murniramli

Menggaji Lulusan SMK setara Diploma dan S1

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan on Mei 4, 2012 at 3:09 pm

Hari Rabu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke SMK Mikail Surakarta. Bapak Kepala sekolah mengundang saya untuk mensosialisasikan program Sekolah Berbasis Riset yang pernah diselenggarakan di Semarang, dan beliau pun menghadirinya. Saya bertemu dengan 7 orang pejabat teras sekolah tsb, dan berdiskusi tentang konsep SBR dan kemungkinan pengembangannya di SMK Mikail.

Sebelum acara diskusi dimulai, saya diajak berkeliling oleh Bapak Kepala Sekolah untuk melihat bengkel dan suasana praktek siswa-siswa SMK Mikail. Saya cukup terkejut karena apa yang saya saksikan hampir sama dengan apa yang pernah saya lihat di Jepang. Beberapa kali saya mengunjungi SMK di Jepang dan pernah pula menuliskan laporannya di blog ini, sehingga saya cukup bisa membuat perbandingan.

Saya terkesan dengan peralatan canggih yang dimiliki sekolah. Siswa-siswa masing-masing menghadapi satu mesin, dan bekerja berdasarkan design gambar yang ada. Sebelumnya saya sempat ditunjukkan oleh Bapak Kepala Sekolah beberapa design yang diharuskan untuk dibuat dalam panduan kurikulum. Hasil kerja siswa segera dievaluasi hari itu juga oleh instuktur/guru pembimbing. Dengan sistem ini, kemampuan siswa dapat terukur dengan baik.

Selain mengasah keahlian siswa, hal penting yang harus dibangun di SMK adalah jiwa pekerja yang disiplin, tertib, teliti, dan serius. Dan ini terlihat pula pada siswa-siswa SMK Mikail yang hari itu sempat saya amati. Mereka bekerja tanpa bicara. Sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan saya, yang barangkali cukup asing, karena mereka semua laki-laki, dan saya perempuan, dan memakai kerudung pula. Tetapi barangkali mereka sering mendapat kunjungan, karena saya dengar dari teman dosen, lulusan SMK ini tidak ada yang menganggur, dan selalu diincar oleh perusahaan dalam dan luar, sehingga keberadaan saya tidak mengganggu konsentrasi mereka.

Membentuk karakter siswa SMA/SMK cukuplah sulit, tetapi saya barangkali sama dengan para guru di SMK Mikail, bahwa perlu ada aturan ketat yang diterapkan kepada mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari di sekolah. Jika di SMA, hal ini masih jarang terlihat, tetapi di SMK, siswa-siswa tampaknya telah dididik untuk memiliki jiwa pekerja yang penuh kedisiplinan. SMK Mikail mengadopsi sistem kerja sekolah Swiss German. Saya teringat bahwa SMK di Jepang sebenarnya juga dikembangkan dengan mencontoh sistem sekolah kejuruan yang ada di Jerman.

Suasana praktek yang serba serius, tidak ada yang bercanda, tertawa, berbicara, ditambah dengan kebersihan ruangan kerja dan lingkungan sekolah adalah salah satu fenomena yang juga saya saksikan di SMK di Jepang. Bahkan di salah satu sekolah yang saya kunjungi di Jepang, setelah menggunakan alat, para siswa wajib membersihkannya, dan guru akan mengecek hasil pembersihan tersebut. Dan sebelum pulang sekolah, para siswa berkewajiban mengepel lantai sekolah.

Dengan didikan yang keras, baik dari segi pematangan keahliannya sebagai teknisi menengah, dan juga dari pembimbingan sikap-sikap dan karakter pekerja ideal, maka lulusan SMK di Jepang sangat dicari oleh perusahaan dan industri. Mereka umumnya tidak usah masuk dalam bursa kerja, karena sebelum lulus, para perusahaan sudah memperebutkan mereka.

Lalu, bagaimana sistem penggajiannya ketika mereka bekerja di perusahaan ?

Industri Jepang menganut sistem rekruitmen berdasarkan keahlian/skill, dan bukan berdasarkan latar belakang pendidikan atau degree yang dimiliki pelamar. Artinya, lulusan SMK dan lulusan S1 dalam bidang teknik akan digaji dengan gaji awal yang sama. Sekalipun tidak menempuh pendidikan S1, lulusan SMK dianggap sudah menguasai prinsip-prinsip kerja di pabrik/industri.

Bagaimana dengan di Indonesia ?

Inilah yang dikeluhkan guru-guru di SMK di tanah air, dan juga siswanya. Karena di Indonesia, sistem penggajian umumnya berdasarkan gelar akademik, maka lulusan SMK digaji lebih rendah daripada lulusan S1, sekalipun dari segi keahlian lulusan SMK lebih baik. Dampak dari sistem ini, sekitar 60% lulusan SMK Mikail cenderung memilih lanjut ke S1. Tentu saja hal ini baik, namun akibatnya kebutuhan teknisi menengah di dunia industri mengalami penurunan. Padahal, jika kita belajar dari perkembangan industri di Jepang, mereka bisa maju dengan pesat karena terpenuhinya tenaga teknisi menengah.

Apabila angka melanjutkan siswa SMK ke Perguruan Tinggi cukup tinggi, maka otomatis orientasi belajar di SMK akan bergeser dari mengasah keahlian dalam bidang profesi, menjadi mengasah keahlian akademik untuk lulus UN. Lalu, di mana letak kekhasan SMK ? Apakah selanjuntnya SMK akan menjadi semacam SMA plus keterampilan? Kalau seperti itu jadinya, lalu buat apa pemerintah mendorong kebijakan 7:3 untuk SMK dan SMA ?

Apabila industri di tanah air ingin dikembangkan secara lebih pesat dan serius, salah satu langkahnya adalah menyiapkan tenaga teknisi menengah yang siap pakai. Dan untuk mewujudkan hal ini, harus ada langkah dan upaya mendorong lulusan SMK untuk langsung bekerja. Salah satunya dengan menetapkan persamaan gaji dan penghargaan, juga perlakuan promosi yang sama antara lulusan SMK dengan lulusan Diploma atau S1.

Tentu saja, kesempatan menuntut ilmu yang lebih tinggi tidak boleh dikekang. Oleh karena itu, perlu dibuka peluang bagi lulusan SMK yang sudah bekerja 3 tahun atau lebih apabila dia berminat untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, ini sebenarnya tidak perlu diambil apabila di dalam industri sudah berkembang sistem training peningkatan keahlian, dan adanya jaminan penggajian yang meningkat berdasarkan masa kerja dan keahlian seseorang.

Sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan penghargaan yang lebih baik kepada lulusan SMK, jika pemerintah berpihak pada kemajuan industri nasional.

 

 

  1. […] 10 Jurus Menghadapi Ujian NasionalSukarmawan : Lulusan SMK Kab. Bekasi Kurang BerkualitasMenggaji Lulusan SMK setara Diploma dan S1 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: