murniramli

SD 1 Karimunjawa, Sekolah Bersejarah

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Juni 15, 2012 at 11:25 am

Hari kedua di Karimunjawa, kami mendatangi Pak Camat Nuryanto, untuk mewawancarainya seputar perkembangan dan kendala pendidikan di Kecamatan Karimunjawa. Dari keterangan beliau, kami mendapatkan informasi tentang sekolah-sekolah yang ada di Karimunjawa, dan juga kendala guru-guru yang bekerja adalah para pendatang, yang tidak membawa keluarga untuk tinggal bersama di Karimunjawa, dan berdampak pada tingkat absensi cukup besar di kalangan guru.

Setelah bertemu dengan Pak Camat, kami lanjutkan mengunjungi SD 1 Karimunjawa yang berlokasi di sebelah timur Kantor Kecamatan. Gedung SD berbentuk L, terdiri dari 6 kelas. Tidak banyak anak yang bersekolah di SD 1, dan ketika kami datang, jam belajar sudah hampir usai. Hari itu, Kepsek tidak ada di tempat karena sedang mengikuti PLPG di Semarang.

Keunikan dari sekolah ini adalah tahun berdirinya pada tahun 1912. Penjaga sekolah berbaik hati mengeluarkan sebuah buku tua yang berisikan nama-nama siswa yang bersekolah pada tahun 1912. Menjadi tanda tanya besar dalam pikiran saya, mengapa pemerintah Belanda mendirikan sekolah di pulau terpencil ini? Apa peranannya? Untuk apa sekolah ini dibangun? Bagaimana kondisi masyarakat pada masa itu?

Arsip yang ditunjukkan adalah Stamboek tentang nama-nama siswa, berikut nama orang tua, pekerjaan ortu, dan uang sekolah yang dibayarkan oleh masing-masing siswa. Karena ditulis dengan tinta, dan kualitas kertas yang tipis, maka beberapa tulisan membekas di lembar sebaliknya. Pencatatan ini sangat rinci, bahkan ketika saya melihat pencatatan siswa di SD lain di Karimunjawa, apa yang ditulis pada masa itu masih lebih lengkap.

Saya juga sempat melihat model meja kursi yang dipergunakan pada masa itu. Semuanya terbuat dari kayu jati, dan masih bagus. Namun, pemerintah melalui proyek bangku sekolah lebih suka menyeragamkan meja kursi seperti sekarang ini. Meja kursi yang dipergunakan pada masa lalu adalah kursi panjang yang menurut salah seorang mantan siswa masih dipakai hingga tahun 1984-an. Satu kursi panjang diduduki oleh 4-5 orang anak. Mejanya juga panjang dengan permukaan yang miring dan ada lubang di tengah untuk meletakkan alat tulis (atau barangkali mangkuk tinta karena dulu, para siswa menulis dengan sabak).

Papan tulis pun di beberapa kelas masih berupa papan tulis hitam kaki tiga, namun semua kelas sudah menggunakan white board, dengan spidol sebagai alat tulisnya. Kelas-kelas rendah masih menggunakan  kapur. Perubahan sarana belajar seperti ini sebenarnya hal yang sepele, tetapi sebenarnya telah membawa sebuah budaya baru dalam proses belajar mengajar di kelas.

Memang masih belum banyak dipelajari, apakah perubahan tinggi meja kursi guru berpengaruh pada kepatuhan dan keseriusan belajar siswa, tetapi yang pasti posisi meja kursi guru yang pada masa lampau lebih tinggi daripada siswa dapat dianggap sebagai simbol betapa dihargainya guru pada masa itu. Kesejajaran meja kursi guru dan siswa yang berlangsung sekarang ini juga merupakan simbol kesetaraan, dan semakin banyak siswa yang menganggap guru sebagai teman.

Penggunaan spidol dan whiteboard barangkali dianggap lebih baik dari segi kesehatan, karena tidak ada debu yang beterbangan. Tetapi, jika kita berkunjung ke sekolah-sekolah di Jepang, bahkan perguruan tingginya, maka jangan heran jika mereka masih menggunakan kapur tulis dan papan tulis berwarna hijau. Memang kapur yang mereka pergunakan sama sekali tidak menimbulkan debu yang berbahaya, dan ada alat khusus untuk membersihkan penghapus papan tulis (maksudnya tidak perlu dipukul-pukulkan di luar kelas). Di lain sisi, penggunaan kapur lebih hemat daripada spidol (ini termasuk yang dikeluhkan guru-guru di SD 1).

Meja kursi lama di SD 1 Karimunjawa tertumpuk di dalam gudang sekolah. Saya selalu menganjurkan kepada kepala sekolah dan guru-guru yang notabene bekerja di sekolah-sekolah bersejarah agar menjadikan atau membuat satu ruang khusus untuk menjadi museum sekolah. Di situlah meja kursi, papan tulis diletakkan sesuai dengan setting masa dulu. Bukan sekedar untuk dipamerkan, tetapi juga agar menjadi sumber ilmu bagaimana perkembangan ilmu pedagogi dari masa ke masa.

 

  1. Assamu’alaikum Wr. Wb.

    Bu Murni
    Angkat topi buat ibu yang komitmen dalam hal pendidikan, terutama dari unsur sejarah, wah kita jadi banyak tahu tanpa harus pergi sana-sini, tapi seandainya ada kesempatan pingin juga untuk piknik kemana-mana dalam rangka menambah wacana kita….
    sukses selalu…dalam setiap langkah kegiatan. amin

    Wassalam.
    Jahid Bahruddin
    MAN2Solo

    • @Pak Jahid : Waalaikumsalam wrwb. Apa kabar, Pak? Bagaimana kegiatan penelitian teman-teman di MAN 2? Apk sudah mulai menyusun buku sejarah sekolah? Oya, saya belum sempat menengok bangunan boarding MAN 2, Sudah jadikah?
      Salam untuk Pak Agus dan teman2 guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: