murniramli

Survei Membaca di Jepang : Anak SD lebih gemar membaca daripada Anak SMA

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, SMA di Jepang, SMP Jepang on Maret 14, 2012 at 10:19 pm

Tulisan kali ini adalah bagian dari salah satu chapter buku yang sedang saya garap. Sengaja saya tampilkan di blog ini agar segera dapat menjadi bahan studi banding dan perbaikan pendidikan di tanah air. Sementara buku yang sedang saya buat, masih memerlukan waktu untuk perbaikan di sana-sini.

Setiap tahun surat kabar ternama, The Mainichi Daily News atau yang dikenal dengan nama Mainichi shimbun (毎日新聞) senantiasa menyelenggarakan survei kegiatan membaca siswa SD, SMP dan SMA di Jepang. Dalam penyelenggaraan survei yang ke-57 tahun 2011 terlihat adanya fenomena menarik tentang pola membaca anak-anak sekolah di Jepang. Survei tahun ini diselenggarakan dalam dua tahapan pada bulan Juni 2011. Peserta survei adalah 2,569 siswa SD dari 28 sekolah, 3,316 siswa SMP dari 36 sekolah, dan 4,124 siswa SMA dari 40 sekolah seluruh Jepang[1].

Minat baca tampak masih cukup tinggi di kalangan siswa SD. Sebanyak 18% anak-anak SD membaca sebanyak lebih dari 16 buku per bulan, 18% membaca antara 10-15 buku per bulan. Sementara siswa SMP hanya 6% yang membaca 10-15 buku per bulan, dan hanya 3% yang membaca lebih dari 16 buku per bulan. Adapun siswa SMA sebanyak 2% membaca 10-15 buku, dan 2% yang membaca lebih dari 16 buku per bulan.

Sebanyak 51% siswa SMA tidak membaca buku sama sekali selama satu bulan. Pengertian membaca di sini artinya adalah membaca hingga tamat. Sekitar 16% siswa SMP sama sekali tidak membaca buku, dan 6% siswa SD yang sama sekali tidak membaca buku per bulan. Sebagian besar siswa SMP membaca 1-3 buku per bulan, dan siswa SMA sebanyak 1-2 buku per bulan.

Sebaliknya, baik siswa SD, SMP maupun SMA hampir tidak menggemari membaca majalah. Sebanyak 43% siswa SMA, 38% siswa SMP dan 35% siswa SD sama sekali tidak membaca majalah per bulan. Dan terdapat 7% siswa SD, 3% siswa SMP dan 2% siswa SMA yang membaca lebih dari 16 majalah per bulan.

Dalam survei juga ditanyakan tentang minat anak-anak membaca biografi. Sebanyak 32% siswa SD, 15% siswa SMP dan 10% siswa SMA menyatakan suka membaca biografi. Ada 13% siswa SD, 18% siswa SMP dan 21% siswa SMA yang tidak suka membaca biografi. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 25% siswa SD, 25% siswa SMP dan 32% siswa SMA tidak pernah membaca biografi.

Pertanyaan tentang peminatan terhadap biografi sangat menarik apabila dikaitkan dengan pendidikan karakter. Dengan membaca kisah hidup tokoh, anak-anak akan lebih banyak nilai-nilai hidup, tradisi dan budaya daripada apa yang bisa diperolehnya di ruang-ruang kelas.

Ketika ditanyakan siapakah tokoh yang biografinya paling disukai? Anak-anak laki-laki SD banyak menjawab Ichiro Suzuki, yaitu pemain baseball ternama Jepang yang beberpa kali menjadi pemain terbaik di Liga Amerika. Sementara anak-anak perempuan menyukai biografi Helen Keller, Mother Theresa., dan Nithigale. Siswa SD, SMP maupun SMA juga menyukai biografi Thomas Alfa Edison. Tokoh sejarah Jepang yang diminati para siswa SD, SMP dan SMA adalah Sakamoto Ryōma, yang merupakan penentang shogunat Tokugawa, Oda Nobunaga (daimyō yang menjadi tokoh pemersatu Jepang), dan Noguchi Hideo, bakteriologis terkemuka Jepang yang menemukan agen penyakit syphilis pada tahun 1911. Wajah Noguchi sangat tidak asing bagi anak-anak di Jepang, karena diabadikan di lembaran uang kertas 1000 yen.

Dan ketika ditanyakan mengapa anak-anak memilih para tokoh tersebut di atas sebagai yang biografinya sangat disukai? Sebagian besar anak menjawab karena mereka adalah orang-orang yang telah bekerja keras, berbuat untuk banyak orang, menemukan sesuatu, dan karena mereka adalah tokoh-tokoh yang dapat mengatasi masalahnya.

Beradasarkan survei juga diketahui bahwa penyebab kurangnya minat siswa SMP dan SMA membaca biografi adalah kurangnya ketersediaan buku- buku tersebut di lingkungan sekolah mereka. Adapun buku-buku biografi untuk konsumsi siswa SD tersedia dengan kecukupan tinggi di sekolah.

Secara garis besar terdapat sebuah fenomena menarik dari hasil survei tersebut, yaitu menurunnya kegemaran membaca dengan semakin bertambahnya umur siswa. Minat membaca sangat tinggi di kalangan siswa SD, dan dalam uraian tentang budaya membaca rongo (yang pernah dimuat di blog ini), sebagian besar pesertanya adalah juga siswa SD. Fenomena ini bisa saja terjadi karena faktor ketersediaan buku bacaan yang lebih banyak untuk siswa-siswa SD, namun alasan lain dapat juga dikemukan, yaitu semakin beratnya materi buku ajar dan beban belajar yang harus dihadapi oleh siswa SMP dan SMA. Sebagaimana telah dibahas di awal, kurikulum di SD cukup sederhana dan tidak memberatkan. Sehingga, banyak waktu yang tersedia bagi siswa SD untuk membaca.

Tetapi sangat mengagetkan bahwa hanya 3% siswa SD, 2% siswa SMP, dan 2% siswa SMA di Jepang yang memilih menggunakan waktu luangnya untuk membaca. Karena kebiasaan membaca menurun, maka apakah sebenarnya yang dilakukan anak-anak SMP dan SMA pada jam-jam kosong sepulang dari sekolah? Hasil survei di atas memberikan jawabannya, bahwa 34% siswa SMP dan 27% siswa SMA menghabiskan waktu luangnya untuk melakukan bukatsudō (klub aktivitas) atau ekstra kurikuler di sekolah. Sekitar 19% siswa SMA menggunakan waktunya untuk beraktivitas dengan telepon genggamnya, dan 18% siswa SMP memilih untuk menonton TV. Anak-anak SD juga lebih suka menggunakan sebagian besar waktunya untuk menonton TV, bermain dengan teman, dan belajar (masing-masing 17%), melakukan kebiasaan rutin di rumah (15%), dan bermain game (13%). Adapun di kalangan siswa SMP dan SMA, masing-masing hanya 9% dan 8% yang menggunakan waktu luangnya untuk belajar. Mereka juga terlihat menyukai bermain game (9% SMP dan 5% SMA), dan menggunakan komputer (masing-masing 7%).

Cukup mengherankan pula bahwa kegiatan ekstra kurikuler telah memaksa siswa SMP dan SMA untuk berkutat pada kegiatan tersebut. Ekstra yang paling banyak diminati umumnya adalah olahraga baseball, sepak bola, band sekolah dan paduan suara. Tampaknya pemerintah Jepang perlu berpikir ulang untuk mendorong minat baca siswa SMP dan SMA, serta memberikan waktu yang lebih banyak untuk aktivitas ini.


[1] Mainichi Shimbun, 2011. Mainichi no hondana. Tokushuu : Dai 57 kai gakkō dokusho chōsa (sono ichi) kōgakunen hodo [kandō]. Tersedia online di http://mainichi.jp/enta/book/news/20111027ddm010040182000c.html. Diakses pada 13 November 2011.

  1. sumimasen sensei, kikitain koto ga arundesuga, yoroshideshouka?🙂

    saya mahasiswi jurusan sastra jepang di ugm, saat ini sedang mengerjakan tugas menulis. kebetulan saya mengambil tema tentang bushido dan nilai moral orang jepang. berkaitan dengan artikel ini, saya ingin bertanya, apa doutokukyouiku (道徳教育). sendiri berasal dari prinsip bushido? atau ada sumber lain?

    terimaksih sensei atas jawabannya.

    • @Blog walker :
      Apa yg diajarkan dalam doutokukyouiku tentu saja bersumber dari bushido.
      Untuk lebih jelasnya ttg doutokukyouiku silakan dicari dalam gakushuushidouyouryou (dalam bahasa Jepang).Silakan diakses di situs MEXT
      Pada masa Meiji, doutokukyouiku disebut shuushin (修身=pendidikan semangat), lalu setelah konstitusi 1947, shuusin dihapuskan dan sebagai gantinya diperkenalkan doutokukyouiku. Tetapi ini bukan mapel khusus, pelaksanaanya satu jam per minggu di SD dan SMP, sementara di SMA diganti menjadi kouminka (公民科)atau pendidikan kewarganegaraan.
      Kajian ttg doutokukyouiku sudah banyak dilakukan baik dalam bahasa Jepang maupun Inggris, silakan disearch dengan kata kunci tsb atau moral education.

      Untuk mempelajari bushido dan nilai moral Jepang, sangat baik membaca bukunya Robert N Bellah, Religi Tokugawa, dan Inazo Nitobe, Bushido the soul of Japan.

      Semoga membantu

  2. Ass ..salam kenal bu, menarik sekali melihat minat baca mereka bu pantesan bisa maju ..bagaimana dengan data minat baca kita

    • @Pak Bakharuddin : Salam kenal juga Pak.Data minat baca di Indonesia mungkin belum pernah disurvey🙂
      Tetapi saya kira kita perlu belajar pada sistem pendidikan kita di masa penjajahan dan pasca kemerdekaan, ketika siswa-siswa lebih banyak kegiatan membaca bukunya.

  3. Assalammualaikum Wr. Wb

    Salam Kenal Ibu Murni, saya mahasiswa Sastra Jepang UGM dan kebetulan sedang menulis skripsi juga bu mengenai keitai shousetsu, dan artikel ini sungguh membantu saya untuk mengkaji bagaimana minat baca siswa-siswi di Jepang mulai menurun pada siswa-siswi SMP dan SMA. dan disini Ibu Murni menyinggung akan membukukan artikel ini, apakah sudah terbit? terimakasih sebelumnya, salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: