murniramli

Mencari masalah, langkah pertama riset

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Maret 12, 2012 at 1:01 pm

Masalah lumrah saja adanya, adalah sesuatu yang akan dihadapi manusia. Semua orang tanpa kenal umur dan status akan mengalaminya. Masalah sama dengan penyakit, karenanya harus disembuhkan, dihilangkan melalui tindakan preventif atau kuratif jikalau sudah terjadi. Saya kira sejak kecil, semua orang tua sering menasihati anak-anaknya untuk tidak mencari “masalah” (dengan orang lain). Isi pesan itu sangatlah baik, sebagai dasar mengembangkan pertemanan yang non konflik. Tetapi pada kenyataannya, tidak ada yang pernah mulus berteman. Dan pertemanan menjadi sangat berarti tatkala dibumbui permasalahan/konflik kecil.

Mencari masalah bukanlah tabu bagi seorang yang memiliki jiwa meneliti. Mereka selalu saja merasa berhadapan dengan masalah, dan jika tak ada masalah, mereka akan mencarinya. Sehingga sesuatu yang bagi orang awam barangkali tidak memasalah, bagi peneliti hal itu justru memasalah.

Apa enaknya mencari masalah? Secara sederhana, bukankah jika kita berpikir, maka kepala kita akan selalu dipenuhi oleh tanda tanya, tentang misteri yang tidak terjawab yang dipampangkan di hadapan kita? Alam sekitar sudah sangat banyak mengandung misteri. Manusia di sekitar kita sudah sangat banyak menyimpan keanehan, ketidaknormalan, dan keunikan (positif or negatif). Jika ada yang menganggap dan atau mengatakan, “itu kan sudah dari sononya”, dan merespon semua masalah dengan “kemalasan berpikir” seperti itu, maka dia kurang bisa menjadi orang yang gemar belajar.

Langkah pertama melakukan riset adalah mencari masalah. Tetapi masalah yang dicari bukanlah masalah yang dibuat-buat. Masalah dalam riset haruslah masalah yang obyektif, dan jika terpecahkan, akan berdampak pada kehidupan banyak orang. Tentu saja tidak dipersalahkan apabila ada orang yang bermaksud memecahkan masalah pribadinya melalui kegiatan riset🙂

Dalam seminar baru lalu, ada seorang peserta yang mengomentari dan mungkin sekaligus bertanya, apakah riset dibutuhkan atau harus dilakukan setiap saat? Sambil guyon, dia berkomentar, bahwa kalau ada kebakaran, kemudian pemecahannya harus melalui riset, maka api sudah melahap habis, sebelum hasil risetnya ketemu. Saya kira pengertian riset telah dikacaukan dengan tindakan memecahkan masalah. Analog yang sama akan bisa kita kembangkan, misalnya, saya lapar (masalah). Apakah saya harus melakukan riset untuk mendapatkan jawaban mengapa saya lapar? Atau saya perlu riset untuk menjawab pertanyaan bagaimana mengatasi rasa lapar saya?

Sekalipun berkaitan dengan pemecahan masalah, riset tidak selalu memecahkan masalah. Riset adalah upaya untuk mencoba memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah yang telah disepakati sebagai metode ilmiah, agar tindakan yang sama dapat diulang oleh orang lain, dan hasilnya dapat diterima secara objektif. Apabila telah dilakukan berulang, dan ternyata memperoleh hasil yang sama, maka dapatlah sebuah teori baru dikeluarkan. Jika tidak selalu memecahkan masalah, lalu mengapa harus melakukan riset? Karena pemecahan masalah melalui riset dilakukan berdasarkan kajian data/fakta yang ada, dan melalui pengujian dan analisa yang valid, sehingga hasilnya lebih mendekati kebenaran atau ke arah pemecahan masalah.

Banyak upaya memecahkan masalah melalui kebijakan,khususnya di bidang pendidikan yang didasarkan pada “khayalan/pengawangan” atau dugaan yang disimpulkan dari fakta yang secuil (tidak mewakili), maka dampaknya kebijakan tidak menyentuh akar masalah. Sekalipun kebijakan dikeluarkan berdasarkan analisa SWOT, banyak yang tidak mampu menjawab persoalan/permasalahan pendidikan. Misalnya, kualitas pendidikan Indonesia rendah (dibandingkan dengan negara tetangga, berdasarkan evaluasi internasional PISA). Ini adalah masalah yang harus dipecahkan. Pemerintah mendekati pemecahan masalah ini tanpa penelitian, dan mengeluarkan kebijakan UN, RSBI, sertifikat guru. Alhasil, kualitas pendidikan kita secara makro tidak terangkat.

Terkait dengan riset di sekolah, maka yang perlu dilakukan pertama kali oleh kepala sekolah dan jajaran pimpinan adalah menyadarkan warganya untuk punya sense of belonging dan menganggap sekolah bagian dari hidupnya. Dengan sense seperti itu, tentu akan lebih mudah bagi sivitas sekolah menyadari adanya masalah/error dalam kehidupan sekolah. Misalnya, beberapa siswa baru kesulitan beradaptasi di sekolahnya yang baru, sehingga nilai-nilainya anjlok. Karena ini masalah siswa kelas 1, maka wali kelas 2 dan 3 tidak merasa itu adalah bagian masalah yang harus mereka tangani. Sekolah adalah kesatuan. Apabila siswa kelas 1 menghadapi masalah, dan tidak segera diatasi, maka akan berimbas pada jenjang selanjutnya. Pola pikir komprehensif dan bukan partial perlu dimiliki oleh semua guru agar dapat mengembangkan sekolah ke arah yang lebih baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: