murniramli

Pengalaman Naik Kapal Perang KRI Teluk Ende 517

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia on Juni 13, 2012 at 10:48 pm

Dari tanggal 2 Juni hingga 10 Juni, saya beserta rombongan tim peneliti UNDIP dan mahasiswa KKL MK Penelitian Sejarah, berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa. Program ini terselenggara atas kerjasama Angkatan Laut RI dengan UNDIP. AL memfasilitasi transportasi berupa KRI Teluk Ende 517 yang mengantar tanggal 2 Juni dan menjemput rombongan pada 10 Juni.

Naik kapal perang adalah pengalaman pertama bagi kami semua, dan barangkali sangat langka. Saya sempat mengecek di internet, ternyata TNI AL telah menyelenggarakan beberapa kegiatan bahari bagi generasi muda terutama di wilayah Surabaya. Dan beberapa di antaranya juga melibatkan KRI Teluk Ende. Salut atas upaya ini.

Sebelum berangkat ke Karimunjawa, saya sudah mencari berbagai informasi tentang pulau-pulau yang ada dalam cakupan Karimunjawa, kondisi alam, dan juga suku bangsa yang ada di sana. Saya yang selalu mendampingi seorang dosen dari Jepang, juga melihat bahwa ibu dosen pun telah menyiapkan fotocopy-an berbahasa Jepang berisi info tentang Karimunjawa yang sudah diprint-nya di Jepang.

Kapal berangkat dari Surabaya tanggal 1 Juni, dan direncanakan akan merapat di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, pada pukul 07.00 pagi tanggal 2 Juni 2012. Namun, karena ada beberapa kendala, kapal baru merapat pada pukul 09.30-an. Menurut cerita Komandan KRI Teluk Ende, kapal ini sudah cukup tua (dibeli dari Korea tahun 1982), sehingga untuk dipacu lebih cepat lagi sudah tidak mampu.

Mahasiswa yang sudah siap di pelabuhan sejak pukul 06.00 terlihat kelelahan dan bosan menunggu, namun saat moncong kapal terlihat dengan kode 517-nya yang besar, para mahasiswa kembali bersemangat dan antusias untuk menaiki kapal.

Pengalaman naik kapal sebenarnya bukan yang pertama bagi saya. Karena keluarga besar dan nenek moyang kami ada di Sulawesi Selatan, maka kadang-kadang kami menggunakan kapal penumpang PELNI untuk pulang kampung. Seorang paman kami, adalah nakhoda kapal (sekarang sudah pensiun), sehingga kadang-kadang kami dapat memperoleh jatah kamar, tetapi sering tidak dapat🙂

Kapal penumpang yang pernah saya naiki adalah Kapal Tidar, dan berbeda dengan KRI, kapal penumpang lebih besar, dengan beberapa kamar, dan space penumpang yang besar, pun kesan kotor karena memuat banyak penumpang. Saya tidak menyangka KRI Teluk Ende sangat bersih, dan agak merasa malu karena saat kedatangan kami, kapal menjadi agak kotor dengan sampah. Tampaknya mahasiswa belum berdisiplin membuang sampah.

Sekitar pukul 11.00 kami menaiki kapal, dan disambut dengan sangat ramah oleh para awak kapal yang berseragam abu-abu loreng. Kapal yang lumayan tinggi, semula mempergunakan tangga besi yang dijulurkan dari kapal, yang sempat dituruni oleh Komandan Kapal beserta staf untuk menyambut secara resmi pihak UNDIP. Namun, ketika kami naik ke kapal, tangga tersebut tidak dipergunakan lagi, karena tampaknya cukup menyulitkan bagi kami untuk menaikinya sambil membawa barang-barang bawaan. Atas kerjasama dengan awak KRI Arun dan LANAL Semarang, disiapkan tangga yang lebih lebar dan tinggi. Dengannya kami berhasil mencapai bibir kapal.

Kami berkumpul sementara di geladak (?), dan tampak jejeran motor milik awak AL. Mahasiswa juga membawa 4 buah motor untuk sarana transportasi di pulau nantinya. Beberapa saat kemudian, pembagian tempat tidur dan berkumpul mahasiswa dan dosen. Rombongan dosen diantarkan ke sebuah kamar berisi empat buah tempat tidur (tingkat), dan karena ada 6 anggota, maka sebuah kamar akhirnya dipakai pula dengan tempat tidur dua buah.

Acara selanjutnya adalah menikmati sajian makan siang yang disiapkan oleh chef kapal (salah seorang awak kapal) yang sangat ramah. Saya lupa bertanya, siapa nama beliau, beberapa kali memang sempat saya tengok label nama di bajunya, tetapi hingga tulisan ini dibuat saya tidak bisa mengingatnya.

Saya yang sudah pernah merasakan suasana kamar kapal PELNI merasakan ada sedikit kesamaan, tetapi kamar KRI tampak lebih bersih dan rapih, dengan cover bed khas AL. Saya dan dosen dari Jepang menempati kamar yang bertempat tidur dua. Setelah meletakkan barang-barang, kami berkumpul di Geladak Heli (lantai dua) untuk menerima penyambutan secara resmi dari Komandan Kapal, Letkol Laut (P) Kuntho Tjahyono. Geladak Heli adalah ruangan luas dengan atap sangat tinggi, memiliki multifungsi, dan menjadi pusat kegiatan awak kapal dalam mengadakan pertemuan, perjamuan, bermain musik, sekaligus sebagai musholla, dan tempat berolahraga.

Ruangan di perut kapal semula tampak seperti labirin, tetapi tidak terlalu membingungkan pada akhirnya. Dalam beberapa jam saja saya dapat memahaminya, dengan melihat panduan yang dibagikan kepada kami, dan mencoba menelusuri lorong-lorongnya.

Setelah disambut resmi, kami berjalan menyusuri lorong, dan berhenti pada papan plakat penghargaan yang pernah diterima KRI Teluk Ende. Ada beberapa plakat dari negara tetangga, menandakan kapal ini telah berlabuh di sana. Ada beberapa simbol-simbol yang tidak saya mengerti, beruntunglah seorang awak, Mas Dharmawan (gelar lengkapnya saya lupa) dengan ramah menjelaskan dan menjawab semua keingintahuan kami. Lambang kepiting yang membuat saya penasaran adalah lambang pasukan amphibi. Mas Dharmawan menjelaskan beberapa pasukan AL, pendidikan yang ditempuh seseorang, dan pengalaman pendidikannya, namun sayang kami tidak membawa alat tulis dan alat rekam, sementara dalam penjelasannya banyak sekali istilah yang asing di telinga kami. Saya bertanya juga mengenai jangka waktu mereka berada di kapal, dan kapan bertemu dengan keluarga, sebab dalam bayangan saya kehidupan mereka lebih banyak di laut daripada di darat. Saya pribadi tidak pernah merasakan kehidupan lebih lama daripada di darat, bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang kehidupannya justru lebih banyak di laut, tentunya menimbulkan rasa penasaran.

Saya kadang-kadang pun tidak habis pikir dengan kehidupan nelayan, padahal nenek moyang saya adalah pelaut ulung:-) Ketika kecil dulu, saya sering mendengarkan oleh-oleh cerita keperkasaan paman-paman dan kakek-kakek kami di laut, tetapi saya terus terang belum pernah naik perahu layar yang  menjadi keahlian utama para pelaut Bugis. Penjelasan Mas Dharmawan dan observasi sederhana terhadap kehidupan para awak kapal perang mendorong saya untuk memahami lebih jauh “kehidupan orang-orang laut”.

Panggilan tugas yang ditujukan kepada Mas Dharmawan menghetikan obrolan kami. Setelah menggosok gigi, saya kembali ke kamar, sholat dhuhur, dan mengobrol panjang lebar dengan rekan dosen dari Jepang, hingga akhirnya kami terlelap dan terbangun kembali saat terasa kapal mulai bergerak. Sebenarnya kami tidur-tidur ayam, sebab sesekali kami mendengar aba-aba yang terdengar asing dari dalam kamar. Kami mulai terbiasa akhirnya dengan seruan-seruan tersebut, dan mencoba mereka-reka maksudnya untuk beberapa seruan yang tampaknya seperti kode-kode yang hanya dimengerti awak kapal.

Tidak ada kegiatan berarti menjelang makan malam. Saya sempat naik ke Geladak Heli untuk melihat matahari terbenam. Para mahasiswa yang banyak berkumpul di sana tampak santai, dan seorang awak kapal sedang jogging mengitari tempat pendaratan heli. Gelombang laut cukup tenang, namun angin bertiup cukup kencang dan menimbulkan rasa dingin.

Menjelang makan malam, gelombang agak kuat, dan membuat kapal bergoyang ke kiri kanan. Perut saya mulai mual, tetapi jam makan malam telah tiba. Saya buru-buru memasuki ruang makan, tersaji ikan laut besar-besar sangat enak tampaknya. Tetapi perut saya tidak mau diajak kompromi. Supaya tidak semakin parah kalau seadainya saya mabuk, saya paksakan diri makan beberapa suap nasi, dan setelahnya buru-buru kembali ke kamar. Untunglah sebelumnya saya sudah menunaikan sholat maghrib, sehingga bisa langsung menenangkan badan di atas bed. Tak lama saya dengar pintu terbuka, dan dosen Jepang pun masuk lalu juga ikut berbaring. Goyangan kapal bukannya menjadi semakin tenang, tetapi semakin kencang. Semestinya ini hal yang biasa bagi para awak, tetapi saya sudah merasa khawatir. Terpikir untuk minum obat anti mabuk yang saya bawa, tetapi urung saya lakukan. Untunglah tak lama kemudian saya tertidur, dan terbangun ketika terdengar aba-aba,”Peran jangkar…” Itu tandanya kapal telah tiba di tempat tujuan. Saya tidak sempat melihat jam, tetapi tampaknya sekitar pukul 20.00.

Sebagaimana disampaikan oleh Komandan, kapal tidak bisa merapat ke dermaga, sehingga kami akan berhenti di tengah laut, di zona aman yang berdekatan dengan dermaga. Kami menginap sampai pagi di kapal, untuk diangkut dengan sekoci pada saat terang. Sekitar jam 10 malam, saya ditemani seorang kawan, berjalan di bawah cahaya bintang menuju ke bagian depan kapal, untuk mengamati pulau-pulau yang tampak dari kejauhan. Kami dapat melihatnya karena adanya cahaya lampu dari pulau-pulau tersebut. Suasana di malam hari, dalam kondisi ombak yang tenang, dan langit yang bersih sungguh damai. Beberapa mahasiswa tampak belum tidur, dan asyik dengan HP-nya.

Setelah menunaikan sholat isya, saya memperbaiki naskah buku yang sedang saya buat, hingga akhirnya terkantuk-kantuk dan kembali terlelap hingga pukul 04.00. Tak lama terdengar suara azan Subuh, dan ajakan sholat berjamaah di Geladak Heli. Saya mengajak teman Jepang ke atas untuk melihat suasana ibadah di dalam KRI. Beberapa mahasiswa masih tidur pulas di sekitar musholla, dan ternyata hanya saya jamaah wanita di sana. Saya pikir beberapa mahasiswi akan ikut berjamaah, tetapi ternyata tak satupun yang bergabung.

Setelah sarapan, mulailah aktivitas menurunkan  dan mengangkut penumpang dengan sekoci,yang ternyata bukan pekerjaan yang mudah, apalagi ketika menurunkan motor. Tetapi berkat kerja keras para awak dibantu mahasiswa, prosesinya berlangsung dengan selamat. Ada dua sekoci yang dipergunakan dan sebuah perahu motor pemandu yang diturunkan oleh Posko AL Karimunjawa. Dari dalam sekoci, saya menyaksikan perubahan warna air laut yang sungguh indah, dari biru kelam menjadi hijau bening. Air di perairan Karimunjawa masih sangat bersih, belakangan saya ketahui bahwa mereka memiliki kegiatan membersihkan pantai dan laut yang dilakukan oleh para remaja, baik yang tergabung dalam pencinta alam maupun kelompok-kelompok guide.

Naik kapal perang adalah hal yang mustahil di Jepang, kata teman dosen Jepang. Oleh karenanya, dia begitu terheran-heran dan takjub atas kemurahan hati pihak TNI AL untuk bekerjasama dengan universitas. Saya tidak tahu apa yang terbersit dalam jiwa dan pikiran para mahasiswa memandang lautan luas negerinya, dari kapal perang yang megah, tetapi saya meyakini, kegiatan ini mengantarkan sebuah kecintaan pada bahari negeri ini.

Bahwa melindungi dan menjaga wilayah NKRI selama ini barangkali dibebankan hanya kepada para awak kapal muda usia dan perkasa yang bertugas di wilayah-wilayah perbatasan. Tetapi, melindungi dalam arti yang luas, yaitu menjaganya agar senantiasa bersih, sehat, aman dan indah adalah tanggung jawab kita semua.

Saya memang belum dapat memahami secara penuh kehidupan orang-orang di kapal perang, yang sedianya akan saya masukkan dalam sub bagian penelitian, namun karena keterbatasan waktu, sub ini tak dapat saya kerjakan. Tetapi paling tidak perjalanan ini telah menanamkan sebuah sikap hormat dan penghargaan atas apa yang telah mereka lakukan dalam mempertahankan lautan Indonesia.

 

 

  1. Koki kapalnya bapak gendut pake kacamata bukan?
    Kalo iya, namanya pak Prayitno🙂

  2. jangan sampai lupa, meskipun kalian sering ngeyel klo d bilangin, tp masih wajar kok..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: