murniramli

Dilema Pendidikan : Mengajar dengan bahasa Inggris atau tidak ?

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Organizational Learning, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah on Mei 5, 2012 at 11:55 pm

Perlukah mengajar dengan bahasa Inggris atau tidak ? Kemarin saya ditanya oleh ibu-ibu guru di sebuah SD tentang penggunaan bahasa Inggris di dalam kelas saat melakukan pembelajaran. Pertanyaan yang sama sering saya dengar dari bapak ibu guru di lapangan, bagaimana menyikapi kewajiban memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran sains, matematika, dan ekonomi di sekolah-sekolah SBI/RSBI? Beberapa guru terpaksa harus melaksanakannya, padahal dia sendiri menyadari betul bahwa karena bukan bahasa ibunya, maka banyak hal yang tidak bisa tersampaikan dengan baik. Lain lagi komentar seorang guru yang mengatakan, rasanya “aneh” memakai bahasa Inggris di hadapan siswa yang notabene lebih lancar bicaranya.

Alhasil, banyak sekolah yang mengambil kebijakan bilingual dengan pemakaian bahasa Indonesia yang lebih besar porsinya tentunya. Dengan kebijakan bilingual, para guru dapat bernafas lega dari tekanan wajib mengajar dengan bahasa Inggris. Mereka hanya menggunakan bahasa Inggris ketika mengawali dan menutup kelas. Atau pada istilah-istilah yang mudah dipahami, misalnya saat bertanya, atau menyuruh siswa tenang. Dapatkah guru disalahkan karena tindakannya tersebut ?

Saya tanyakan kepada ibu-bapak guru tersebut, apakah merasa tenang dengan model bilingual seperti itu ? Ya, cukup menenangkan karena mereka dapat berkonsentrasi pada membahas konten/isi materi yang semestinya dipahami oleh siswa. Tetapi di lain sisi, mereka juga was-was apabila tindakan ini teramati pengawas sekolah atau pihak pemerintah yang memeriksa standar-standar SBI.

Saya tidak meyakini bahwa para pengawas tsb memprihatinkan kekhawatiran, rasa was-was, dan ketidaknyamanan para guru dalam melaksanakan profesinya di lapangan. Sekalipun ada jaminan keselamatan, bahwa guru harus berada dalam kondisi aman, tidak terancam bahaya dalam menjalankan profesinya, namun pernahkah pemerintah menganggap “kegelisahan” dan “stress” yang muncul sebagai akibat diwajibkannya mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas, sebagai sebuah “ancaman” atau kondisi yang mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas ?

Kepekaan seperti itu tampaknya tidak muncul, dan banyak dari pejabat pemerintah yang menggunakan kalimat saktinya, “itu sudah ada dalam peraturan”, atau “kami hanya menjalankan tugas”, ketika mereka ditanya bagaimana sebaiknya menyiasati kebijakan tsb. Dan entahlah apakah kondisi guru tersebut sampai ke telinga para pemegang kebijakan melalui laporan para pengawas. Seandainya sampai, maka tentulah sudah ada kebijakan yang memperbaharui kebijakan yang ditetapkan sejak 2005 ini.

Mengingat RSBI sudah muncul sejak 2005, maka tentulah setelah berjalan hampir enam tahun, pemerintah sudah seharusnya memberikan laporan tertulis kepada rakyat tentang fakta keberhasilan dan kegagalan yang terjadi di lapangan. Rakyat ingin mengetahui, apa perbedaan yang terjadi antara sekolah yang tidak bertaraf internasional dg SBI, di mana letak signifikansi keberhasilannya, sehingga semua sekolah akan tergerak mengembangkan diri ke arah SBI. Sayang sekali, tidak ada laporan seperti ini, karena barangkali tidak dianggarkan. Padahal, saya yakin para pemegang kebijakan memahami betul konsep PDCA (Plan-Do-Chech-Action) dalam pengelolaan pendidikan sebuah negara.

Jikalau Anda ditanya oleh para guru dengan pertanyaan yang sama seperti judul dalam tulisan ini, bagaimana respon, advise, saran yang akan Anda berikan?

Saya, karena pernah menjadi guru selama kurang lebih 10 tahunan, bisa merasakan “pemicu” stress yang sering dialami guru, dan bagaimana besarnya gangguannya dalam proses belajar-mengajar di kelas. Sehingga, jawaban yang saya berikan: tidak usah dipaksakan. Kembalilah Bapak/Ibu pada konsep mendidik yang sebenarnya. Kalau Bapak/Ibu masih berpegang pada konsep pendidikan yang ideal, maka mengajarlah sesuai hati nurani, mengajarlah untuk satu tujuan memberikan pemahaman yang mendalam kepada para siswa, mengajarlah untuk memperbaiki sikap dan perilaku siswa. Oleh karenanya, apabila bahasa Inggris menjadi penghalang mencapai tujuan tsb, maka tidak usah memakainya di dalam kelas. Jika memang harus dipakai, maka praktekkan saja ketika ada pengawas 🙂

Seandainya, pemerintah “nekat” memberlakukan kebijakan ini ke depan, maka harus ada perbaikan dalam pembinaan kemampuan bahasa guru. Bukan dengan mengirim mereka ke lembaga kursus bahasa saja, tetapi pemerintah wajib mendatangkan native speaker atau yang selevel untuk menjadi pendamping guru mengajar di kelas. Dengan terbiasa berhadapan dengan native, maka guru akan sekaligus belajar bahasa dari segi pengucapan yang benar, tata bahasa yang benar, dan juga ada atmosfer “paksaan” berbahasa Inggris. Dengan proses ini, yaitu menciptakan atmosfer berbahasa yang memaksa pelaku menggunakan bahasa Inggris, maka guru-guru akan lebih lancar berbahasa Inggris, cepat menguasainya, dan memiliki percaya diri. Pertanyaannya, sanggupkah pemerintah membiayai semua ini?

Kembali kita berharap kepada pemegang kebijakan atau para pengusul kebijakan ini, agar mereka merenung dengan hati nuraninya, mau dibawa ke mana pendidikan anak-anak Indonesia kelak? Cobalah mereka masuk ke kelas-kelas, menunggui  para guru mengajar, atau cobalah mereka mengajar di kelas SMA atau SMP dengan menggunakan bahasa Inggris, agar mereka merasakan betapa sulitnya itu dan bukankah kita sedang melaksanakan sebuah kepura-puraan? Pura-pura menjadi orang asing di hadapan murid berkebangsaan Indonesia, di tanah air kita sendiri.

 

 

Iklan
  1. laporan pandangan mata di kelas-kelas RSBI, bahasa Inggris sebagai pengantar untuk pelajaran MIPA akhirnya menjadi tidak begitu penting, lebih ditekankan pengenalan istilah-istilah asing yang sering digunakan. Seringkali caranya dengan memberikan power point dalam bahasa Inggris dan guru menjelaskan dalam bahasa, sehingga siswa sekaligus memperoleh informasi secara bilingual dan sesedikit mungkin kesalahan pemahaman materi. Muncul kesulitan pada saat test mapel MIPA yang khusus diberikan untuk sekolah-sekolah RSBI, seringkali siswa masih kesulitan dalam mengartikan soal karena agak berbeda dengan istilah-istilah yang biasa mereka peroleh dari guru. Untuk tahun ini selain siswa yang diberikan test, guru MIPA RSBI diharuskan menjalani test juga. Pemerintah seharusnya menegaskan kembali keunggulan yang ingin ditawarkan di sekolah RSBI, membuka sekolah RSBI yang betul-betul RSBI (bukan meng-RSBI kan sekolah yang sudah ada), menekankan nilai-nilai nasional seperti adat istiadat, budaya dan sopan santun ketimuran, serta agama. Jangan sampai akhirnya sekolah-sekolah ini kehilangan jati diri nya sebagai sekolah Indonesia dan menyerap kesalahan makna ke-internasional-an.

  2. lihatlah secara internasional, lihatlah pilipin anak kecil TK aja sdh bisa bahas inggris, lihatlah singapura,saudi,cina,hongkong, jepang dan negara-negara asia yg lainya.. jangan seperti katak dalam tempurung… di ajak maju kok banyak mengeluh… kamu kalian itu profesional atau cuma profesi yg beli ijazah aja… kpn generasi mau maju kalau kalian ga mampu… jangan selalu salahkan pemerintah…salahkan dirimu sendiri…”kenapa kailan bodoh” krn otak kalian otak udang!

    • @Diyono : Pak Diyono ysh, terima kasih atas komentarnya yg sangat sopan. Sy ingin bertanya, pernahkah Anda menghadiri kelas Bapak/Ibu guru yg menggunakan bahasa Inggris di kelas di Sekolah2 SBI ? Sy kira mungkin tdk pernah krn Anda seorang nurse :-), tp paling tidak Anda pasti pernah menghadiri kelas2 Bpk/Ibu guru Anda di TK hingga lulus dari pendidikan perawat, apk pernah Anda diajar dalam bahasa Inggris ? Saya menduga kuat Anda pasti sangat fasih berbahasa Inggris shg menganggap para Bpk/Ibu guru tdk profesional di bidangnya hanya krn mereka tdk bisa mengajar dg bahasa Inggris. Sekali waktu, berkunjunglah ke sekolah. Jk Anda sudah punya anak, datangilah sekolahnya, lihatlah apk anak Anda sdh diajar secara profesional.
      Saya sdh menghabiskan enam tahun lebih kuliah di Jepang, sekaligus meneliti sekolah2 di sana, dan saya tdk menemukan satu kelas pun (di SD, SMP, SMA) yg diajar dg bahasa pengantar bahasa Inggris, kecuali bahasa Inggris dg pengajar native speaker. Tp perlu Anda ketahui, dunia mengakui pendidikan di Jepang sangat berkualitas, dan guru2 mereka adalah yg sangat profesional, berkomitmen tinggi di dunia, sampai2 banyak negara maju yg melakukan studi banding di sana. Apk guru2 itu bisa berbahasa Inggris? Anda yg fasih berbahasa Inggris, jk bertemu dg mereka pasti akan menertawainya dan menganggap mereka “tidak profesional” hehehe….

      Keluhan guru2 di lapangan menurut saya sangat wajar jk kita meninjau kebijakan SBI yg “sangat kacau” yg ditetapkan pemerintah. Silakan Anda baca kajian ttg lahirnya kebijakan itu, dan pahami betul fakta di lapangan (di sekolah2), lalu baru Anda boleh menuduh siapa yg salah.

      Kalau yg Anda tuduh sbg berotak udang itu adalah saya yg menulis artikel ini, maka saya sih terima-terima saja (dg otak udang itu sy telah mendapatkan beasiswa studi dan meraih gelar doktor sy di Jepang—bukan dg beli ijazah hehehe). Tp kalau yg Anda katakan berotak udang itu adalah para guru,maka sy yg akan maju membela mereka, dan membuktikan siapa yg berotak udang, Anda atau para guru yang telah mendidik Anda?

      Note : Biasanya saya mendelete komentar dalam blog ini yg disampaikan secara tdk sopan, tp saya tdk ingin mendelete komentar Anda sbg bukti ada manusia terdidik yg sangat tidak sopan dalam bertutur. Adab sopan santun yg telah diajarkan orang tua Anda, guru-guru Anda selama ini, ke mana Anda buang?

  3. boleh nambahi bumbu pemahaman potret situasi . . . mbak murni (memakai bahasa jawa, 3 (bahasa Indonesia+Inggris+Jawa), apa ya di delete?

    geguyonan dunia pendidikan = gurauan dunia pendidikan

    geguyonan dunia pendidikan

    RSBI, RENCANA SEKOLAH BESAR IURAN

    RSBI saiki lagi digandrungi wong sa Indonesia. Wiwit saka Sabang nganti teka Merauke pada kepingin nyekolahake anake menyang RSBI. Daya pangaribawane tembung “internasional” pancen ngedab-edabi banget. Apa ta sing diarani standar internasional? Krungu-krungu gurune yen mulang nganggo basa Inggris. Pancene saiki yen ora nganggo cap internasional ora payu, kurang gagah. Mula sekolahan-sekolahan uga mbudidaya kanthi cara apa wae supaya sekolahane klebu golongan internasional mau. Apa akibate ?Siji, gurune dipeksa sinau maneh. Pancen wis wajibe guru-guru kudu tansah nambah ngelmu. Ana sing les basa Inggris, ana sing sekolah S2 lan uga ana sing sekolah S3 barang. Sing lulusan PGSLP minggir, jalaran pancene wis wayahe pensiun. Guru-guru yen mulang kudu nganggo basa Inggris, paling ora dwi bahasa utawa bilingual yaiku : Basa Inggris, Matematika, IPA.

    Kanggone guru, kudu bisa mulang nganggo basa Ingris, mula sadurunge ngomong mikir dhisik basa Inggrise piye. Contone guru kandha :

    1. Basa Jawa : Ngapa kowe bola-bali metu ?
    Basa Indonesia : Mengapa kamu kembola-kembali keluar ?
    Basa Inggris : Why you back-beck go out ?

    2. Basa Jawa : Indah mlaku-mlaku ana ing mall.
    Basa Indonesia : Indah berjalan-jalan di mall.
    Basa Inggris : Indah walking-walking in the mall.

    3. Basa Jawa : Lha iya. Aku mau ngomong apa ?
    Basa Indonesia : Lha iya. Saya tadi bilang apa ?
    Basa Inggris : Lha iyes. I was said what ?

    Iku lagi perkara basa. Gurune bingung golek tembung , muride ya bingung anggone nampa. Ngerti-ora ngerti, dianggep ngerti. Yen ora ngerti nganggo basa Tarzan.
    Durung perkara liya-liyane.

    Negara sing kena kanggo conto : Malayasia. Malaysia saiki nyuwak basa Inggris dianggo wulangan-wulangan ing sekolahan. Jalaran bijine wulangan sing nganggo basa Inggris mudhun.

    Kanggone murid, mikir isine wulangan wae wis kangelan. Isih ditambahi basane guru sing ora cetha. Dadi kangelan pindho.

    Jalaran internasional wragade uga internasional. Ana sing kandha yen sumbangan saka wong tuwa wali murid ora mung atusan ewu repis, nanging yutan. Malah-malah ana sing kandha nganti puluhan yuta. Lumrahe sing bisa mlebu menyang sekolah RSBI anake wong sugih-sugih, nanging iku lagi tembung jarene. Mula tembung RSBI banjur diplesetake Rencana Sekolah Besar Iuran.

    Ana maneh tembung plesetan sing rada nggatelake ati yaiku : guru lan kepala sekolah RSBI itu tegas-tegas, tegel tur …….

    Ardijono Hali Ratnanto
    kuwi oleh-olehe wong studi banding soko sing kami mambu luar negeri opo sink jenenge nginter nasional lha padahal irunge lagi wae bindeng amargo keno plue hong kong phoe

    coba yen rai buntet mesti (m)Bandang sak karepe dhewe ora peduli opo cekak cukup kangelane poro gurune nerangake pangerten lan ilmu sing rung dikawruhi poro muride (m)Bandung wae podho ora ngerti panggona-ne ono peta, opo maneh dolan mrono, khoq diajar wulang kutho Wales (ane pancing), London (kang ngerti yo Nginden, kulone Londen) ….. lan sak panunggalane . . . , kang keblinger kuwi khoq ajak- ajak wong wargo sak negoro, sakjane sopo to yo …. kang edhian klawan waspodo … iki .. he he he

    ngutip dari : http://www.facebook.com/notes/ardijono-hali-ratnanto/geguyonan-dunia-pendidikan-gurauan-dunia-pendidikan/10150887631352851?notif_t=like

  4. Bagus artikelnya 🙂
    Walau saya guru bahasa Inggris…(lancar berbahasa Inggris) tapi saya lebih suka gaya pendidikan di Jepang spt yang telah dituliskan diatas…inti dari proses belajar itu…ya ISI nya. Biarkan anak-anak didik belajar dengan bahasa yang mereka pahami, setelah itu…baru kembangkan kemampuan berbahasa mereka.

    Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya bisa dipelajari dan dipraktekkan jika individu tersebut mau mempelajarinya. Nah, kalau ngajarnya bahasa Inggris…itu baru wajib gurunya untuk lancar berbahasa Inggris, itu baru efektif (begitu juga saat pelajarannya bahasa-bahasa lainnya).

    Trims.

  5. Yang saya bingung, di sekolah saya; saya menyampaikan kalau pun sekolah menggunakan dwi bahasa pada kelas bilingual, namun untuk mapel Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Agama (Isalam) itu tidak boleh menggunakan bahasa Inggris, karena namanya mengajarkan Bahasa Indonesia / Jawa kok menggunakan Bahasa Inggris. sedangkan di luar negeri yang bahasa pengantarnya saja menggunakan Bhasa Inggris tetapi kurikulum sekolah tersebut mengajarkan Bahasa Indonesia saja gurunya juga menggunakan pengantar Bahasa Indonesia. Lha ini di Indonesia mengajarkan Bahasa In donesia, bahasa resmi negara, lha kok disuruh menggunakan bahasa Internasional (Inggris) di sekolah SSN yang membuka kelas bilingual. Saya menyampaikan itu tetapi malah diminta untuk mencarikan aturannya. TOLONG SAYA DICARIKAN ATURAN TERSEBUT. Dan tolong dikirimkan ke email saya. terimakasih sekali saya sampaikan.

  6. ah, sebuah pemikiran bodoh dari katak dalam tempurung. merasa dirinya amat piawai dgn kemampuan mengajar, penguasaan materi pelajaran, dan buku acuan yang dimiliki. ini namanya penyakit mendadak lupa. lupa bhw sebagian besar teori dasar pelajaran dan pengajaran tdk lahir di Indonesia, lupa bhw setiap hari selalu ada pembaruan dlm pengetahuan dan teknologi yg sebagian besar dilakukan oleh bukan orang Indonesia. jika semua itu aslinya tdk dalam bhs Indonesia, mengapa khawatir menyampaikannya sesuai aslinya? justru sy menjadi ragu apakah materi yg aslinya dlm bhs Inggris tp disampaikan dlm bhs Indonesia tdk akan berubah makna dan esensinya? atau malah terjadi reduksi sebab ada kesalahan terjemahan? sungguh picik orang yg memaksa menyampaikan teori ekonomi Adam Smith tdk dgn bhs Inggris. atau menjelaskan teori Erwin Schrödinger tdk dalam bhs Inggris. drpd repot2 menerjemahkan, bukankah lebih baik dlm bhs aslinya?

    • @Mas/Mba Pencinta Internasionalisasi : hahahaha, kenapa ndak nulis komentarnya dalam English sekalian?
      Saya kuliah di Jepang Mba/Mas, dan teori yg disebutkan itu di Jepang diajarkan dalam bahasa Jepang. Lalu, apakah anak-anak Jepang tdk mengerti teori-teori itu??? Saya tidak yakin Anda lebih paham daripada mereka. Lalu di Cina, Korea, India yg notabene negara-neagra dg prestasi akademik lebih baik daripada siswa di Indonesia, apakah di sana siswa-siswa or mahasiswa di sekolah/kampus juga diajar dalam bahasa Inggris oleh gurunya untuk bisa memahami teori quantumnya Erwin Rudolf Joseph Alexander Schrödinger (btw, ini diajarkan di level univ.)??
      Hehehe, komentar Anda sebagai “pecinta internasionalisasi” menunjukkan Anda tidak memahami arti internasionalisasi selain bahwa semuanya harus diInggriskan.
      Semua negara yang pernah dijajah dan merdeka sekitar tahun 45-an (perkecualian untuk Singapura), mengalami nasib yang sama Mba/Mas Pencinta Internasionalisasi, kesemuanya adalah negara yang tdk menjadi pengembang dan pembaharu pengetahuan dan teknologi, tetapi menjadi pengonsumsi pengetahuan dan teknologi. Jangan lupa kakek nenek moyang kita dulu juga diajar dalam bahasa Belanda dan Jerman or Perancis oleh para native, karena tdk ada guru yg bisa bahasa lokal, tetapi lama-lama di pendidikan tinggi waktu itu pembelajaran akhirnya menggunakan bahasa Indonesia.Mengapa? La, pake boso Londo banyak yg tdk mengerti 🙂
      Menyampaikan sains dan teknologi tsb dalam non bahasa ibu, itu sama saja mengabaikan apa yang disepakati secara universal di UNESCO tentang pembelajaran sains dan teknologi yang harus memihak pada indigenous knowledge, salah satunya bahasa lokal. Pembelajaran sains & teknologi yang sangat western style sudah dibuktikan dalam banyak penelitian telah menghalangi kemampuan penguasaan basic dan applied science di kalangan anak-anak di negara non bahasa Inggris.

      Guru/dosen yg merasa diri amat piawai mengajar, menguasai materi ajar, dan sangat textbook minded, berarti tdk ada niat sekolah lagi heheh…
      Justru krn saya merasa ilmu itu ada di barat dan di timur, maka saya mengejar dan menghabiskan beberapa tahun usia saya di sana. Sekalipun umur sudah tak muda lagi, saya masih berniat mengejar ilmu itu sampai ke sumbernya.Insya Allah, jika diberi umur dan kesempatan.

      Saran saya, supaya komentar Anda lebih membumi, cobalah Anda menjadi guru dan mengajarkan teori-teori di atas kepada siswa SMA di sekolah reguler dalam bahasa Inggris, dan mari kita test, apakah siswa-siswa yang Anda ajar paham dg apa yg Anda sampaikan. Jika Anda sudah bisa membedakan secara mendalam (akal dan hati), apa bedanya mengajar dan mendidik, baru Anda akan bisa berkomentar tentang pemikiran “katak dalam tempurung” 🙂

      Saran kedua, coba “blusukan” kayak Pak Jokowi heheheh, ke sekolah-sekolah reguler dan saksikan realitas pendidikan di tanah air.
      Kebijakan itu menjadi sangat bijak dan tepat sasaran jika didasari pada fakta di lapangan, yg diperoleh dari hasil riset ilmiah.

      Kalau Anda memahami perbedaan bahasa di dunia, perbedaan pola pikir, gaya hidup dan budaya bangsa-bangsa yg beragam, menghargai bahwa manusia di Afrika, dan di kutub adalah juga manusia, sekalipun tdk pakai bahasa Inggris, dan Anda tidak hanya western or eastern minded, Anda baru layak menyandang gelar “Pencinta Internasionalisasi” 🙂

      Peace 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: