murniramli

Makalah di FOSMA REBORN

In Makalah on April 7, 2012 at 8:45 am

ORANG JEPANG BISA, MENGAPA KITA TIDAK BISA?

-BELAJAR DARI BUDAYA, CARA PIKIR DAN ETOS KERJA ORANG JEPANG-

Murni Ramli

 Makalah ini disampaikan pada Kegiatan FOSMA REBORN ESQ 165 Wilayah Jawa Tengah dan DIY
25 Maret 2012 di Gedung Serba Guna Politeknik Negeri Semarang

Pendahuluan

Bukan saja karena kebangkitannya pasca tsunami yang meluluhlantakkan bagian utara Pulau Honshuu yang menyebabkan Jepang dipuji tak habis-habisnya, tetapi karena prestasi yang telah ditunjukkan oleh negara yang luasnya tak lebih dari Pulau Sumatera ini sejak kekalahannya dalam PD II. Keberhasilannya menjadi the most leading innovative country membuat Jepang menjadi pusat perhatian dunia.

Kekalahan dalam PD II yang ditandai dengan hancurnya wilayah Hiroshima dan Nagasaki, kehancuran akibat gempa besar di Kobe tahun 1995, dan sapu habis tsunami tahun 2011 adalah peristiwa-peristiwa yang tidak menyebabkan Jepang mati tenggelam, tetapi justru menjadi negara yang semakin berjaya. Lalu, apa yang menyebabkan mereka dapat bangkit dari kehancuran adalah pertanyaan besar yang semestinya bisa dijawab orang-orang asing yang pernah tinggal di Jepang dan berinteraksi dengan masyarakatnya.

Namun, perlu diketahui membicarakan penyebab keberhasilan sebuah negara pada saat ini, tentunya tidak dapat hanya dengan melihat kondisi yang berlangsung sekarang, tetapi kita perlu menengok sejarah yang menyertainya. Demikian pula dengan membahas Jepang dewasa ini, perlu dibarengi dengan bagaimana sikap hidup, tradisi, dan nilai-nilai moral yang dipahami para pelaku pembangunan yang menyebabkan kemajuan tersebut.

Oleh karena itu, makalah ini akan menyajikan kunci-kunci keberhasilan Jepang pada era sebelum krisis 2009 (dewasa ini Jepang tidak dalam kondisi ekonomi dan politik yang baik), dengan menyoroti nilai-nilai moral, sikap dan budaya yang lahir pada era feodal, dan yang menjadi pendorong keberhasilan Jepang pada era 60-an.

Kode Etik Samurai (Bushido) dan Kebangkitan Jepang

Untuk memahami karakter orang Jepang kebanyakan, kita perlu menjelajah ke masa lampau dan menengok bagaimana kehidupan para samurai. Mengapa samurai, dan mengapa bukan orang Jepang kebanyakan? Hal itu karena etika moral yang berlaku sejak dulu hingga kini di Jepang adalah etika yang lahir dari kalangan samurai.

Para samurai adalah kasta teratas pada era Tokugawa/era feodal yang berkedudukan di bawah daimyou atau tuan tanah yang mengabdi kepada para penguasa (shogun). Para samurai berperan sebagai “tentara”-nya para daimyou. Mereka bertugas untuk mengawasi tanah-tanah daimyou dan menarik pajak dan upeti dari rakyat. Sebagai anggota dari kalangan atas dengan tugas sebagai abdi daimyou, maka para samurai haruslah dari kalangan yang terpilih dan terdidik, baik dari segi seni menggunakan senjata, maupun dari segi sikap moral/akhlaknya.

Sebagai panduan sikap moral dan kode etik para samurai lahirlah bushidou (secara sederhana diterjemahkan menjadi “jalan prajurit/ samurai”) yang sebenarnya bersumber pada ajaran Konghuchu. Dalam bukunya, Nitobe Inazou mengatakan ada beberapa kode etik yang harus dipatuhi oleh para samurai yaitu,

  1. Gi (adil)
  2. Yuu (berani)
  3. Jin (baik hati/manusiawi)
  4. Rei (menghargai)
  5. Makoto (Kebenaran/Jujur)
  6. Meiyo (kehormatan)
  7. Chuugi (Loyalitas)
  8. Kou (Kepatuhan)
  9. Chi (Kebijaksanaan)
  10. Tei (menghormati yang tua)

Selain itu, masih banyak sikap hidup samurai yang bersumber dari ajaran Konghuchu. Salah satunya tentang ajaran hemat, sebagaimana disampaikan berikut ini :

Saya akan bangun jam enam setiap pagi dan tidur jam dua belas setiap malam. Kecuali jika ada tamu, sakit, dan hal-hal lain yang tak terhindarkan, saya tidak akan bermalas-malasan. Jika saya merasa ada godaan untuk malas, saya akan memanggil ruh baik saya untuk mengusir ruh jahat saya. Saya akan menghindari omong-kosong, walaupun dengan mereka yang lebih rendah (derajatnya). Saya akan ugahari (hemat) dalam hal makan dan minum, hanya untuk menghilangkan rasa lapar dan haus. Saya akan makan pada jam-jam yang pasti.

Karena berada pada posisi kelas teratas dalam masyarakat, maka banyak orang awam yang ingin menjadi samurai dengan cara mulai menerapkan kode etik samurai. Sekalipun sejak masa Meiji (1868-1912), samurai mulai memudar, kode etiknya telah menyatu dalam masyarakat Jepang, dan terus ditaati hingga saat ini.

Pada masa Edo, karena menjadi negara yang terisolir dari dunia luar, maka orang Jepang berusaha menciptakan sesuatu yang terbaik. Para ahli kerajinannya menghasilkan karya dengan sebaik-baiknya, dan berharap dapat mengalahkan negara di barat. Pada masa ini pula mereka telah mengenal robot boneka yang disebut karakuri ningyou, dengan fungsi mengantarkan teh.

Ketika pengaruh barat benar-benar masuk ke Jepang pada masa Meiji, mereka sudah siap berhadapan dengan teknologi yang dibawa oleh orang barat. Orang Jepang sudah cukup terdidik untuk menyerap dan mengembangkan teknologi tersebut. Dan yang sangat unik adalah bahwa mereka tidak mengubah tradisinya ketika teknologi barat melanda negeri ini. Mereka masih menjalani ritual keagamaan yang secara rutin mereka lakukan, tetap memegang teguh senioritas, dan bekerja setia di satu perusahaan. Budaya kerja barat yang lebih mengutamakan prestasi orang per orang tidak mampu menggantikan budaya kerja tim yang diyakini sebagai yang terbaik di Jepang.

Praktek yang sama berlangsung tatkala mereka hancur di saat PD II. Untuk bangkit kembali setelah PD II, jiwa dan semangat sebagai samurai muncul dan menguat. Orang Jepang bekerja dengan sistem yang sangat disiplin, mematuhi waktu, dan bekerja keras, hingga mereka mampu menunjukkan kepada dunia, dengan lonjakan ekonominya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1964, dengan keberanian yang sangat gigih, insinyur Jepang menyelesaikan proyek shinkansen, yang menandai era “percepatan” di Jepang.

Selama 45 tahun beroperasi, shinkansen telah mengangkut 7 milyar penumpang, dan belum pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan orang. Kecelakaan kecil adalah pintu yang tertutup dan barang penumpang terjepit di antara pintu. Dalam penghitungan 160.000 kali perjalanan, shinkansen, di tahun 1997, mengalami keterlambatan 18 detik, dan di tahun 2003 menjadi 6 detik.

Keberhasilan Jepang selanjutnya adalah sebuah fenomena yang sangat menarik, karena bangsa ini mampu menyejajari bahkan melampaui negara-negara barat yang semula menjadi patronnya. Dengan prinsip kemandirian, enggan meminta bantuan kepada negara lain, Jepang mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dengan sumber daya alam yang minim dan negara yang kecil, siapa pun bisa bangkit dari keterpurukan. Prinsip kemandirian menjadi norma yang diajarkan kepada generasi mudanya. Anak-anak SD senantiasa diajak untuk bekerja dalam kelompok, tetapi tidak boleh menggantungkan diri kepada temannya. Anak-anak SMA diperkenankan untuk melakukan kerja sambilan, karena orang tua Jepang berprinsip biaya sekolah saja yang wajib mereka tanggung. Adapun untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier, si anak harus bekerja sendiri. Mahasiswa-mahasiswa di Jepang sebagian besar melakukan kerja sambilan di tengah-tengah kesibukan perkuliahan. Bahkan ada yang sudah membiayai kuliahnya sendiri.

Inovasi yang Tiada Henti

Jepang menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah paten tertinggi. Pada tahun 2010, terdapat 806.181 paten di Jepang. Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk dua kali lebih besar daripada Jepang, tetapi hanya mampu menghasilkan 187 paten pada tahun 2010.

Apa yang menyebabkan Jepang sangat kaya dengan paten? Apa yang menyebabkan orang Jepang sangat rajin berinovasi?

Kalau kita telusuri, paten pertama di Jepang diperoleh oleh seorang teknisi di sebuah pabrik cat. Dia berhasil menemukan cat anti korosif. Paten yang kedua dan sebagian besar paten di Jepang selanjutnya juga banyak diperoleh oleh kalangan industri. Dengan demikian, semangat untuk selalu berinovasi lahir dari para teknisi, ahli dan pekerja di dunia industri. Tidak hanya itu, pemerintah juga sangat membantu perkembangan dan gairah untuk mematenkan produk dengan mengeluarkan kebijakan dan hukum tentang paten sejak jaman Meiji yang terus mengalami penyesuaian dan perkembangan.

Jiwa kreatif juga lahir dari hasil didikan yang cenderung menekankan proses belajar inquiry. Sebagai contoh, dalam sebuah jam pelajaran integrated study (shogotekina gakushuu jikan) di sebuah SD di daerah dekat Tokyo, siswa belajar tentang cara menanam padi hingga memanennya. Saat akan merontokkan bulir padi dari malainya, guru menganjurkan siswa untuk membawa alat apa saja yang menurut mereka dapat meronttokkan padi. Keesokan harinya, anak-anak membawa segala macam benda, seperti sisir, saringan bolong-bolong, pisau, dll. Mereka kemudian mempraktekkan dengan alat masing-masing, dan akhirnya dapat melihat dan memahami alat mana yang paling efektif, serta bagaimana agar perontokkan berlangsung dengan mudah.

Semangat untuk memahami dari proses mengalami terus diasah sejak duduk di bangku SD. Di SD Jepang bahkan ada program Riset mandiri atau Jiyuu kenkyuu yang diberikan kepada siswa sebagai kegiatan libur di musim panas. Siswa dapat meriset apa saja, dari mulai menghitung belalang yang ada di rumpun padi, hingga menghitung waktu yang mereka tempuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Sangat menarik juga bahwa banyak larangan dipahami oleh siswa melalui proses belajar inquiry dengan metode meneliti. Sebagai contoh, pada sebuah SD di distrik Wakkanai di utara Jepang, sekelompok anak kelas 5 SD melakukan penelitian tentang kandungan soft drink untuk mencari jawaban mengapa anak-anak dilarang untuk terus-terusan mengkonsumsi soft drink. Hasil penelitian anak-anak menunjukkan kandungan zat yang berbahaya bagi tubuh yang ada pada setiap soft drink. Oleh karena itu, mereka membuat poster tentang hasil penelitian, dan oleh guru, poster dipasang di dinding sekolah, sebagai referensi bagi siswa yang lain.

Kebiasaan meneliti dan menyampaikan hasil penelitian terus dikembangkan di dunia perguruan tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen bukan hanya sekedar untuk memenuhi tugas akhir sebagai mahasiswa, atau untuk mendapatkan kredit kenaikan pangkat bagi dosen. Tetapi, riset dilakukan karena kepenasaran dan keinginan mengetahui sesuatu. Selama menjadi mahasiswa doktor di Nagoya University, penulis telah melakukan beragam riset dan itu bukan karena diharuskan oleh kampus, tetapi karena inisiatif pribadi.

Selain menulis di jurnal ilmiah, mahasiswa doktor juga diwajibkan menghadiri seminar ilmiah (nasional maupun internasional) dan menjadi presenter minimal dua atau tiga kali (tergantung fakultas). Tetapi, karena kesadaran perlunya menyebarkan hasil penelitian, maka banyak mahasiswa yang melakukannya dengan sukarela dan berkali-kali, bahkan mahasiswa S1 dan S2 pun turut hadir dan kadang-kadang melakukan presentasi.

Mahasiswa Jurusan Psikologi di Fakultas Pendidikan kampus saya diwajibkan untuk membuat poster hasil penelitian, dan mereka diuji secara terbuka dengan metode ini. Setiap mahasiswa akan berdiri di dekat posternya, dan harus menjawab pertanyaan pengunjung (pengunjung diundang secara terbuka, baik dari kalangan dosen, peneliti maupun mahasiswa). Dosen penguji akan berkeliling memberikan penilaian kepada setiap mahasiswa berdasarkan uraian yang diberikannya.

Di luar dunia akademisi, masyarakat Jepang juga adalah kumpulan orang-orang yang senantiasa bergerak melakukan perubahan dan inovasi. Tahun 1954, didirikan sebuah perkumpulan penemu Jepang (Nippon Hatsumeikai) yang beranggotakan masyarakat awam yang gemar menciptakan barang-barang unik. Setiap tahun mereka mengadakan pertemuan untuk melaporkan hasil temuan dan kreasi baru masing-masing anggota. Hasil kreasi orang-orang Jepang yang tergabung dalam asosiasi ini dapat dilihat di situs http://www.hatsumei.or.jp/ryutu/01.html

Di tingkat masyarakat, juga rutin diselenggarakan kompetisi robot yang melibatkan masyarakat awam dari segala usia. Masing-masing kelurahan diperkenankan menghias robot-robotnya berdasarkan nilai atau budaya khas setempat. Ajang kompetisi yang sehat, tampaknya juga menjadi pemicu kreativitas di Jepang.

Prinsip Kaizen dan konsep 5S dalam Bekerja

Perusahaan otomotif Toyota adalah terbesar kedua di dunia setelah General Motors. Dunia juga menjadi terkesima dengan perkembangan industri otomotif di Jepang. Merk-merk ternama, seperti Honda, Suzuki, Nissan, Kawasaki, Yamaha, Kubota adalah merk kendaraan bermotor yang menjanjikan sebuah kualitas terpercaya.

Tidak hanya itu, raksasa industri otomotif tersebut tidak hentinya melakukan inovasi dalam menciptakan kendaraan yang terefisien dan ternyaman. Toyota dan Honda baru-baru ini mengeluarkan mobil dengan tenaga listrik yang dikenal dengan mobil hybrid. Nissan dan Honda mengembangkan mobil-mobil kecil untuk para orang tua yang jumlahnya lebih banyak daripada orang mudanya. Sementara, industri bermotor roda dua tidak memasarkan produknya di Jepang, tetapi membidik penduduk negara-negara Asia Tenggara. Pengguna mobil dan sepeda kayuh adalah yang terbesar di Jepang, sementara pengguna motor hanya sedikit, dan umumnya anak muda saja.

Toyota dan Honda juga mengembangkan sayap di bidang yang sangat beragam, seakan membuktikan mereka tidak akan bisa mati. Saat ini, keduanya tengah bersaing menghasilkan robot-robot seukuran manusia yang mampu memudahkan kehidupan manusia, misalnya robot Asimo milik Honda yang mampu menyambut tamu, bercakap, dan menyalami pengunjung. Atau robot pembantu rumah tangga yang dibuat oleh Toyota.

Tidak hanya itu, produk elektronik Jepang juga merajai dunia. Sony, Panasonic, Toshiba, Fujitsu, Ricoh, Nikon, Yashica, Minolta, Sharp, adalah merk-merk ternama yang menjadi acuan kualitas tinggi produk elektronik. Jepang, dalam hal ini telah menciptakan maniak produk Jepang di kalangan konsumennya. Cina dan Korea memang juga sedang menggeliat dengan produk-produk elektroniknya, tetapi orang-orang Cina dan Korea merupakan pembelanja elektronik Jepang terbesar. Para wisatawan dari kedua negara ini adalah sengaja menghabiskan uang untuk memborong produk asli Jepang.

Adalah Toyota yang memperkenalkan kata kaizen (pembaharuan/perubahan menjadi baik) untuk pertama kalinya, sebagai slogan perusahaan. Kaizen adalah sebuah konsep kerja yang tidak mengenal waktu, dan selalu mendorong peningkatan produksi melalui penurunan angka kegagalan dan ketidakefektifan. Di Toyota Production System, konsep Kaizen juga melahirkan metode produksi Just In Time (JIT) dan Jidouka. Konsep JIT adalah konsep penggunaan bahan yang efektif, diadakan saat dibutuhkan saja. Sehingga tidak ada penumpukan di gudang. Sedangkan konsep Jidouka adalah aliran kerja yang secara otomatis akan berhenti apabila terjadi error/anomali. Prinsip kaizen diterapkan dalam tim-tim kerja atau kelompok produksi di Toyota. Melalui Kaizen, setiap pekerja dalam tim diharapkan mampu menghindarkan kerugian akibat waktu, proses kerja, dan kecatatan produk karena keteledoran kerja. Kecacatan produk dianggap sebagai pemborosan, oleh karena itu, perlu dihindari dengan senantiasa melakukan perbaikan.

Sejak beberapa tahun yang lalu, konsep Kaizen dikembangkan menjadi konsep baru yang dikenal sebagai 5 S, yang terdiri dari :

1)    Seiri (Sortasi)

2)   Seiton (Penyusunan)

3)   Seiso (Pembersihan)

4)   Seiketsu (Standardisasi)

5)   Shitsuke (Konsisten atau disiplin dalam penerapan sistem)

Kelima aturan di atas adalah sejalan dengan konsep JIT. Melalui seiri, bahan-bahan produksi diseleksi berdasarkan keperluannya/kemanfaatannya. Barang-barang yang tidak bermanfaat harus dikeluarkan dari gudang. Selanjutnya, barang-barang yang sudah diseleksi, dikelompokkan berdasarkan urgensi pemakaiannya. Inilah yang dikenal sebagai Seiton. Barang-barang harus ada pada saat dibutuhkan, di tempat yang sudah disepakati bersama, dan mudah diambil. Dengan sistem ini, keberadaan stok bahan, dan besaran produksi dapat diatur.

Prinsip Seiso atau pembersihan adalah cerminan karakter masyarakat Jepang pada umumnya. Dengan lingkungan kerja yang selalu dalam kondisi bersih, maka faktor kegagalan produksi karena kotoran, atau kecelakaan kerja karena lantai licin, dll dapat dihindari. Kebersihan menjadi sesuatu yang mendarahdaging dalam diri orang Jepang. Mereka terkenal dengan konsep pemilahan sampah yang sangat ketat, sebagai contoh di Nagoya, pemilahan sampah dikategorikan dalam 7 kelompok, yang dibuang pada hari tertentu di stasiun pembuangan sampah. Mobil-mobil pengangkut sampah tidak akan mengambil sampah yang dibuang bukan pada harinya atau jamnya. Sampah-sampah basah langsung digilas dalam mobil pengangkutan, sehingga dapat segera diproses. Sampah plastik yang dapat didaur ulang, selanjutnya diproses untuk kemudian dipakai sebagai bahan baku pembuatan kain. Baju seragam yang dipergunakan beberapa pekerja di beberapa perusahaan, pabrik, toko, dll juga terbuat dari bahan recycle. Di lingkungan perguruan tinggi, kertas-kertas didaur ulang untuk menjadi tissue toilet yang dipakai di lingkungan kampus.

Orang Jepang memiliki prinsip tidak boleh merugikan dan merepotkan orang lain. Karenanya, seseorang yang menumpahkan air di lantai akan membersihkan kotoran tersebut dengan kesadaran bahwa kalau tidak segera dibersihkan, maka orang lain akan celaka karenanya. Oleh karena itu, setiap kali selesai menggunakan toilet, setiap orang dengan sendirinya akan melap dudukan toilet, dan menyiramkan air ke saluran pembuangan. Kerusakan tidak dibiarkan memasalah, tetapi segera diperbaiki supaya tidak jatuh korban.

Prinsip selanjutnya adalah seiketsu atau standardisasi.  Standardisasi yang dimaksud adalah dalam pembuatan produk dan sistem kerja. Seorang pekerja tidak diperkenankan menyalahi aturan standar pembuatan produk, sekalipun dia menemukan teknik yang lebih efektif. Apabila teknik tersebut hendak dipergunakan, maka perlu ada nemawashi, yaitu penyampaian usulan dari bawah ke atas. Artinya, si penemu teknik baru harus mensosialisasikan idenya kepada rekan-rekannya dalam satu tim, kemudian menyampaikan usulan tersebut kepada tim yang lain, atasan, hingga pucuk pimpinan membicarakannya dalam rapat anggota. Dengan standardisasi dalam pekerjaan akan mudah mengecek kesalahan produksi terletak di mana.

Standardisasi juga banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam pengurusan SIM. Seseorang yang mahir mengemudi tetapi tidak mematuhi aturan standar berkendara, misalnya sebelum mulai menyalakan mobil, seorang supir harus mengecek posisi kaca spion, memasang sabuk pengaman, dan mengecek kiri, kanan, depan dan belakang, selanjutnya dapat menyalakan dan menjalankan kendaraan. Standardisasi juga berlaku dalam pengurusan KTP asing, pembayaran pajak dan asuransi kesehatan.

Prinsip terakhir adalah shitsuke atau konsisten dan disiplin dalam penerapan kerja. Keempat prinsip di atas tidak dapat terlaksana dengan baik jika tidak dikunci dengan prinsip kedisiplinan dan kekonsistenan. Orang Jepang terkenal dengan ketekunannya menerapkan sebuah teknik baru dan tidak mudah mengganti kebijakan atau sistem baru. Proses penggantian biasanya harus dilengkapi dengan data-data riset tentang kelayakan penggantian dan introduksi sistem baru. Ada pepatah Jepang yang mengatakan bahwa seseorang harus duduk di atas batu selama tiga tahun untuk merasakan hangatnya batu tersebut. Maksudnya, untuk mengetahui detil sesuatu maka dibutuhkan waktu yang lama. Mengetahui dalam hal ini bukan sekedar tahu, tetapi sekaligus memahami seluk beluknya, dan menjiwainya.

Pelajaran Yang Bisa Dipetik

Berdasarkan uraian di atas ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi lebih baik,

1)    Memperkuat pemahaman terhadap keyakinan beragama.

Etika moral di Jepang dikembangkan dari prinsip-prinsip agama, dan ini juga terjadi di beberapa negara. Oleh karena itu, adalah mutlak bagi kita, sebagai orang yang beragama untuk berusaha lebih jauh memahami aturan dan etika dalam masing-masing agama kita. Dengan menjadikan itu sebagai landasan pikir dan polah, maka tidak akan ada penghalang kemajuan. Bagi orang Islam, segala pekerjaan dianggap sebagai ibadah, dalam kerangka pekerjaan itu diniatkan untuk kebajikan, dikerjakan sesuai dengan aturan Allah, dan ditujukan untuk mendapatkan ridha Allah semata. Semakin dalam pemahaman beragama seseorang maka semakin arif dia dalam mensikapi sesuatu. Pendapatnya akan jauh dari prasangka dan keinginan nafsu saja, tetapi lebih banyak diwarnai oleh proses berpikir yang berdasarkan tuntunan agama

2)   Memetakan sikap dan perilaku

Banyak dari kita yang tidak menyadari potensi diri, dan bahkan tidak mampu mengenali apakah yang kita kerjakan berdampak buruk atau tidak. Oleh karena itu, untuk dapat mengubah diri, hal pertama yang harus dilakukan adalah memetakan kegiatan sehari-hari, dan memetakan sikap/perilaku baik dan buruk yang kita miliki. Jika kita sudah mampu menilai diri sendiri, dan mampu mengubah prinsip “hidup mengalir seperti air”, menjadi “hidup mengikuti zaman dalam prinsip yang benar”, maka seseorang akan dapat menjadi baik. Hidup mengalir seperti air adalah prinsip yang baik dari sudut pandang bahwa seseorang tidak terlalu berambisi pada kekayaan dunia. Tetapi akan sangat tidak cocok jika itu diterapkan dalam hal berkreasi, dan bangkit dari keterpurukan. Perilaku-perilaku yang baik harus terus diterapkan dan diasah, perilaku buruk ditinggalkan

3)   Selalu berprinsip harus berkarya

Berkarya tidak mengenal waktu dan tempat. Karya pun tidak memangdang ukuran, besar atau kecil. Dengan prinsip ingin membuat orang senang dan berbahagia, banyak orang Jepang yang sukese menemukan inovasi baru. Mereka juga tidak tergantung pada uang dan kondisi makmur untuk membuat sebuah karya nyata. Sebagaimana bangsa Jepang bangkit dari proses kehancurannya, mereka tidak pernah menganggap bencana yang menimpanya sebagai akhir dan takdir mati, tetapi dari bencana-bencana, mereka berupaya menemukan hal yang baru untuk dapat mengantisipasi bencana selanjutnya. Akibat gempa Kobe di tahun 1995, Jepang memperketat standardisasi bangunan tahan gempa. Akibat tsunami 2011 yang menyebabkan hancurnya pusat nukilir Daiichi Fukushima, para ahli Jepang berusaha membuat robot yang dapat dipekerjakan di dalam reaktor nuklir.

4)   Tidak ada yang akan berhasil tanpa ketekunan

Ketekunan akan mengantarkan pada pemahaman yang mendalam. Banyak orang muda yang selalu menginginkan hasil yang baik tetapi dalam waktu instan. Banyak pula yang tidak mempedulikan proses. Sehingga kadang kala dalam perkuliahan, mahasiswa lebih terpaku untuk memperoleh nilai yang baik, tetapi tidak peduli dengan proses perubahan sikap, perilaku, dan kejiwaannya. Sebagai contoh, tugas-tugas dikerjakan dengan mengcopy paste sumber-sumber di internet tanpa proses membaca detil, memahami isinya, dan bahkan mengkritisi pendapat penulis yang dinukil. Akibatnya, mahasiswa lulus dengan IPK yang tinggi tetapi tidak mampu mengembangkan diri.  Ini juga tampak ketika bekerja, umumnya mereka menjadikan kerja pertama sebagai batu loncatan dan tidak terlalu tekun mendalami pekerjaannya. Ketekunanlah yang menyebabkan para pakar Jepang mampu meraih 19 nobel dalam bidang sains. Ketekunan pula yang membuat produk yang mereka hasilkan berkualitas dunia.

5)   Kemandirian.

Ketika menghadapi bencana tsunami baru-baru ini, pemerintah Jepang enggan menengadahkan tangan kepada pemerintah negara lain, dan sekalipun banyak negara menawarkannya. Pemerintah Jepang beranggapan bahwa mereka telah mengembangkan sistem anti bencana yang standar dan canggih, sehingga tidak memerlukan uluran tangan orang lain. Apabila negara lain terlibat, maka mereka tidak akan mampu menilai sistem yang telah mereka rancang. Prinsip kemandirian dalam hidup menjadi ajaran mutlak untuk dapat memahami kesulitan hidup. Pembiasaan dan pendidikan yang selalu mengarahkan pada kreativitas berpikir akan merupakan bekal yang baik untuk menjadi mandiri. Kemandirian juga harus dibarengi dengan sikap bangga pada barang sendiri, bangga menggunakan produk-produk yang sederhana, tetapi buatan sendiri. Orang Jepang sangat fanatik terhadap produk hasil karya mereka.

Praktek

Latihan mengembangkan prinsip Kaizen

  1. luar biasa untuk orang jepang…dan tentunya juga pada penulisnya…yang merasakan dan melakukan langsung proses di sana…waktunya kita terapkan dikit-demi sedikit pada diri kita, kita tak akan dapat mengubah orang lain..kalau diri kita belum mulai melakukan perubahan…

    • Wah, niki Pak Jahid ? Pripun kabare, Pak?
      Saya sampai Kamis ada di Solo.
      Pak Jahid, bagaimana dg Mba Sri di Karanganyar? Apakah bisa dihubungi?

  2. kepekatan ilmu+kedalaman pemahaman+kemampuan menghimpun kemudian merangkai kan dan menyulam jahit oase idea oase keilmuan selama ini berdiri terpisah menjulang dengan megahnya enggan menyatu . . . dengan kelembutan+ketelitian merajut menjadi sebentuk rangkaian pengenalan pengetahuan dan pengertian benar-benar baru bagi (aku) mungkin juga mereka yang baru mengetahui dan menjadikan pemahaman juga penjiwaan lebih baik lagi menyegarkan bagi kami dalam memaknai keterkaitan kekerabatan pelbagai oase ilmu dan pengetahuan selama ini terpencar pisahkan selayaknya enclave eksklusif diantara ketidak tahuan juga kebodohan sekaligus ketidak pahaman mengetahui dan mengenali juga memahami menyikapi potensi kemampuan diri kita sendiri dan orang lain selama ini menjadi sebentuk pergaulan dan pemahaman kurang begitu baik semoga berubah menjadi tercerahkan usai membaca dan menyimak kemudian memahami juga menghayati ulasan diatas diurai kan begitu apik juga runtut dalam keindahan tata bahasa mengubah kepekatan bahasa bacaan teksbook menjadi encer lembutnya hingga mudah di cerna+telan+dengar+nikmati sembari membagi sebarkan ilmu bagi yang begitu awam ini, tanpa harus mengikutinya sebagai pembelajar dalam mata kuliah di kampus ibu bapak dosen . . . .

    diulas sedari purwo (akar penyebab, latar belakang masalah selama ini tersembunyi dan jarang dibahas, sekalipun dalam literatur textbook) hingga dipaparkan dalam babaran lakon panjang namun tak bosan untuk membacanya

    dibahas di era madyo (langkah apa yang musti dilakukan, begitu konkret/nyata. kalau perlu dilakukan perubahan, tanpa nasihat bersifat menggurui apalagi memojokkan bahkan marah, atau begitu menggelora bagai deburan ombak, yang ada hanya menggugah kesadaran, membangkitkan kemauan menguatkan jadi lebih baik memperbaiki diri memberi jalan keluar mengalir lembut tidak lemah tapi kuat)

    diakhiri oleh paragraph wasono (penutup, membahas maknawiyah apa saja bisa disarikan pemahamannya dan apa khasiat barokah bermanfaat bagi mereka berkenan membacanya semoga mampu menjawab rasa penasaran mengundang pertanyaan selama ini sebatas misteri membawa sifat dari keheranan hingga mengagumi dan memuji. semoga kisah cerita dari membawa perubahan ORANG JEPANG BISA, MENGAPA KITA TIDAK BISA? – BELAJAR DARI BUDAYA, CARA PIKIR DAN ETOS KERJA ORANG JEPANG-

    menantikan tulisan mbak Murni Ramli, merenda rangkaian serpihan makna konsep ilmu berserakan didalam pelbagai judul buku pegangan+teks dari dan oleh mereka pengarang sengaja atau tidak ditulis sedari hulu begitu kental berat pekatnya menjauhi muara kemudahan begitu ringan dan nyaman bermakna bagi semua kalangan pembaca+ pembelajarnya. Karena nawaitu niat tujuan seorang menulis, menyebarkan ilmu mengamalkan pengetahuan mencerdas cerahkan orang lain dari selubung kegelapan+kebodohan diri membuka pencerahan jiwa menularkan kepada orang lain menabung amal di dunia memanen di akherat sebagian dari niat seseorang untuk berguru bukan?

  3. menarik artikelnya…makasih udah share yaaa…

  4. Tulisan yang membuka pikiran dan cakrawala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: