murniramli

Ghibah dan Puasa

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 11, 2012 at 6:42 pm

Semestinya puasa dapat mencegah seseorang melakukan ghibah (bergunjing), atau lebih tepatnya salah satu penafsiran makna puasa, adalah puasa dalam pergunjingan. Namun, bergunjing, ngerumpi yang nyerempet adalah kenikmatan pembicaraan, sehingga tak sadar apabila kita sudah mengerjakannya.

Bergunjing membicarakan seseorang dari sisi negatifnya tak hanya dilakukan oleh sekumpulan ibu-ibu yang sedang mengelilingi mamang sayur, atau anak-anak sekolah yang berkelompok mengaji, tetapi juga telah menjadi acara TV yang dipancarkan tanpa batas. Artinya, bergunjing telah diklaim sebagai salah satu konsumsi wajib dan perlu para pemirsa.

Padahal sungguh berbahaya bergunjing itu !

Pengertian ghibah menurut Rasulullah SAW tidaklah muluk-muluk dan sulit dipahami :

“Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab : “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai”. (H.R. Muslim)

Jadi, keburukan, kekurangan fisik, kealpaan seseorang, peristiwa memalukan yang dihadapi seseorang, dan aneka hal yang menyebabkan jatuhnya harga diri pelaku yang digunjingkan.

Allah SWT telah dengan keras melarang ghibah :

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok- olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok- olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulahorang-orang yang zalim” (QS. Al Hujurat : 11)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hujurat : 12)

Saking kejinya perbuatan menggunjing, maka Allah mengumpamakannya sebagai memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Tetapi sekalipun sudah dicela, mengapa manusia yang berpuasa tidak bisa melepaskan diri dari perbuatan buruk ini? Apalagi di bulan yang syetan dibelenggu kaki dan tangannya agar tak menggoda manusia?

Khawatirnya ghibah telah menjadi “budaya” di antara kita. Khawatirnya, dia telah menjadi kebutuhan pokok jiwa kita. Naudzubillah min dzaalik.

Lalu, agar terhindar dari ghibah, apalah yang harus dilakukan?

1) Karena ghibah berlangsung antara dua orang yang sedang mengobrol, maka selalulah mengingat bahwa kita sedang berpuasa, dan bahwa ghibah akan mematikan saudara kita

2) Berbicaralah perkataan yang baik-baik saja atau lebih baik diam

3) Lakukan aktivitas yang menyibukkan lisan dengan dzikir kepadaNya. Jika kita sedang membaca Al-Quran, maka otomatis tak mungkin berghibah.

4) Hindari majelis atau perkumpulan yang membicarakan gosip

5) Matikan TV atau alihkan channelnya pada saat menyiarkan siaran gosip

6) Bayangkanlah diri kita sebagai orang yang sedang dighibah. Bagaimana rasanya? Jika sudah dapat kita menempatkan diri sebagai yang dighibah, maka tentulah tidak akan sampai hati kita menggunjingkan orang lain

Anggaplah bergunjing sebagai penyakit kronis yang sedang menimpa jiwa kita. Sehingga kita akan berusaha keras untuk menyembuhkannya, dan membuangnya dari rutinitas hidup.

Wallahu a’lam bisshawaab

Renungan ketiga

  1. Alhamdulillah ibu sudah menulis lagi…
    Sejak pertama kali nyasar ke blog ibu saya jadi ketagihan mampir teruuus tp baru sekarang berani menampakkan diri,he..
    Artikel2nya T.O.P!!

    Slam dr pulau kecil di tngah laut Jawa di ujung jawa timur..

  2. @Hirota : Terima kasih untuk selalu membacanya.Semoga bermanfaat. Di pulau apakah Bapak tinggal?

  3. Saya bukan bpak2 bu (mungkin pemilihan namanya yg mngesankan jd sprti itu yah)
    Sy sekaum dg ibu cm bd usianya mungkin agak jauh.

    Kalau ibu lihat peta jatim disitu ad pulau kecil brnama Bawean, msuk kab. Gresik.
    Mungkin ibu prnah dengar dan lihat brangkali?

    • @Hirota : Oh maaf. Ya, saya tahu Pulau Bawean.

      • Senang sekali Ibu tahu Pulau Bawean..
        Terima kasih sudah mnghadirkan kmbali renungan2 Ramadhannya,jujur bisa jadi alternatif bcaan yg brmanfaat.
        (tp artikel2 Ibu memang komplit yah. Menurut sy yg perlu sy pelajari ada disini)

        TERUSLAH MENULIS BU..!!! :O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: