murniramli

Yang Telah Hilang : Mendatangi Orang-Orang Berilmu

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Islam, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, Pesantren, Renungan on Maret 28, 2012 at 10:46 am

Seminggu yang lalu, saya menghabiskan waktu di Solo untuk melakukan penelitian tentang Mambaul Ulum. Selain melakukan wawancara dengan tokoh penting MU, saya juga sudah meniatkan untuk mencari literatur terkait. Beberapa skripsi menarik saya dapatkan di UNS, dan sumber referensi lain saya peroleh setelah mengudak-aduk toko buku kuno di Gladag.

Penelitian MU sejatinya cukup sulit dilakukan karena pelaku hidup sudah hampir tidak ada, sehingga informasi hanya bisa didapatkan dari generasi kesatu atau kedua. Siswa-siswa yang bersekolah pada tahun-tahun kemerdekaan pun sudah sulit ditemukan. Kalaupun ada, beliau sudah sangat sepuh, dan agak sulit mengingat kejadian pada masa itu.

Namun, tidak berarti penelitian ini harus berhenti. Dengan bantuan dari guru-guru MAN 2 Surakarta, saya mendatangi beberapa narasumber minggu lalu. Sedianya ada lima narasumber yang akan kami temui, 23 Maret lalu, tetapi tiga di antaranya sedang tidak ada di tempat. Alhasil kami hanya berhasil mewawancarai dua tokoh. Tokoh pertama yang kami wawancarai adalah Bapak Nafi Taslim yang tinggal di sekitar Laweyan.  Beliau pernah bersekolah di MU pada tahun 1943 hingga tamat.

Berdasarkan cerita beliau, kami mendapatkan informasi persekolahan pada masa perang kemerdekaan (45-49). Persekolahan di MU pada masa itu dilakukan pada malam hari, karena siang harinya sekolah dipakai sebagai tangsi militer Jepang. Lalu, apa yang dilakukan para siswa di luar jam sekolah? Menurut Pak Nafi, dia dan abangnya mendatangi kyai-kyai ke rumahnya untuk menuntut ilmu yang dikuasai kyai bersangkutan.

Mendengar uraian itu, saya teringat dengan kisah Pangeran Diponegoro yang pernah saya susun biografi pembelajarannya untuk program internalisasi nilai juang Diponegoro di UNDIP. Diponegoro pada masa remajanya gemar menyamar menjadi santri dan mendatangi pesantren-pesantren untuk belajar ilmu agama. Apa yang dilakukan Diponegoro pada tahun 1755-1800-an adalah wajar jika dilihat dari sisi ketiadaan persekolahan pada masa itu. Namun, apa yang dilakukan oleh siswa MU pada paruh abad 20, yaitu ketika sistem persekolahan sudah cukup tersedia adalah sangat luar biasa. Tradisi mendatangi rumah orang berilmu untuk belajar apa yang dikuasainya adalah sebuah tradisi menuntut ilmu yang tidak lagi lazim pada masa ini. Atau barangkali kebiasaan tersebut telah hilang jauh setelah kita merdeka.

Saya masih ingat ketika kuliah di IPB dulu, pada tingkat akhir, saya sekaligus tinggal di pesantren, dan ada kebiasaan yang saya ikuti dari senior kami, yaitu mendatangi ulama untuk belajar ilmu agama. Tetapi tradisi itu lambat laun menghilang.

Barangkali, tradisi mendatangi orang-orang berilmu perlu kembali dimasyarakatkan di kalangan siswa dan mahasiswa. Pada masa-masa liburan, perlulah mereka dianjurkan untuk berkelana, mendatangi orang-orang berilmu. Mereka tentu saja bukan hanya ulama atau yang menguasai agama, tetapi dalam makna yang lebih luas, misalnya petani yang maju, perajin yang handal, peternak yang sukses, ahli botani yang sudah pensiun, sejarawan yang faqih ilmunya.

Bahkan, mendatangi orang berilmu dapat menjadi tugas atau PR bagi siswa-siswa SD, SMP, dan SMA ketika mereka libur semester atau libur akhir tahun akademik. Mereka dapat ditugaskan untuk mendatangi orang berilmu/tokoh (bukan birokrat) di lingkungannya atau kalau bisa di kota lain (agar mereka dapat berkelana), atau ditugaskan menuntut ilmu/keterampilan ke suatu tempat yang jauh dari rumahnya, yang memungkinkannya pergi berkelana.

Saya sangat menganjurkan anak-anak/orang muda diberi kesempatan dan dorongan untuk berkelana. Karena jauh dari orang tuanya akan memberinya pelajaran hidup yang sangat berharga. Berkelana akan mengajarinya bahwa kehidupan itu memerlukan kerjasama dan toleransi, pertolongan dan tenggang rasa, kepedulian dan kemauan berbagi. Mereka juga akan belajar bahwa manusia tidak selalunya sebaik orang-orang yang ada dalam keluarganya, teman dan gurunya di sekolah.

Maka, wahai orang tua, rancanglah pengelanaan untuk anak-anak Anda! Pengelanaan yang akan membawanya ke tempat orang-orang berilmu.

 

  1. salam kenal yaaa…

  2. bagaimana memperoleh+menambah bekal ilmu pengetahuan dan metode pola pembelajaran+pengajaran, kesemuanya diperoleh dan berlaku sesuai zaman nya alias berbeda zaman lain pula corak warna berikut pilihan konsekwensinya.

    dahulu kala berbekal fisik yang kuat+niat nan kokoh berkelana mendatangi dari pelosok jauh mendekati sumber pengetahuan bersama disertai adab tata krama bagaimana cara memperolehnya, itu merupakan seni dan ke pribadi an tersendiri, berbudi pekerti menanti ke ridhloan guru menurunkan ngangsu kawruh ilmu alus+kasar seperti telah di ulas+di kupas makna tersembunyi dibalik yang nampak dengan apik diatas.

    kini semuanya telah berlalu seiring waktu, karena barokah sekaligus bencana teknologi itu
    “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat dalam waktu bersamaan”
    saat kini berbekal fisik kuat melekan+niat lemah jga berkelana mendatangi dari pelosok berlipat lebih jauh mendekati sumber pengetahuan bersama disertai atau tanpa adab tata krama bagaimana cara memperolehnya, ini merupakan seni dan keterampilan kelihaian tersendiri, tinggal mengunduh tanpa permisi, dapat banyak+lebih lengkap, sayang hanya dapat jasad raganya tanpa kehadiran ruh dan sukma nya. . .. jika Anda menghendakinya,
    dimintai pasword+bayar dulu baru ruh dan sukma itu menghadirimu . . .

    tiada yang gratis, padahal aku sukanya itu yang gratis-2an sahaja, jadi selama ini menjadi
    trend perilaku, hanyalah mengumpulkan jasad/onggokan bangkai ilmu pengetahuan, tanpa
    mampu dan bertanya kepada siapa untuk menghidupkan+memanfaatkannya . . . .

    jumpa lagi, lama tak bertegur sapa mbak murni, apa khabar. . . .

  3. […] Makalah Pengembangan Sekolah Berbasis RisetMemaknai InternasionalisasiYang Telah Hilang : Mendatangi Orang-Orang Berilmu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: