murniramli

Memberikan PR di Musim Liburan secara Cerdas

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan pra sekolah, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Sains, Taman Kanak-Kanak on April 2, 2012 at 11:05 pm

Saya sedang berada di rumah teman saya, dan mengamati anaknya yang sedang mengerjakan PR dari gurunya untuk mengisi liburan. Soal-soal PR diberikan guru lewat blog, dan komunikasi dengan siswa dilakukan via fesbuk. Anak teman yang baru setahun pulang dari Jepang menanyakan beberapa kata bahasa Indonesia yang tidak dia ketahui artinya untuk menjawab pertanyaan guru tsb.

Saya terpesona dengan sistem pembelajaran yang sungguh berbeda dengan jaman saya dulu. Jika dulu, semua PR diberikan dengan cara kami mencatat apa yang dituliskan guru di papan tulis atau didiktekan oleh guru, maka sekarang anak-anak tinggal masuk ke web sekolah, klik nama guru bersangkutan, atau bergabung dengan jejaring sosial guru, dan akan sampailah mereka pada soal-soal PR.

Karena anak teman bersekolah di sebuah SMP Islam, maka PR yang diberikan antara lain mencatat khutbah Jumat. Adapula PR, yang tampaknya dari guru IPS atau keterampilan, si anak diminta mencari gambar penyajian makanan secara prasmanan, dan menguraikan makanan apa saja yang ada di dalam gambar. Si anak pun bertanya apa arti prasmanan kepada saya. Ya, wajar saja karena dia baru saja pulang ke Indonesia setelah menghabiskan SD-nya di Jepang. Dengan mengklik kata kunci tsb di laman Google, maka muncullah aneka gambar yang bisa diambil. Tetapi persoalan berikutnya adalah naman makanan yang tersajikan. Untuk memecahkan masalah ini saya bukan orangnya, maka saya minta dia menanyakan kepada mamahnya atau mbak yang membantu di rumah.

Saya terusik menanyakan bagaimana dengan teman-teman yang tidak mengakses internet dari rumah, bagaimana mereka mengerjakan PR-nya? Katanya, anak-anak tersebut harus pergi ke kafe net, atau  meminta tolong kepada temannya yang bisa mengakses internet.

Sebenarnya tidak terlihat adanya keburukan dalam pemberian PR melalui internet tsb. Anak-anak yang bisa mengaksesnya di rumah dengan mudah mengklik dan otomatis dia akan memiliki keahlian mem-browsing apa saja yang ingin diketahuinya dari internet. Anak-anak yang tidak memiliki akses internet di rumah juga menggunakan akal pikirnya untuk dapat mengetahui PR-nya melalui datang ke kafe net atau bertanya kepada temannya.

Tetapi tidak disadari ada efek negatif yang muncul dengan metode ini. Anak teman saya yang mengakses PR-nya dari fesbuk gurunya, kemudian selalu terlihat di depan komputer dengan layar yang menyajikan fesbuk. Tidak mungkin kalau dia hanya mengecek fesbuk gurunya, dan tentu saja dia bebas mengakses fesbuk siapapun yang termasuk teman gurunya. Memang mungkin saja gurunya hanya berfesbuk sekedar untuk menyampaikan PR kepada murid-muridnya, tetapi memperkenalkan media ini perlu dibarengi dengan kesopanan, etika dan moral dalam menggunakannya. Adapun anak-anak yang mengaksesnya dari kafe net lebih tidak bisa terkontrol lagi. Sebab dia dapat mengklik situs yang sebenarnya tidak boleh dia buka. Ketika mencari gambar di Google, tak jarang muncul gambar yang tidak senonoh. Anak-anak tidak bisa dipantau apakah dia mengkilk gambar tsb atau tidak.

Jadi, memberikan PR via internet ataupun dengan cara tertulis di ruang kelas, namun mencari jawabannya di internet akan berdampak sama. Kesemuanya dalam pengerjaannya memerlukan bantuan pengawasan dari orang tua.

Sebenarnya, PR dapat diberikan dengan cara yang lebih cerdas. Misalnya saja, PR tentang penyajian makanan prasmanan seperti di atas. Bisa saja guru membuat peraturan bahwa PR tsb harus diselesaikan melalui observasi langsung ke restoran yang menyajikan makanan prasmanan. Guru memberikan nara sumber beberapa restoran atau warung di sekitar sekolah yang dapat dijangkau anak-anak dengan naik sepeda atau jalan kaki. Anak-anak akan mendatangi restoran tsb, secara berkelompok atau sendiri dan tentunya sudah dilatih sebelumnya bagaimana meminta ijin dengan baik kepada pemilik resto atau warung untuk memotret dan bertanya nama-nama makanan.

Supaya tidak merepotkan pemilik warung, ada baiknya guru sebelumnya meminta ijin terlebih dahulu kepada semua pemilik resto atau warung yang dilist sebagai nara sumber, bahwa nanti akan ada siswa-siswanya yang datang untuk melihat bagaimana sistem penjualan makanan secara prasmanan.

Guru pun dapat kreatif membagi-bagi siswa dalam beberapa kelompok, sehingga tidak semua siswa mengamati penyajian makanan prasmanan, tetapi juga sistem penyajian dan penjualan yang lain. Hasil setiap kelompok akan dipresentasikan di depan kelas. Pada saat itu, anak-anak dari kelompok lain diminta mencatat hasil kelompok yang sedang berpresentasi. Dengan demikian, mereka dapat saling belajar.

Memberikan PR kepada siswa di musim liburan perlu diperbaharui dengan mempertimbangkan waktu yang panjang, dan prinsip menggali rasa ingin tahu siswa, serta mendorong siswa untuk mengalaminya sendiri. PR dalam bidang ilmu sains hendaknya mengajak siswa untuk mencari dan menguji coba, layaknya detektif atau peneliti. Misalnya, bagaimana caranya membuat apel tidak cepat coklat, cara menyimpan pisang supaya tidak segera mencoklat, anak-anak di daerah yang sedang dilanda Tomcat, diminta untuk mempelajari tempat-tempat Tomcat bersarang, dan bagaimana cara menghindari serta tindakan pengobatan kalau terkena.

Saya sering merasa miris dengan pengetahuan anak-anak terhadap pepohonan, persawahan, dan tanaman yang ada di sekitarnya. Negara ini negara agraris, tetapi banyak anak yang tidak tahu yang mana tanaman padi, yang mana jagung, yang mana kedelai, padahal mereka sehari-hari mengkonsumsi makanan yang berasal dari tanaman-tanaman tsb. Sayang sekali, pengenalan pada alam hanya diberikan sekedar sebagai ceramah dan tayangan gambar melalui power point oleh guru-guru. Saya tidak yakin, anak-anak mengenal pohon-pohon yang ada di sekolah dan rumahnya. Saya tidak yakin mereka tahu nama bunga-bunga yang ada di pekarangan sekolahnya.

PR ilmu-ilmu eksakta sudah saatnya dibuat lebih membumi. Dengan memberikan soal-soal yang terkait dengan kehidupan siswa sehari-hari. Ketimbang memaksanya memelototi soal-soal di buku untuk menghitung luas dan keliling persegi panjang, mengapa dia tidak diminta menghitung luas meja, keliling lemari yang ada di rumahnya. Mengapa mereka tidak diminta mencari tahu minuman apa yang ada di rumahnya, dan mencatat kandungannya, lalu mencari tahu apakah itu berbahaya bagi tubuh atau tidak?

Pendidikan di tanah air harus kita ubah dari pola dominasi guru di kelas dengan model ceramah menjadi pola belajar kreatif yang memberikan peran lebih kepada siswa untuk menjadi investigator, menjadi peneliti kecil-kecilan. Anak akan lebih memahami dengan baik apa yang sudah pernah dia lihat, dia rasakan, dengar, dan pegang. Oleh karenanya, memberikan tugas pun hendaknya mengaktifkan semua inderanya.

Lalu, bagaimana mengubah pendidikan di tanah air?

Pertama, kepada gurulah saya berharap, agar anak-anak didorong untuk mencintai alamnya, melalui proses belajar langsung di alam. Untuk sampai kepada proses ini, guru harus senantiasa berpikir memformulasikan tugas/PR yang merangsang keingintahuan anak, yang mendorong mereka untuk berinteraksi dengan alam dan lingkungannya sehari-hari.

Kedua, proses belajar mengajar di sekolah tidak akan berhasil apabila orang tua tidak terlibat. Apabila ayah sibuk pada hari kerja, demikian pula ibu, maka usahakannlah menyediakan hari libur sebagai hari mengajak anak berpergian ke alam bebas, ke persawahan, ke kebun-kebun buah, ke pegunungan, ke pantai, di mana saja yang dia bisa mengenal negerinya secara langsung.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: