik uang (padahal bukan mereka sejatinya yang memiliki uang) kurang peduli dengan tanggung jawab ini. Karena lebih mengedepankan keinginan sepihak, maka menjadilah acara tertunda. Menjadilah saya semakin tidak menyukai para pemilik uang atau lebih tepatnya orang-orang yang mengelilinginya.

Uang telah menjadi senjata utama untuk memaksa suara-suara murni rakyat dalam pemilihan. Pun telah berkuasa mengatur jalannya pemberitaan di media massa. Para pemburu berita sejatinya tidak dibayar dalam peliputan menurut aturan yang dibuat oleh media bersangkutan, tetapi “kebiasaan dan pembiasaan” telah menjadi hukum yang lebih kuat berlaku. Pemburu berita akan datang karena alasan ekonomi (uang), dan pemilik uang memanfaatkan “hukum” ini untuk memaksa media memberitakan yang baik tentangnya. Uang telah menunjukkan keperkasaannya dalam menyorong manusia pada lubang ketidakjujuran.

Entahlah, bagaimana jadinya jika suatu saat saya diuji menjadi pemilik uang milyaran atau kekuasaan tinggi. Saya hanya berharap semoga Allah tetap mengasihi hambaNya ini, dan menjadikan orang-orang kaya lagi shaleh yang telah berlalu di muka bumi ini sebagai teladan. Bukankah sudah ada episode Abdurrahman bin Auf yang unta-untanya memenuhi jalan sepanjang Mekkah dan Medinah? Bukankah sudah ada episode Umar bin Abdul Aziz yang menolak kekayaan dan memilih kesederhanaan. Semoga episode orang-orang berakhlak mulia itu senantiasa selalu diputarkan dalam kepala ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: