murniramli

Kebijakan itu Harus Dikawal

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Serba-serbi Indonesia on April 1, 2012 at 11:33 pm

Suatu kali kawan saya memutuskan untuk memberikan uang jajan bulanan kepada anaknya yang duduk di bangku SD kelas 5. Biasanya uang jajan dia berikan setiap hari, tetapi dia ingin melihat, apakah anaknya bisa mengatur keuangannya dengan baik selama sebulan. Selain diberi uang jajan, si anak juga membawa bekal setiap hari. Sebenarnya menurut saya, uang jajan sudah tidak perlu lagi. Kalau toh hendak diberikan, maka sebaiknya dimasukkan langsung ke tabungannya.

Sayangnya teman saya terlalu sibuk, sehingga tidak sempat mengawasi bagaimana anak menggunakan uang yang diberikan kepadanya. Sesekali memang dia sempat menanyakan kepada anaknya tentang uang yang diberikan, dan si anak menjawab bahwa uangnya dipakai untuk membeli ini dan itu. Tetapi, teman saya katanya belum pernah mengecek barang-barang yang dibeli tersebut. Kecurigaan mulai muncul dari suaminya yang melihat uang receh yang mereka kumpulkan dan taruh di lemari untuk keperluan membeli sayur, dll terlihat berkurang. Teman saya tidak ingin anaknya merasa dicurigai, maka dia menanyakannya pelan-pelan saat menjelang tidur. Dan si anak tidak mengaku. Bisa jadi memang, si anak tidak mengambilnya.

Cerita di atas adalah perkara yang sering dihadapi oleh orangtua di manapun. Masa-masa ketika anak diajari untuk memberikan tanggung jawab kepada anak. Macam-macam kebijakan/kiat yang diterapkan orangtua. Ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Kebanyakan dari yang tidak berhasil sebenarnya tidak salah menerapkan kiat-kiatnya, tetapi kelemahannya pada mengontrol proses. Kebijakannya hanya sampai pada perintah dan tidak ditindaklanjuti dengan pengawalan.

Hal yang sama sering terjadi di sekolah. Kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan, jika dia seorang yang anti kemapanan, maka tentu banyak program yang sudah dicanangkannya. Implementasi dari program tersebut bermacam-macam. Ada yang dilimpahkan kepada wakasek untuk menindaklanjutinya, ada yang diserahakn langsung kepada guru untuk dilaksanakan, dan ada pula yang langsung dikerjakan oleh kepala sekolah.

Pelimpahan kepada wakasek dan penugasan langsung kepada guru, bukan langkah yang salah dalam menerapkan kebijakan sekolah. Tetapi adalah tidak sesuai dengan konsep manajemen partisipatif, apabila kepala sekolah hanya menunggu di belakang meja, laporan dari bawahannya. Kesulitan pelaksanaan sebuah kebijakan akan lebih dipahami oleh si pemberi kebijakan apabila ada pengawalan dalam penerapannya. Pemahaman pada pelaksanaan kebijakan di lapangan menjadi data yang baik bagi pimpinan sekolah untuk merumuskan kebijakan selanjutnya.

Sama halnya dengan kebijakan BBM bersubsidi yang baru saja (dan saya kira akan terus) menjadi masalah di tanah air, jika tidak segera dibangun sistem yang efisien dan efektif. Pemerintah selama ini mengeluarkan kebijakan subsidi BBM untuk orang miskin, tetapi tidak mengawal kebijakan itu di lapangan. Para pemegang kebijakan hanya duduk di belakang meja, menunggu laporan. Laporan yang masuk kepada mereka pun adalah laporan kasar yang hanya menyebutkan ada penyelewengan subsidi yang ternyata dimanfaatkan oleh orang kaya. Berapa persen penyelewengan tsb, dan bagaimana bentuk penyelewengannya sama sekali tidak pernah dilaporkan secara detil. Lalu, berdasarkan laporan yang kasar, pemerintah hendak membuat kebijakan baru lagi dalam bentuk yang kontroversial, yaitu menaikkan harga BBM, dan memberikan subsidi  yang disebut BLT. Pemerintah membantu rakyat miskin sebesar Rp 150 ribu per bulan selama enam bulan. Pemerintah lupa, bahwa kenaikan BBM akan berdampak pada kenaikan harga semua produk, bukan saja pada transportasi sehari-hari rakyat. Jadi, subsidi sebesar itu tidak akan menolong sama sekali.

Negara-negara maju yang notabene gap ekonomi penduduknya tidak terlalu menyolok, dengan mudah menerapkan sistem penyamaan harga BBM, baik untuk si kaya maupun si miskin. Jepang misalnya, bukan penghasil minyak, dan semua keperluan BBM diimpor. Fluktuasi harga BBM di negara ini sering terjadi sejalan dengan kenaikan harga minyak internasional, tetapi fluktuasi harga tidak pernah melewati angka 1000 yen, oleh karenanya tidak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Lalu, apakah subsidi tidak ada bagi orang miskin? Karena gap yang tidak besar, maka subsidi diberikan kepada seluruh rakyat dengan besaran yang berbeda yang disesuaikan dengan penghasilan keluarga. Tetapi ada juga besaran subsidi yang diberikan sama, misalnya subsidi pendidikan. Sebenarnya tidak bisa murni dikatakan subsidi, sebab pembiayaannya berasal dari pajak masyarakat. Tetapi, kebijakan tersebut dapat berjalan dengan baik karena sistemnya yang terbangun dengan baik, dan kebijakan yang terkawal melalui sistem survey dan evaluasi kebijakan yang berjalan rutin.

Sebuah kebijakan tanpa pengawalan pihak pemegang kebijakan akan sama saja hasilnya. Manajemen pengawalan kebijakan tentu saja dapat dilaksanakan oleh pihak lain yang memiliki ilmu (bukan bayaran), sebab orang yang berilmu akan melaporkan lebih dari apa yang ditugaskan kepadanya, sementara orang bayaran hanya melaporkan apa yang ditugaskan, tak lebih, bahkan kadang tidak jujur. Laporan yang disampaikan, ketika dibaca oleh pemegang kebijakan, barangkali tidak akan menimbulkan empati dan hanya menjadi sekedar pengetahuan saja. Bahwa rakyat menderita karena BBM naik, hanya dipahami sebagai pengetahuan oleh pemerintah. Tetapi karena mereka tidak pernah merasakan penderitaan itu, dengan gampang seorang gubernur di Jawa mengatakan kenaikan itu hanya seharga dua putung rokok.

Demikianlah, empati pada permasalahan, atau pemahaman mendalam terhadap permasalahan tidak cukup hanya dikaji dari angka-angka yang dilaporkan dari balik meja, tetapi akan muncul dari pengamatan langsung di lapangan tanpa embel-embel. Maksudnya, peninjauan mendadak, bukan yang diumumkan jauh-jauh hari, sehingga sudah disiapkan dengan matang oleh para bawahan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: