murniramli

Penggiat Pendidikan di Pulau Parang

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Islam, Pendidikan Menengah, Pendidikan pra sekolah, Penelitian Pendidikan on Juni 21, 2012 at 1:56 am

Dalam rangkaian penelitian ke Kecamatan Karimunjawa, saya juga berkunjung ke Pulau Parang, salah satu anak pulau dalam Kepulauan Karimunjawa. Dinamakan Pulau Parang, karena dari kejauhan bentuknya memang seperti Parang. Tidak diketahui siapa yang memberinya nama pertama kali. Dari kejauhan ada dua bagian yang menandakan pulau ini seperti parang, yaitu bagian kecil yang menandakan pegangan parang, dan bagian panjang yang merupakan bilah parangnya.

Kami berangkat naik kapal motor sewaan seharga Rp 1.2 juta untuk dipakai dua hari. Biasanya sewa sehari Rp 750 ribu. Berangkat dari Dermaga Karimun jam 08.00 dan tiba di Parang 2, 5 jam kemudian. Naik kapal motor adalah pengalaman pertama bagi saya. Karena terpengaruh omongan teman-teman yang mengatakan kemungkinan kapal akan bergoyang dan menyebabkan mabuk, maka saya sudah siap-siap obat anti mabuk. Tetapi, alhamdulillah perjalanan hari itu sangat mengasyikkan. Sekalipun bergoyang, suasana di atas kapal tidak menyebabkan perut mulas.

Sepanjang perjalanan, kami memandang lautan luas yang membiru, ombak yang pecah menampilkan warna keputihan. Beberapa kali lewat kapal motor nelayan, dan kami saling menyapa. Nakhoda Kapal Motor Putra Jaya, Mas Aris, memberikan kesempatan kepada kami untuk mencoba menyetir kapal. Sekalipun tidak ada petunjuk rambu, tetapi ada satu titik yang menjadi patokan arah menuju Pulau Parang. Dari Karimunjawa, sebenarnya kami bisa melihat samar-samar Pulau Parang.

Untuk merapat di Dermaga Parang, dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam, karena kami tidak bisa langsung menuju ke sana, tetapi harus berputar mengarah ke pulau kecil yang ada dekat Parang, namanya saya lupa (Pulau Gombong ?), yang tidak berpenghuni, tetapi pasirnya putih, indah sekali. Nakhoda kapal haru berhati-hati karena kedalaman air laut sudah sekitar 2-2.5 m, dan warna air laut hijau menyejukkan dengan pemandangan karang-karang dan ganggang di bawahnya.

Ketika kami merapat, dermaga cukup sepi. Tidak ada yang menjemput, jadi kami putuskan berjalan kaki. Saya pribadi tidak ada masalah karena hanya membawa satu ransel, jadi dengan mudah bergerak. Tetapi rombongan yang lain, membawa setidaknya dua tas, sehingga berjalan di bawah terik panas matahari adalah siksaan, dan lumayan menguras keringat.

Kami berjalan menuju balai desa. Dengan modal bertanya kepada warga sekitar, balai desa ternyata tidak sulit ditemukan. Dari dermaga berjalan lurus, dan pada perempatan pertama, belok ke kanan, berjalan sedikit, ketemulah dengan balai desa. Kegiatan hari itu di balai desa hampir tidak ada, hanya ada satu petugas yang kemudian segera bergegas memanggil Pak Petinggi (sebutan Kades di Karimunjawa). Rencananya kami akan menginap di rumah Pak Petinggi.

Sambil menunggu kedatangan Pak Petinggi, saya ke belakang gedung, dan melihat ada aktivitas anak-anak sekolah. Ternyata ada TK Al-Masithoh. Bangunannya kecil, hanya terdiri dari tiga buah ruang kelas. Ada dua gurunya yang sedang mengobrol di depan. Rupanya sudah jam pulang sekolah. Saya segera menemui mereka, dan bertanya-tanya seputar TK. Kedua ibu guru tersebut bernama Ibu Wahidatun (adik Pak Petinggi), dan Ibu Handayani. Obrolan selanjutnya dilanjutkan di balai desa. Dari beliau berdua, saya memperoleh gambaran ringkas tentang situasi pendidikan dan kegiatan sehari-hari anak-anak di Pulau Parang. Sebelum berangkat ke Parang, saya sama sekali tidak mendapatkan informasi tentang situasi pendidikan di pulau ini. Jadi, informasi yang disampaikan oleh kedua ibu, menjadi start awal menentukan langkah penelitian selanjutnya.

Obrolan saya dengan kedua guru berakhir bertepatan dengan kedatangan Pak Petinggi. Saya memutuskan untuk segera pergi ke SD 2 dan SMP Parang. Sementara teman-teman yang lain menuju rumah Pak Petinggi. Teman dosen Jepang sedang mewawancarai dukun bayi, untuk mendapatkan informasi tentang ritual kelahiran anak di Parang. Saya sengaja menuju ke SD dan SMP karena membayangkan besok pasti akan sulit mendatangi semua sekolah. Ada 2 SD, 1 SMP, dan 1 MA di Parang, dan ada beberapa TPQ.

Wawancara dengan kepala sekolah SD 2 Parang saya perkirakan akan berlangsung selama 1 jam, tetapi ternyata molor hingga 2 jam. Bapak kepala sekolah juga pendatang di Parang, dan dari beliau saya mendapatkan informasi tentang situasi pendidikan, kesadaran warga terhadap pendidikan anak, dan maraknya kegiatan pengajian agama untuk anak-anak. Saya juga mendapatkan informasi tentang karakter orang-orang Parang, tradisi yang masih berlaku, dan juga warga yang besok akan mengadakan gotong royong membangun rumah.

Setelah dari SD, saya bergegas ke SMP, yang ada di depan SD 2 Parang. Sayang sekali, saya tidak bertemu dengan bapak kepsek SMP, karena beliau sedang ke Jepara. Hanya ada wakasek dan ibu guru IPS. Pas sekali, sebab penelitian kami memang terkait dengan pembelajaran IPS. Obrolan dengan para guru berlangsung selama 1 jam. Gedung SMP masih tampak baru, dibangun tahun 2005. Para guru hampir semuanya pendatang. Mereka pada umumnya adalah CPNS yang ditempatkan di Parang, dan tinggal di asrama guru. Keluarganya ditinggal di Jepara, Salatiga, Solo, Yogya, Klaten, Pati, Rembang, dll.

Dari tuturan bapak ibu guru di SD dan SMP Parang, saya mendapatkan informasi bahwa mereka belum memasukkan unsur sejarah dan tradisi lokal dalam pembelajaran, sehingga sangat antusias tatkala saya ceritakan bahwa penelitian kami bermaksud menyusun buku ajar tentang hal ini.

Selepas dari SMP, saya sudah ditunggu oleh seorang bapak, ternyata petugas dari kantor desa. Saya sudah ditunggu di rumah Pak Petinggi untuk makan siang. Saya tengok jam, ternyata sudah jam 2 lewat. Pantas saja perut saya sudah keroncongan. Makan siang hari itu sungguh nikmat, ikan laut segar dan sayur bening. Tidak ada yang paling nikmat selain menikmati ikan bakar segar🙂

Setelah makan siang dan menunaikan sholat, saya bergegas ke Madrasah Diniyyah (Madin, begitu orang Parang menyebutnya), dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Ternyata teman dosen Jepang dan seorang teman dosen UNDIP sudah berbincang-bincang dengan dua pemuka sekaligus guru yang mengajar di Madin. Saya kemudian langsung bergabung. Dari keduanya kami memperoleh informasi tentang kegiatan keagamaan anak-anak Parang yang ternyata sangat intens.

Anak-anak di Parang kebanyakan mengikuti ritme hidup yang sama, setelah pulang sekolah SD atau SMP,  istirahat sebentar di rumah, dan jam 2 sd 3 mengikuti pelajaran Al-Quran di Madin. Jam 4 sore mereka berlarian ke TPQ untuk lagi-lagi mengikuti pelajaran Al-Quran. Kegiatan pengajian tidak hanya sampai di situ, sehabis maghrib dan sehabis sholat subuh, anak-anak masih pergi mengaji ke pondok. Istilah pondok jangan disamakan dengan pondok pesantren, sebab maknanya adalah musholla kecil yang dipimpin oleh seorang kyai/ulama yang mengajari anak-anak mengaji.

Setelah mewawancarai kedua pimpinan Madin, kami menuju ke balai desa, tempat diselenggarakannya FGD (Focus Group Discussion) untuk menggali pemahaman tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pamong desa, dan kaum muda tentang sejarah dan nilai tradisi Pulau Parang. Diskusi berlangsung seru hingga hampir jam 5 sore. Saya mengingatkan moderator untuk segera menyudahi kegiatan karena kami harus sholat Ashar. Setelah acara berakhir, saya dan teman dosen Jepang dijemput oleh Ibu Masrukhah pimpinan salah satu TPQ di Parang. Dengan mengendarai motor, saya dan teman dosen Jepang dibonceng berdua. Berboncengan seperti ini juga pengalaman pertama bagi kami.

Setelah sholat Ashar, kami segera diajak untuk melihat kegiatan TPQ. Ruang kelas hanya satu, dan ada sekitar 15 anak yang menghafalkan doa bersama, menyanyikan lagu Islami, menghafal ayat Al-Quran di bawah panduan tiga orang guru, yang belakangan saya ketahui ketiganya adalah penghafal Quran. Anak-anak yang mengaji di TPQ dikenai biaya Rp 5000 per bulan. Separuh dari biaya di Madin (Rp 10.000). Adapun di SD dan SMP, sama sekali tidak ada pungutan biaya. Karena keduanya sekolah negeri, maka berlaku pendidikan gratis wajib belajar. Sementara di MA yang masih menggunakan lokasi Madin sebagai tempat belajar mengajar, dikenakan biaya SPP Rp 45.000 per bulan. MA tersebut dikelola oleh Yayasan Al-Mashitoh.

Menjelang Maghrib kami pulang ke rumah Pak Petinggi. Sehabis makan malam, kami berdiskusi sebentar, dan melaporkan hasil sementara, sambil membagi tugas wawancara malam ini. Rencananya, kami akan mendatangi tokoh masyarakat yang tidak hadir pada kegiatan FGD dan dianggap sebagai orang-orang yang mengerti sejarah Parang. Mereka adalah Pak Mudasih, Pak Muhammadun (Pak Madun), Pak Surani, dan Pak Carik. Saya kebagian mewawancarai Pak Madun. Setelah sholat Isya, kami mulai bergerak. Sayang sekali Pak Madun sedang mengikuti acara selamatan orang yang membangun rumah, dan kami berjanji akan mewawancarainya besok pagi. Pak Carik juga tidak bisa diwawancarai karena beliau sedang belanja acara pernikahan anaknya di Jepara, dan kemungkinan baru akan pulang besok. Saya kemudian menyusul teman yang mewawancarai Pak Mudasih. Dan jadilah sekitar kurang lebih dua jam kami mewawancarai beliau tentang kisah tanah Parang. Banyak yang tidak bisa saya tangkap karena disampaikan dalam bahasa Jawa yang sulit ditangkap. Penerangan di dalam ruangan juga sangat redup sehingga membuat saya kesulitan mencatatat apa yang disampaikan (Biasanya selain merekam semua hasil diskusi, saya juga mencatat semua hasil wawancara dalam buku kecil yang selalu saya bawa). Tetapi cara bercerita beliau mirip dengan cerita-cerita yang sering saya dengarkan pada masa kecil dulu. Bumbu mistiknya kental.

Keesokan harinya kami melanjutkan wawancara dan penelusuran petilasan yang ada di Parang. Hari kedua saya mempunyai dua target wawancara, yaitu kepala sekolah dan guru SD 1 Parang, dan kepsek dan guru di MA. Karena mengingat waktu yang terbatas (kami harus naik kapal balik ke Karimunjawa pukul 14.00), maka saya membagi tugas dengan mahasiswa yang menjadi asisten peneliti.

Pagi harinya kami mendatangi Pak Udin (Flores) yang sedang membangun rumah. Bukan rumahnya yang ingin kami lihat, tetapi kegiatan gotong-royong warga. Pak Udin menikah dengan wanita Parang, dan sudah cukup lama tinggal di Parang. Bahasa Jawanya lebih mantap daripada bahasa Floresnya, namun wajahnya masih mampu membedakannya dari kebanyakan orang Jawa. Warga desa yang datang pagi itu sebenarnya bukan pengangguran. Mereka semua punya pekerjaan. Ada yang menjadi guru di SD, nelayan, petani, pedagang, kuli bangunan, bahkan saya sempat bertemu dengan Pak Mudasih yang menjadi sesepuh desa ikut duduk-duduk menyaksikan dan menyemangati mereka yang bekerja. Mereka semua datang pagi-pagi, dan akan membantu sampai sore tetapi dengan sistem bergiliran. Bapak guru akan selesai jam 8-an dan bergegas ke sekolah.

Tidak hanya bapak-bapak yang sibuk, ibu-ibu pun menjadi sibuk menyiapkan konsumsi. Saya sempat mengobrol dengan istri Pak Udin, dan dia menjelaskan bahwa hari itu (Kamis) dipilih untuk memasang atap rumah karena bertepatan dengan hari kelahirannya. Waktu saya tanya kenapa bukan kelahiran Bapak? Dijawab, barangkali karena ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Saya kira kita banyak menjejali anak-anak sekolah di kota tentang gotong royong yang menjadi tradisi bangsa, tetapi sayangnya mereka tidak kunjung memahaminya karena di sekelilingnya belum pernah dia menyaksikan contoh kongkrit gotong royong. Sebab itu sudah hilang di lingkungan yang modern. Sementara di beberapa desa, ini diturunkan secara turun temurun, tanpa perlu dimasukkan ke dalam kurikulum. Tetapi memang menjadi kekhawatiran saya, bahwa kalau masyarakat Parang kelak menjadi modern sebagaimana perkotaan-perkotaan yang selama ini saya lihat, barangkali nilai-nilai itupun akan pudar. Oleh karenanya supaya tetap langgeng, perlulah perkara ini dimasukkan dalam kurikulum lokal sekolah-sekolah di sana.

Selepas menonton pemasangan atap rumah Pak Udin, saya melanjutkan wawancara ke SD 1. Di sini, sama dengan di sekolah-sekolah yang lain, guru-guru kebanyakan pendatang. Dan mereka berada di Parang karena penempatan CPNS. Besar keinginan mereka untuk dimutasi ke Jepara atau daerah yang lebih “ngota”, tetapi apa daya, surat mutasi tak kunjung datang.

Memang menjadi dilema bagi teman-teman guru di sana. Menolak penempatan CPNS berarti menyalahi aturan, dan mereka diharuskan membayar ganti rugi yang lumayan besar. Namun, menerima penempatan dengan tidak ikhlas, yang berdampak pada komitmen dan etos kerja yang kurang, juga menjadi batu sandungan dalam pengembangan pendidikan di wilayah pulau-pulau terpencil.

Sudah saatnya, pemerintah membentuk Emergency Teacher Training untuk mendidik dan melatih para calon guru yang merupakan anak pulau. Menurut penuturan para guru, pelatihan, training untuk mereka hampir tidak ada. Jikapun ada, pasti diselenggarakan di Jepara atau Karimunjawa. Sementara ongkos ke sana sebesar tunjangan yang mereka terima sebulan atau bahkan lebih.Jadi, untuk pergi ke luar pulau, mereka sekaligus menuntaskan beberapa urusan, agar tidak sia-sia ongkos yang dikeluarkan.

Yang juga menarik adalah bahwa guru di pulau ini adalah guru sepanjang hari. Mengapa demikian? Karena mereka mengajar mulai dari pagi, di TK, kemudian dilanjutkan di SD atau SMP atau MA, lalu lanjut ke Madrasah Diniyyah, dan di sore hari mengajar di TPQ. Otomatis mereka memang tidak punya waktu luang untuk belajar, tetapi suasana dan kesibukan di pulau tidak sama dengan di kota. Mereka tidak disibukkan untuk belanja di mall, menonton TV karena listrik hanya ada pada malam hari. Jadi, praktis waktu luang masih ada. Dan alangkah baiknya apabila waktu luang ini dimanfaatkan untuk memberikan pelatihan pengajaran untuk mereka. Saya melihat ini sangat perlu, karena sebagian besar guru masih memakai cara tradisional yang perlu diperbaharui. Tidak hanya itu, pelatihan untuk menggali lingkungan, tradisi, nilai sejarah, dll potensi pulau sebagai bahan ajar juga perlu dilakukan.

Kebijakan pendidikan selama ini memang berlaku nasional, tetapi sayangnya banyak yang lahir tanpa memperhatikan fakta detil di beberapa daerah yang memiliki kendala fisik dan non fisik. Ke depan, semestinya lebih dikembangkan manajemen pendidikan wilayah yang akan lebih mengangkat kekhasan masing-masing daerah.

  1. setelah saya baca artikel bpk / ibu, kami kebetulan asli parang karimunjawa. emang bner dg ulasan pendidikan di desa kami.. kami jg sangat jengkel dg tenaga pengajarnya yg sudah punya titel pns. tapi kenyataanya mereka tdk bsa di katakan guru. krn slama ini ketidak tanggung jawaban pendidik tidak ada. perlu di ingat pak / bu.. di parang pengajarnya datang ga tepat wkt. 1 minggu mengajar 3 minggu pulang di rumah masing”. apa itu bs di artikan guru….. padahal gaji beliau” itu utuh.. apalGi dg tunjangan” yg lain tdk mau kalah dg guru yg ada di daratan

    • bapak dan ibu yang terhormat.
      dengan semua tulisan aetikel ibu ini saya yang asli dilahirkan dipulau parang sangat bangga sekali dengan pola pendidikan di desa kami ini. cuman yang saya sayangkan knapa jikalau ada tenaga pengajar yang di tugaskan diparang kok seakan menolak. dan rasa tanggung jawabnya kurang. bagaimana menurut ibu murni. secara kesejahteraan sangatlan beda dg tugas di daratan sana. di seluruh kec. Karimunjawa tenaga pengajar dapat biaya transport per bulan. apalagi yg sudah mendapat tunjangan desa terpencil. apakah pantas tiap hari selaku ada kekosongan di ruang kelas alias ga ada gurunya. mungkin ibu bisa memberikan beberapa pemahaman pafa kami ini. apa sebabya, dan knapa ? terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: