murniramli

Hiburan di dalam Bis

In Serba-serbi Indonesia on Mei 12, 2012 at 6:30 pm

Apa perbedaan bis patas dengan bis AC tarif biasa, dan bis ekonomi/biasa?

Dalam pemahaman saya, bis patas hanya menaikkan penumpang di terminal/halte yang sudah ditentukan. Seberapapun jumlah penumpang, semestinya bis berangkat pada jam yang sudah ditentukan. Bis patas tidak boleh menaikkan penumpang di tengah jalan, dan hanya berhenti di terminal tertentu. Di dalam bis patas tidak ada pedagang asongan, pengemis, dan pengamen. Kursinya empuk, ditata dua-dua, AC sangat dingin, tidak ada asap rokok. Kadang-kadang dilengkapi dengan toilet. Beberapa bis patas, seperti Bis Eka, malahan memberikan pelayanan ekstra, minuman aqua gelas. Dilengkapi TV (tp tidak pernah disetel), musik (kadang-kadang). Dengan aturan seperti itu, wajar jika bis patas mempunyai harga tiket yang lebih mahal.

Bis AC yang dibedakan menjadi dua, AC tarif biasa dan AC tarif AC🙂 Saya sering naik yang bertarif biasa. Ciri-cirinya, menaikkan dan menurunkan penumpang di mana saja, sesuka hati supir, kondektur dan penumpang. AC tidak terlalu dingin. Tempat duduk di dalam bis ditata dua tiga, kotor dengan sampah, pedangang asongan, pengemis, pengamen bebas naik, supir dan kondektur merokok (kadang-kadang). Dilengkapi TV (jarang disetel), musik (kebanyakan dangdut yang lagu-lagunya berbau pornografi). Harga tiket lebih murah daripada patas.

Bis ekonomi bercirikan AC alami, alias jendela dibuka lebar-lebar. Dilengkapi kain gorden yang tidak pernah dicuci, dan kadang sudah lepas sana-sini. Bau asap rokok, karena bebas merokok. Sampah di mana-mana, penumpang duduk sambil angkat kaki di kursi (ada beberapa), pedagang asongan, pengamen, pengemis bebas berkeliaran. Harga tiket sangat murah.

Tentu yang di atas adalah gambaran yang sangat subyektif. Jadi, penumpang yang kebetulan mengalami hal yang berbeda, dan kemudian membuat kriteria lain, adalah sah-sah saja.

Perjalanan jauh memang sangat mengasyikkan jika diiringi alunan musik, baik itu yang diputarkan oleh kondektur melalui tape, ataupun yang diputarkan melalui video, ataupun yang didendangkan para pengamen. Musik yang disetel di dalam bis juga sebenarnya bervariasi, namun kebanyakan dangdut dengan penyanyi yang tidak terkenal. Lagu-lagu yang mereka bawakan berkonotasi mesum, dengan penyanyi berdandan menor dan berbaju tidak senonoh. Ini selalu membuat saya muak, dan biasanya langsung tidur sambil mendengarkan iPod.

Tetapi baru-baru ini, saya naik bis Mira yang supir dan kondekturnya sepertinya fans berat Iwan Fals. Sepanjang perjalanan dari Madiun menuju Solo, lagu-lagu yang sangat populer dari Iwan Fals yang disetelkan. Dan yang cukup mengherankan, tidak ada satupun pengamen yang naik bis AC tarif biasa yang saya naiki tsb. Karena saya penggemar Iwan Fals, maka saya sangat menikmatinya. Saya kira penumpang yang lain juga. Apalagi lirik lagu Iwan, selalu menyuarakan suara rakyat. Lirik itu seakan menjadi penuntun rakyat untuk berlaku adil, menjadi cinta pada sesama, pada bangsa, sekaligus menjadi muak dan miris dengan perilaku anarkis, korupsi, dan perilaku politikus negeri ini. Saya selalu terharu tatkala Iwan menyanyikan lagu Ibu, karena lagu itu menelanjangi perasaan anak yang jauh dari ibunya, dan lebih-lebih lagi jika masih kurang kebaikan kepadanya. Lagu Gilang Rambu Anarki, membuncahkan hati ayah dan ibu yang mengharapkan sekali anak-anaknya menjadi orang yang pemberani,  berguna bagi sesamanya, menentang kekerasan, bersemangat di dalam hidupnya kelak. Saya selalu ingat almarhum Bapak saya jika mendengar lagu ini. Seperti itukah bapak dulu berharap ketika suara tangis saya terdengar pertama kali?

Dinyanyikan oleh pengamen sekalipun, lagu-lagu Iwan tetap berkesan. Berbicara tentang pengamen, saya tidak tahu apakah ada yang pernah mensurvey berapa jumlah mereka sebenarnya. Tetapi saya yakin ada musimnya, ketika jumlah pengamen rasa-rasanya menjadi sangat banyak. Kalau saya naik bis akhir pekan, jumlah mereka meningkat dua kali lipat. Pengamen sambung-menyambung, tanpa henti, membawakan lagu-lagu yang mudah dipahami, enak didengar hingga tak nyaman sama sekali.

Saya bukan membenci pengamen, sebab ada di antara mereka yang lagu-lagunya benar-benar menghibur, sehingga mendorong saya untuk memberikan mereka fee. Tetapi ada juga yang sangat mengganggu, bukannya menghibur. Di antara yang mengganggu adalah yang mengamen bertiga, dengan membawa orkestra musik ke dalam bis. Suara dan dentuman alat musik mereka membuat dada saya terkadang sakit, dan kuping ngilu. Oleh karenanya untuk menghindari sakit yang lebih parah, saya terpaksa menutup telinga, atau jika masih ada yang kosong, saya memilih duduk di baris ketiga. Setelah saya amati, umumnya pengamen memposisikan diri di baris kelima dan keenam (bagian tengah bis). Jadi, jika duduk di barisan itu, maka bersiaplah untuk sengsara mendengarkan suara dan bunyi yang memekakkan gendang telinga.

Lagu-lagu yang mereka bawakan umumnya bernuansa dangdut campur sari. Karena bukan orang Jawa asli, saya tidak begitu mengerti isi lagu. Jadi, baik musik maupun lagunya, bagi telinga saya cukup sulit menerimanya. Tetapi ada pernah pengamen dengan alat musik sederhana (ukulele) menyanyikan lagu-lagu campur sari yang sangat enak didengar. Walaupun tidak memahami makna yang dinyanyikannya, saya cukup terhibur dengan alunan musik yang sederhana, dan tidak hingar bingar.

Pengamen yang membawa orkestra band ke dalam bis saya kira perlu belajar menghibur yang benar. Kalau mereka berada di luar ruangan, maka orkestra (kendang, gitar, kerincingan) cocok saja. Tetapi, di dalam bis, yang orang-orang perlu sesekali berkonsentrasi mendengarkan teriakan kondektur menginfokan lokasi turun penumpang, suara hingar-bingar seperti itu sangat mengganggu. Para pengamen itu juga tidak peduli dengan orang-orang tua yang mungkin ada yang menderita sakit gigi, sakit kuping, sakit jantung yang kebetulan menjadi penumpang bis.

Adapula pengamen yang lirik lagunya bukannya menghibur penumpang, tetapi menjelek-jelekkan penumpang yang tidak mau memberi fee. Alih-alih memberinya uang, saya justru menjadi tidak ikhlas memberikan fee atas ketidaksantunannya itu.  Dan tampaknya tidak hanya saya, tetapi hampir semua penumpang ogah memberinya tip.

Naik-turunnya pengamen di dalam bis adalah wewenang kondektur. Oleh karena itu, untuk bisa memberikan kenyamanan kepada penumpang bis, saya kira semua kondektur sudah hafal dengan pengamen-pengamen jalanan. Barangkali ada baiknya mereka pun selektif ketika memberikan ijin naik kepada para pengamen itu. Yang membawa orkestra, selain membuat sesak bis (karena biasanya mereka bertiga), juga membuat kebisingan dan bukan hiburan. Tetapi pengamen yang bersolo karir dengan modal gitar atau ukulele umumnya bersuara lumayan. Yang terakhir ini, tidak mengapa diijinkan naik ke dalam bis.

Ada satu kejadian menarik lainnya, yaitu kondektur bis tidak mau mematikan CD playernya ketika sekelompok pengamen mulai bernyanyi. Alhasil bukan hiburan pula yang didapat, melainkan suara hingar-bingar yang tidak jelas juntrungannya. Pengamen yang tidak berani meminta ijin kepada kondektur untuk mematikan CD player di dalam bis sebelum mereka mulai mengamen, adalah pengamen yang tidak sopan🙂

Demikianlah. Hiburan di dalam bis yang merupakan lapangan kerja bagi sebagian kecil rakyat Indonesia barangkali perlu dibina dan dikembangkan ke arah yang lebih positif. Sekalipun, saya sebenarnya lebih setuju apabila mereka dikaryakan dalam pekerjaan yang menghasilkan produk barang yang dapat lebih berguna. Saya tahu banyak di antara mereka yang melakukan hal itu karena keterpaksaan, dan ada juga yang melakukannya karena iseng. Tetapi apapun alasannya, jika mereka sudah menjadikannya sebagai pekerjaan, maka akan menjadi lebih baik dan bermakna jika mereka bersungguh-sungguh dalam arti memperhatikan segala aspek ketika menghibur orang lain.

 

 

 

  1. tapi hiburan di indonesia seperti ini belum tentu kita dapat di negri sebrang sana loh… jadi yah nikmati saja selama masih ada…
    Di tunggu kunjungan baliknya yah..

  2. hiburan setiap bus kn berbeda” … jadi di nikmati saja yh nice post🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: