murniramli

Kecelakaan Bis & Etika Berkendara

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Mei 12, 2012 at 5:35 pm

Sebagai orang yang hampir setiap pekan harus menggunakan bis luar kota, saya sangat prihatin dengan kecelakaan Bis Mira Surabaya – Yogya  11 Mei 2012, yang terguling akibat supir menggunakan HP selama mengemudi, sehingga terganggu konsentrasinya. Kejadian supir menggunakan HP adalah hal yang dianggap lumrah oleh banyak penumpang, sebab penumpang tidak tahu bahwa sudah ada UU yang melarang hal itu.

Seandainya disiapkan kamera tersembunyi dalam bis, saya yakin semua supir bis akan terkena tilang. Sepanjang perjalanan dengan bis kota yang saya lakukan sebanyak 2-3 kali dalam sepekan, belum pernah saya mendapati supir bis yang saya tumpangi tidak menggunakan HP. Saking seringnya saya menyaksikan hal itu, saya sampai pada pemahaman itu lumrah saja. Sekalipun akal sehat dan hati nurani saya menganggap hal itu salah besar.

Apakah itu diperkenankan dalam aturan berlalu lintas di tanah air?

Sebenarnya tidak. UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 238 telah mengatur larangan tersebut.

 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)”

Berdasarkan UU tersebut, secara implisit menggunakan telepon genggam saat menyetir akan didenda Rp 750 ribu atau pidana 3 bulan penjara.

Bahkan dalam pasal tsb, dinyatakan segala sesuatu yang mengganggu konsentrasi mengemudi, misalnya merokok, mabuk, minum-minum, makan, berbicara dengan kondektur, memakai walkman, mendengarkan musik, dll yang bisa diintrepretasikan dalam banyak bentuk kegiatan.

Tetapi apa lacur ? Sebagai pengguna bis antarkota, bis kota, dan angkot, kita hanya dapat mengelus dada sambil komat-kamit berdoa melihat supir-supir dengan santainya memakai HP, merokok dalam bis AC, mengobrol, makan dan minum, mendengarkan musik dangdut yang disetel memekakakkan telinga.

Lalu bagaimana menghentikan kebiasaan ini?

1) Pihak kepolisian hendaknya mensosialisasikan UU di atas, dengan memasang SPANDUK di jalan, stiker di setiap kendaraan umum yang ditempel di bagian depan/ di depan supir, sehingga semua penumpang memiliki keberanian menegur.
2) Pendidikan sopan-santun berkendara harus diberikan kepada masyarakat. Pemerintah perlu mendanai Pak Polisi untuk masuk ke sekolah-sekolah, ke lembaga-lembaga dan tempat berkumpulnya masyarakat untuk menyampaikan adab dan etika berkendara
3) Harus ada gerakan yang dipelopori kaum muda atau siapa saja mengkampanyekan larangan-larangan yang disebutkan di atas
4) Penumpang yang melaporkan supir yang melanggar aturan mendapatkan reward
5) Polisi menyampaikan secara terbuka nomor-nomor yang dapat diakses (bukan satu nomor, tetapi banyak nomor) untuk melaporkan pelanggaran oleh supir dalam kendaraan umum.

Hal lain yang sangat mengganggu adalah supir merokok dalam bis AC. Pernah ada kecelakaan yang terjadi karena hal ini. Bis meledak karena ulah perokok ! Bis-bis jarak jauh, seperti Surabaya-Yogya, sudah selayaknya berhenti di terminal tt, untuk memberikan kesempatan kepada supir beristirahat. Tetapi karena mengejar penumpang, maka banyak supir yang tidak mengambil jatah istirahat, dan melarikan kendaraannya seperti kesetanan, untuk mendapatkan lebih banyak penumpang. Mereka berkompetisi satu dengan yang lain, dengan asumsi siapa cepat, akan mendapat penumpang lebih banyak, tidak peduli membahayakan keselamatan penumpang. Padahal, semuanya sudah diatur rizkinya.

Membandingkan adab dan etika supir kendaraan umum di tanah air dengan rekanan mereka yang ada di negara maju, seperti Jepang, sangatlah jauh. Bahkan, jika kriteria adab berkendara menjadi salah satu poin penggolongan sebuah negara menjadi negara maju, maka Indonesia masih sangat jauh dari hal ini.

Ada beberapa tindakan supir-supir di negara maju (contoh kasus di Jepang) :
1. Tidak merokok dalam kendaraan (semua bis di Jepang ber-AC karena negara empat musim)
2. Tidak memakai HP
3. Tidak berbicara dengan penumpang ataupun kondektur, karena tidak ada kondektur. Sistem ticketing sudah otomatis, atau tiket dibeli di tempat penjualan. Penumpang yang naik bis, tidak bisa naik dan turun bis tanpa membawa tiket
4.  Tidak makan dan minum (minum minuman botolan yang tidak memabukkan masih diperbolehkan, tetapi saya tidak pernah melihatnya).
5. Memakai sarung tangan ketika mengemudi
6. Tidak meludah
7. Tidak batuk-batuk (supir yang sakit flu, pilek, batuk atau dalam kondisi tidak fit dilarang mengemudi)
8. Tidak memakai walkman.
9. Beberapa supir bis dalam kota dilengkapi dengan head set dan mic untuk memberikan pengumuman adab berkendara,  arah tujuan, menyebutkan setiap halte bis, dan mengingatkan penumpang untuk tidak berdiri sebelum bis berhenti benar.
10. Memacu kendaraan dengan kecepatan yang sudah ditetapkan. Bis dalam kota lebih lambat daripada bis antarkota
11. Tidak mabuk
12. Berangkat sesuai dengan jadwal keberangkatan, tiba di tempat tujuan juga sesuai dengan jadwal. Umumnya tidak ada keterlambatan, kecuali terdapat hambatan dalam perjalanan

Dan penumpang bis dilarang untuk :
1. Merokok
2. Menggunakan HP (kecuali untuk mengirim pesan)
3. Makan dan minum (minum botolan masih diperkenankan)
4. Berbicara keras (mengobrol yang mengganggu penumpang lain)
5. Berjalan di saat bis sudah mulai bergerak
6. Berbicara dengan supir
7. Melakukan tindakan yang mengganggu penumpang lain : tertawa, bernyanyi, dll
8. Membuang sampah sembarangan
9. Naik dan turun bis bukan di halte. Bis hanya akan berhenti di halte yang sudah ditentukan

Jadi, pemandangan seperti yang biasa kita lihat di bis-bis di tanah air yang lantainya penuh dengan kulit kacang, bungkus arem-arem, sampah plastik, dll tidak akan pernah kita jumpai dalam kendaraan umum di Jepang. Semua penumpang wajib membawa pulang sampahnya masing-masing.

Sistem ticketing berlaku sebagai berikut :
1. Untuk bis kota, penumpang membayar dengan cara memasukkan  koin ke dalam tempat yang ada di sebelah supir. Besaran jumlahnya harus tepat dengan harga sesuai tujuan. Biasanya hanya bisa membayar dengan koin. Jika tidak punya koin, maka tukarlah uang kertas di mesin yang ada di dekatnya, kemudian bayarlah dengan koin
2. Untuk bis kota, tiket berupa kartu berlangganan atau kartu harian yang dapat dibeli di tempat penjualan tiket atau di dalam bis (beli kepada supir).Kartu berlangganan dimasukkan dalam mesin tiket, dan akan keluar sesudahnya. Tiket harian atau tiket hari libur, dapat ditunjukkan langsung kepada supir pada bagian yang ada tertera tanggalnya.
2. Untuk bis antarkota, tiket dibeli di tempat penjualan tiket sebelum naik kendaraan, atau pemesananan online

Untuk mengatur naik turunnya penumpang terutama bis kota, berlaku aturan :
1. Naik menggunakan pintu depan. Pintu hanya terbuka di saat berhenti di halte
2. Turun di pintu belakang. Pintu terbuka ketika berhenti di halte pemberhentian
3. Penumpang hanya boleh berdiri untuk bersiap-siap turun ketika bis telah berhenti sempurna

Saya meyakini Indonesia akan sampai pada masa tersebut dengan semakin banyaknya orang berpendidikan dan berkarakter. Memang tidak mudah, tetapi semua orang harus turun tangan memperbaiki yang belum baik.
 

 

  1. bagus dan bermanfaat sekali artikelnya…makasih ya udah share…mudah2an semakin banyak yang peduli akan keselamatan diri dan orang lain yaaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: