murniramli

Bertemu dengan sesama orang Bugis di Karimunjawa

In Multietnik, Sejarah, Serba-serbi Indonesia on Juni 21, 2012 at 9:04 am

Kalau pergi ke Karimunjawa, maka tidak sah hukumnya bila belum mendatangi beberapa tempat, yaitu Makam Sunan Nyamplungan, Petilasan Syeikh Amir Hasan di Legon Lele, dan kalau bertujuan untuk wisata, maka perlu datang ke Pulau Menjangan Besar dan Kecil untuk melihat penangkaran hiu atau ber-snorkling ria di sana, serta berkunjung ke pantai-pantai yang berpasir putih dan menawan sekali.

Tetapi, sebagai orang Bugis, maka bagi saya yang wajib didatangi adalah Dukuh Batu Lawang yang ada di Desa Kemujan, karena di situlah bermukim orang-orang Bugis yang membuka sebagian lahan (babad alas), menjadi bagian sejarah dan perkembangan Karimunjawa.

Saya hampir kehabisan waktu mendatangi dan mewawancarai guru-guru di Desa Karimunjawa, Desa Parang, dan Desa Kemujan, sehingga kesempatan untuk ethinc tour baru ada pada menjelang akhir waktu tinggal kami di Karimunjawa. Seorang teman dosen mengingatkan bahwa saya harus mendatangi kampung Bugis di Batu lawang, dan mereka pasti akan sangat senang jika ada orang Bugis dari luar yang mendatanginya.

Maka, jadilah Sabtu, ketika sebagian besar rombongan menghabiskan waktu berlibur (karena memang disepakati hari itu, tidak ada kegiatan penelitian dan pengabdian), saya beserta rombongan kecil yang terdiri dari teman dosen Jepang, mahasiswa S2, dan seorang guide, Mba Widia-yang sekaligus kami pinjam motornya untuk pergi ke sana kemari hari itu-berangkat menuju Kemujan. Hari itu, kami berangkat pagi-pagi karena saya akan mendatangi SD 3 Alang-Alang, SD 7, SD 4, MTs, dan MA, lalu sesudahnya baru bergerak ke Batu Lawang.

Hanya dua SD yang berhasil kami wawancarai gurunya, karena waktu berjalan sangat cepat, dan hujan deras mengguyur Karimunjawa hari itu. Sebenarnya ketika berangkat, hujan sudah turun rintik-rintik, tetapi penelitian harus tetap jalan, maka kami terobos saja. Wawancara di SD 7 sangat mengasyikkan karena ada Pak Bambang yang pernah membangun SD di Pulau Nyamuk dan tinggal di sana selama kurang lebih 26 tahun. Akhirnya, wawancara lebih banyak saya arahkan pada perintisan SD di Pulau Nyamuk dan suka duka Pak Bambang di sana. Sementara mahasiswa S2 melakukan wawancara dengan guru yang lain tentang SD 7.

Setelah hujan berhenti, kami melanjutkan perjalanan, dan tiba di SD 4. Namun sayang sudah tutup. Kebetulan hujan turun lagi, kami terpaksa harus beristirahat, karena tidak satupun dari kami yang membawa jas hujan. Ketika hujan agak reda, perjalanan dilanjutkan ke MTs dan MA Safinatul Huda, yang lokasinya sama. Sayang sekali, kami tidak berhasil menemui seorang pun di sana. Di halaman sekolah tampak banyak kursi dan ada panggung, rupanya akan ada perpisahan melepas siswa. Saya kemudian memutuskan untuk tidak menunggu, karena sebenarnya wawancara terhadap kepala sekolah dan guru sekolah ini sudah dilakukan oleh teman dosen yang lain.

Akhirnya diputuskan untuk meluncur ke Batu Lawang. Tatkala memasuki wilayah kampung Bugis, pemandangan khas rumah adat Bugis sudah terlihat di kiri kanan jalan. Membuat saya rindu kampung halaman. Cuma agak berbeda, karena rumah-rumah panggung yang dibangun lumayan pendek. Berbeda dengan rumah panggung di tanah Bone yang dibangun tinggi-tinggi. Kami berhenti di dekat alun-alun, karena berdasarkan petunjuk teman, ada seorang sesepuh yang mesti didatangi, yaitu Lato Tawwape, yang tinggal di dekat alun-alun.

Di depan sebuah TK, saya memotret bangunannya, karena dikelola oleh Yayasan yang sama dengan yang mengelola MTs dan MA. Tiba-tiba seorang Bapak keluar dari warungnya. Beliaulah yang dengan baik hati menjelaskan tentang komunitas Bugis di Batu Lawang. Namanya Pak Dullah, dan ternyata putra tertua Lato Tawwape. Ketika saya memperkenalkan diri sebagai orang Bugis, dia sangat gembira. Lalu kami saling menceritakan asal usul orang tua.

Obrolan dengan Pak Dullah berlangsung di tepi jalan, kebetulan ada papan petunjuk wisata daerah yang dibuat oleh mahasiswa KKN UGM. Dari Pak Dullah saya mengetahui bahwa orang Bugis datang ke Karimunjawa karena peristiwa pemberontakan DI/TII. Tetapi dugaan teman, jauh sebelumnya sudah pernah ada orang Bugis yang datang ke Karimunjawa. Pak Dullah menyebut nama Linrae, sebagai orang Bugis pertama yang merapat ke Batu Lawang.

Obrolan selanjutnya kami lanjutkan di warungnya Pak Dullah sambil menikmati nasi soto dan teh panas. Kebetulan kami belum makan siang. Pak Dullah tidak menempuh sekolah formal. Dia hanya pernah bersekolah di madrasah yang dibuka oleh Pak Ali Cacok, salah seorang tokoh Bugis di Batu Lawang. Di madrasah itulah, Pak Dullah belajar huruf Bugis. Kami sempat saling mengetes daya ingat tentang huruf-huruf lontara yang kami pelajari. Dan saya mengaku kalah. Banyak yang sudah saya tidak ingat lagi cara menulisnya. Menurut Pak Dullah, dia adalah generasi kedua suku Bugis di Batu Lawang, kalau tidak salah beliau kelahiran 1964.

Ketika saya tanya tentang pendidikan anak-anak Bugis di sana, Pak Dullah mengatakan sama sekali tidak ada pelajaran bahasa Bugis. Jadi, anak-anak mereka ketika masih kecil hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa, karena SD kebanyakan diajar oleh guru-guru Jawa, dan baru ketika mereka beranjak remaja atau dewasa, mereka bisa berbahasa Bugis, karena semua orang dewasa Bugis di kampung itu berbicara dalam bahasa Bugis.

Pernikahan antar suku pun adalah hal yang lazim, termasuk Pak Dullah. Tetapi, pengaruh Bugis tampaknya cukup kuat, karena istri Pak Dullah berbicara dalam logat Bugis. Selain membuka warung, Pak Dullah sehari-harinya bekerja sebagai nelayan. Sekalipun tidak bersekolah formal, tampaknya Pak Dullah orang yang berpendidikan, terbukti dengan sebuah buku tentang Kapal Phinisi terbitan 2011, yang ada di mejanya. Dan ketika saya menanyakannya, dia mengatakan itu kiriman baru datang. Selama wawancara, bergabung juga Pak Mad Zakri dari Madura yang lahir tahun 1956 (generasi kedua). Pak Mad tinggal sendirian, dan kelihatannya dia sudah akrab sekali dengan komunitas Bugis karena dia pandai berbahasa Bugis. Ada juga seorang bapak guru dari Jawa, yang saya lupa namanya.

Pertanyaan yang kami ajukan dijawab sahut-menyahut oleh Pak Dullah, Pak Mad, dan Pak Guru. Pak guru tinggal di asrama guru SD yang ada di depan warung Pak Dullah. Hanya ada satu SD di Batulawang, dan saat saya sampai di sana, sekolah sudah bubar. Tetapi, saya memang tidak bermaksud mewawancarai guru di sana, karena sudah dilakukan oleh teman yang lain.

Dari warung Pak Dullah, saya menuju rumah Lato Tawwape. Rumahnya ada dua, sebuah adalah rumah adat Bugis dan sebuah lagi rumah batu. Sayang sekali, kami tidak bisa berjumpa dengan Lato Tawwape, karena beliau sedang pergi mengambil bambu. Menurut penuturan istrinya, meskipun sudah tua, Lato tidak mau istirahat. Di rumah Lato, kami bertemu juga dengan tiga ibu muda, yang rupanya adalah anak perempuan dan menantu Lato. Semuanya menggendong bayi. Tampaknya, anak-anak gadis menikah dalam usia muda di kampung Bugis. Saya sempat mengambil foto Lato dan Pak Ali Cacok yang terpasang di dinding.

Karena langit masih tampak mendung, maka kami putuskan untuk tidak menunggu Lato. Hari itu rencananya, kami akan pergi juga ke makam Sunan Nyamplungan, sehingga kalau kesorean agak sulit jalannya. Sayang sekali saya tidak bisa bertemu dengan sesepuh suku Bugis ini, tetapi lain waktu, saya masih akan datang ke daerah ini, karena penelitian masih berlangsung di tahun mendatang.

Orang Bugis kedua yang saya jumpai adalah Pak Muh. Ali yang tinggal dekat Cafe Amore, Ds. Karimunjawa. Saya bertemu pertama kali dengan beliau saat berlangsung FGD di rumah Pak Kades Karimunjawa, dan kebetulan saya yang memandunya. Ketika hendak pulang dari FGD, beliau berpesan agar saya mengunjungi rumahnya. Maka, jadilah hari terakhir saya di Karimunjawa, saya pakai untuk mengunjungi Pak Ali. Wawancara kami lakukan di Cafe Amore, yang pemandangannya menghadap ke laut.

Pak Ali adalah nelayan, tetapi karena usia lanjut, beliau tidak melaut lagi. Sekarang beliau bekerja di Cafe Amore. Dalam FGD, Pak Ali hampir tidak berbicara. Saya menduga karena forum didominasi oleh bapak-bapak dari Jawa. Tetapi, sangat berbeda ketika saya mengobrol dengan Pak Ali, beliau berbicara tanpa henti, menceritakan bagaimana kedatangan keluarganya pertama kali di Karimunjawa.

Dari Pak Ali saya mengetahui bahwa suku Bugis di Karimunjawa jumlahnya sedikit. Yang banyak ada di daerah Tlogo dan Batulawang. Tatkala saya menyampaikan kunjungan saya ke Pak Dullah dan Lato Tawwape, beliau mengatakan itu adalah sesepuh Bugis di Batu Lawang. Leluhur Pak Ali tinggal di Wajo. Ketika pertama kali mereka meninggalkan tanah Bone, mereka bergerak dari Selayar, dan berlayar dengan perahu layar menuju Pulau Massalembo di Jawa Timur. Dari sana, mereka menuju ke Karimunjawa.

Pak Ali menceritakan kondisi Karimun pada awal kedatangannya masih berupa hutan belantara. Tanah-tanah gratis, dan mereka mengolahnya, menanaminya dengan kelapa, jambu mete, dan jagung yang bibitnya mereka bawa dari tanah Bugis. Pantas saja, sepanjang jalan di semua desa di Karimunjawa, banyak sekali pohon jambu mete, mengingatkan saya suasana di Desa Walenreng, Bone. Sebenarnya mereka bebas mengambil tanah sebanyak-banyaknya, tetapi orang tua Pak Ali hanya mengambil yang bisa dikelolanya saja.

Mereka adalah pembuat kapal/perahu layar ulung. Dengan kayu-kayu kapal yang kokoh. Sayangnya ada larangan pemerintah untuk mendatangkan kayu dari Kalimantan yang sering mereka pakai untuk membuat kapal, dan juga ada larangan dari Dinas Kehutanan untuk memakai kayu-kayu di hutan Karimunjawa, maka usaha pembuatan kapal/perahu terhenti hingga sekarang. Pak Ali juga menceritakan bahwa ilmu membuat perahu sekarang sudah dikuasai oleh orang Jawa, karena semakin minim orang Bugis yang bekerja di bidang ini.

Saya sempat bertanya kepada Pak Ali, mengapa rumah-rumah orang Bugis pendek-pendek di Karimunjawa. Menurut Pak Ali, itu karena kesulitan mendapatkan kayu. Semula rumah orang tua Pak Ali persis sama dengan rumah Bugis di tanah Bone, tinggi-tinggi. Tetapi lambat laun sulit memperoleh kayu, dan kayu bangkau (bakau) juga tidak boleh dipakai lagi untuk membuat rumah.

Semasa kecil Pak Ali bersekolah di SD 1. Berangkat sekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter, tanpa menggunakan alas kaki. Pak Ali masih ingat beberapa gurunya, dan mengenang betapa hormatnya mereka kepada guru-guru itu. Jiwa tolong-menolong dan saling menyapa, serta sikap hormat anak-anak kepada orang dewasa masih sangat kuat, berbeda sekali dengan anak-anak sekarang ini. Pak Ali menerawang masa kecilnya yang indah.

Dari Pak Ali, saya juga mengetahui bahwa setahun lalu ada seorang sesepuh Bugis yang meninggal di Karimunjawa, namanya Lato Jambek (Cambek). Saking rindunya pada tanah kelahirannya, Barru, Lato Jambe meminta kepada Pak Ali untuk mengambilkan tanah Barru, ketika Pak Ali akan pulang ke Sulawesi. Ternyata kepulangan Pak Ali kali itu tidak bisa sampai ke Barru, maka dengan berdoa kepada Allah, Pak Ali mengambil tanah Bulukumba, dan membawanya ke Lato Jambe. Tanah tersebut disimpan Lato di bawah bantalnya, hingga beberapa hari kemudian beliau meninggal.

Selain Pak Ali, sebenarnya ada kakak Pak Ali yang menjadi saudagar kaya di Karimunjawa. Namanya Pak Haji Bahri. Rumahnya di dekat Dermaga Perintis. Pak Ali menyarankan saya ke sana, karena beliau pasti senang. Sayangnya, jam 2 kami harus pulang, karena KRI Teluk Ende sudah menjemput. Saya katakan, insya Allah, kedatangan berikutnya, saya pasti akan menemui Pak Bahri.

Hampir dua jam saya mengobrol dengan Pak Ali. Hingga akhirnya, saya pamit pulang. Sebelum pulang, Pak Ali masih bertanya bagaimana saya bepergian. Saya katakan jalan kaki atau sewa motor. Dengan baiknya, beliau mengatakan, kita sudah saudara, jadi lain kali kalau ke sini, tidak usah sewa motor, pakai saja motor saya. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesarnya.

Dalam perjalanan pulang ke homestay, saya merenung, mencoba mengumpulkan cerita dan keperkasaan nenek moyang suku Bugis di Karimunjawa. Sebersit ada kebanggaan dan keberanian untuk mendatangi pulau-pulau terpencil lainnya, karena pasti di situ ada sanak famili kami dari tanah Bugis. Tetapi juga muncul rasa miris, ketika tampak budaya,bahasa dan tradisi tidak lagi menjadi bagian yang diajarkan kepada anak-anak muda Bugis.

  1. Wah ..senang sekali bisa bertemu orang-orang sekampung ya buk…

  2. saya penduduk asli batulawang terkesan membaca sekumpulan cerita tentang batulawang… apalagi ada nama latok tawwape’ hahahaha…lucu-lucu.

    cuma aku bingung itu rumah siapa?? aku ga ingat,,,

    • @Chusnul : Tidak semestinya nama orang ditertawakan, karena nama diberikan dg penuh arti oleh orang tua, sebagaimana nama Anda Chusnul Khotimah, orang tua Anda pasti berharap Anda menjadi orang yang baik akhir hayatnya. Kalau Anda penduduk asli Batulawang (dan orang Bugis), semestinya Anda lebih tahu daripada saya, siapa saja para sesepuh di Batulawang. Lato Tawwape adalah sesepuh suku Bugis di Batulawang, rumahnya dekat dengan alun-alun/lapangan yang bersebelahan dengan SD Batulawang. Mudah-mudahan Anda masih ingat, dan jikalau pulang kampung, mungkin ada baiknya Anda bersilaturahmi ke sana, selagi masih muda

  3. Salam kenal, Bu! Saya orang Jawa Tengah asli, istri orang Bugis-Mandar. Saya berharap saya bisa ke sini suatu saat nanti. Karena anak-anak saya berdarah separo Sulawesi. Sekarang saya tinggal di Palembang.

  4. Salam, Bunda Murni.
    Saya sedang melakukan penelitian tentang budaya Karimunjawa. Tulisan ibu menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: