murniramli

Hari Pertama di Karimunjawa

In Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia on Juni 14, 2012 at 11:21 am

Hari pertama di Karimunjawa, 3 Juni 2012 saya habiskan dengan beristirahat sejenak di Homestay FIrza, milik Pak Kades Karimunjawa, setelah perjalanan dengan KRI Teluk Ende 517. Sebenarnya perjalanan ini tidak terlalu melelahkan, tetapi rasa kantuk tidak bisa ditahan. Sambil bersantai, saya bertanya kepada ibu tuan rumah tentang tradisi Islam kelahiran anak hingga dewasa yang biasa dilakukan di desa ini. Beliau dengan sangat bersemangat menceritakannya. Kebetulan, teman dosen Jepang saya melakukan penelitian di  bidang ini. Kami kemudian meminta informasi keluarga yang dalam waktu dekat akan mengadakan pesta dalam rangka kelahiran anaknya. Informasi seperti ini di desa akan mudah tersebar dari mulut ke mulut.

Setelah cukup lama mengobrol, kami memutuskan untuk beristirahat. Sore harinya saya dan teman dosen Jepang bermaksud untuk keliling Desa Karimunjawa dengan berjalan kaki. Setelah sholat Ashar, kami berangkat.

Karena ini adalah kunjungan pertama ke Karimunjawa, maka saya tidak bisa membandingkan perkembangan yang telah berlangsung di desa yang katanya telah tidak terkategorikan sebagai pulau terpencil karena statusnya sebagai daerah wisata. Tetapi desa ini tidak dapat disamakan dengan desa-desa yang umumnya ada di Pulau Jawa. Rumah-rumah penduduk sudah dibangun dengan megah dengan lantai marmer. Dinding-dinding rumah adalah tembok batu bata, sekalipun masih ada beberapa rumah yang berdindingkan batu karang. Sebelum ada larangan mengambil batu karang sebagai bahan baku pembuatan bangunan, rakyat secara bebas memakainya sebagai campuran dinding rumah.

Rencana awal sebenarnya kami akan menyusuri kembali jalan yang kami lewati dari dermaga tempat kami merapat, tetapi ternyata kami salah mengambil jalan. Seharusnya berbelok ke Selatan, kami malah berbelok ke Utara. Penampilan kami tampaknya kelihatan sekali kalau kami pendatang. Sepanjang jalan, penduduk memandangi kami dan tentunya bertanya-tanya siapa gerangan ini. Saya tersenyum dan menyapa penduduk dalam bahasa Jawa yang ampuh, “monggo, Pak, Bu”, sehingga mereka menyimpulkan bahwa kami bukan orang asing.

Berjalan lurus ke kanan mempertemukan kami dengan pertigaan jalan yang mentok ke makam. Ke arah kiri ada petunjuk jalan menuju Desa Kemujan, dan ke kanan jalan ada Jl. Dewantara. Dua orang bapak tampak di makam. Saya mendekatinya dan bertanya, apa yang sedang mereka kerjakan. Kedua bapak ternyata dari Desa Kemujan, dan salah seorangnya (kakek tua) tengah berziarah ke makam cucunya yang meninggal karena tenggelam baru-baru ini. Kuburannya dilengkapi dengan pohon pisang di bagian kepala dan hiasan janur (seperti yang sering saya lihat di perkawinan) yang telah mengering di bagian kaki.

Bapak yang saya tanya bukan asli Karimunjawa. Dia datang dengan keluarganya tahun 1975 dan tinggal di Kemujan. Ketika dia datang, rumah-rumah penduduk masih sedikit, dan wilayah Karimun masih berupa hutan.Tujuannya bermigrasi ke Karimun, sama dengan para pendatang yang lain, yaitu untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Kedua bapak kemudian berpamitan, dan kami mengambil jalan balik ke arah semula, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Sepanjang jalan pulang, kami bertemu dengan seorang ibu yang tengah menggoreng sesuatu di halaman samping rumahnya. Dengan ramah, si ibu mengajak kami mampir, ketika saya menanyakan apa yang digorengnya. Ternyata kacang tanah yang digoreng dengan media pasir. Si ibu bercerita bahwa ini dilakukannya untuk membantu keuangan suaminya, membiayai anak-anaknya bersekolah, sehingga satu anaknya adalah lulusan IKIP PGRI Semarang, dan sekarang menjadi guru bahasa Inggris di SMP 1 Karimunjawa. Ketika kami tanya, bolehkah kami foto, si ibu menolak, dan mengatakan nanti hasilnya tidak bagus, karena dia jelek. Dia kemudian mengabari tentang rencana pernikahan anaknya tanggal 10 Juni, dan meminta kami untuk hadir. Tak lama, muncul anaknya yang tampaknya akan berangkat ke suatu tempat. Saya berkenalan dan mengajaknya mengobrol sebentar. Dengan santun, dia minta maaf tidak bisa mengantar kami berjalan-jalan karena kesibukannya mempersiapkan pernikahannya. Kami berpisah dengan ibu yang mengingatkan lagi agar kami menyempatkan hadir pada pernikahan anaknya.

Kembali kami menyusuri jalan bermaksud kembali ke homestay. Tetapi karena belum jam 5 sore, kami kembali menyusuri desa ke arah Timur hingga sampai ke Dermaga Perintis tempat merapatnya kapal-kapal penumpang dari Semarang dan Jepara. Pemandangan sunset sungguh indah di daerah yang langsung berbatasan dengan laut. Saya bertemu dengan beberapa anak dan mengajak mereka mengobrol. Salah satunya anak SMP yang baru saja selesai sekolah, dan bercerita ingin melanjutkan ke SMK. Sekalian saja saya tanya sekolah-sekolah yang ada di Karimunjawa, dan di mana lokasinya. Informasi dari gadis itu menjadi dasar kami untuk berjalan-jalan keesokan harinya, dan sekaligus memulai penellitian.

Desa Karimunjawa tidaklah besar. Saya dan teman berpikir dapat mengelilinginya dalam sehari, terutama areal sekitar pusat desanya. Ada beberapa lokasi yang menarik untuk dilihat diantaranya adalah perkampungan Bajoe yang ada di Timur alun-alun, perkampungan Mandar di sepanjang pantai, dan tentu saja sekolah-sekolahnya.

Secara sepintas Desa Karimunjawa sebagaimana desa-desa yang berada di dekat laut memiliki vegetasi yang tahan daerah pantai, seperti bakau dan mangrove. Sayangnya beberapa tempat penanaman bakau dan mangrove terlihat penuh dengan sampah, padahal kami melihat air yang bening dan beberapa ikan-ikan kecil berenang di dalamnya. Kesadaran warga terhadap kebersihan dan pengolahan sampah kelihatannya belum terbina dengan baik.

Kami belum melihat ada lahan padi (hingga kunjungan ke Desa Legon Lele, dan Ciek Mas), tetapi desa ini tergolong kaya dengan SDA. Desa tampak hijau karena beberapa tanaman jambu mete, kelapa, jambu air, mangga dan tanaman buah lainnya (tanaman budidaya) tumbuh dengan subur. Saat kami datang, jambu air merah dan putih tengah ranum-ranumnya, dan saya sempat mencicipi jambu air yang diberikan seorang guru SD 3, rasanya manis dan enak.  Sayangnya saya belum naik ke arah gunung hingga meninggalkan Karimunjawa, namun dari penuturan seorang guru SMP, areal gunungnya sangat potensial dengan tanaman buah-buahan dan kemungkinan palawija.

Ketika saya tanya anak-anak muda Karimunjawa dan juga guru-guru mudanya tentang potensi alam/pertanian di Karimunjawa, hampir semuanya hanya memfokuskannya pada laut karena selama ini, wisata laut yang berkembang. Tetapi, laut adalah simbol kepemurahan. Maksud saya, manusia hanya mengambil saja, tanpa menanam sesuatu di dalamnya. Dan tampaknya, penduduk desa cenderung bersifat pasif dalam memanfaatkan laut, artinya tanpa ada upaya memperbanyak kembali ikan-ikan di perairan yang dekat dengan wilayah desa. Menurut salah seorang warga, dulu mereka masih mengambil ikan di tepi laut (laut dangkal), tetapi sekarang sudah tidak ada lagi ikan di sana.

Saya mencoba memahami kesulitan mengembangkan pertanian massal di daerah ini, dan sekaligus mempelajari bagaimana poal pikir dan budaya bekerja penduduk Desa Karimunjawa. Mereka sebenarnya bukan orang yang gemar berdiam diri, tetapi saya melihat beberapa anak muda yang masih belum diaktifkan, dan mereka baru aktif bekerja hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja, ketika banyak wisatawan yang datang ke Karimunjawa. Seorang warga menyatakan bahwa untuk melakukan perubahan, harus ada satu contoh kesuksesan, maka penduduk akan mengikutinya. Ya, kalau demikian, maka kreativitas masih perlu diasah, dan saya kira jalan masuk yang terbaik adalah melalui pendidikan di sekolah-sekolah.

Hari pertama di Karimunjawa sudah sedikit mengenalkan saya pada alam Karimunjawa, tetapi tentunya masih banyak yang perlu saya telusuri, dan banyak pula yang belum saya ketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: