murniramli

Menghubungkan kasih sayang yang terputus

In Berislam, Islamologi on Agustus 11, 2012 at 4:13 pm

Saya mendahului para pemudik yang hendak menikmati akhir Ramadhan dan berpuasa bersama keluarga di kampung halaman. Jikalau banyak orang baru dapat pulang kampung H-3 atau H-1, maka alhamdulillah, Allah memberikan rezeki dan telah memudahkan pengelanaan saya ke tanah leluhur dua minggu yang lalu.

Semula tiada rencana pulang kampung. Tetapi, karena ajakan penelitian maka pulanglah saya ke tanah yang hampir 5 tahun tak disambangi. Ada beberapa tempat di tanah leluhur yang bahkan sudah 20 tahunan tak disinggahi, sehingga tak kenallah saya dengan sanak famili dan handai taulan di sana.

Kata Rasulullah SAW,

“Barangsiapa yang ingin dimudahkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”(HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Dikatakan silaturahmi akan memperbanyak rezeki dan memanjangkan umur. Rezeki dan umur tiadalah yang dapat menebak seberapa besar dan panjangnya kecuali Dia Yang Maha Mengetahui dan Menentukan.Lalu, mengapa dikatakan silaturahmi akan memperbanyak rezeki dan memanjangkan umur?

Jika ia adalah sarana memperbanyak rezeki, maka terbuktilah itu. “Silah” yang bermakna menghubungkan atau hubungan, dan “rahim” yang berarti kasih sayang, mengindikasikan hubungan yang tidak sembarang hubungan. Di dalamnya perlu ada kasih sayang antara orang yang berhubungan. Kasih sayang tidak dimaknai sebagai “cinta” muda-mudi lain jenis, tetapi cinta kepada sesama makhluk Allah. Dari hubungan cinta kasih itu lahirlah kerjasama yang sangat beragam. Dari perkenalan dengan si A, maka terbukalah jalan menuju keridhaan Allah. Dari pertemuan dengan si B, maka muncullah tawaran pekerjaan baru.

Saya telah ditunjukkan Allah SWT betapa nikmatnya silaturahmi. Selama saya berada di Jepang, pekerjaan sambilan yang saya lakukan semuanya terjadi karena silaturahmi. Begitu halnya dengan di Indonesia, rezeki saya dibukakan olehNya melalui silaturahmi.

Disimpulkan oleh para ahli bahwa orang-orang berprestasi di muka bumi ini adalah makhluk sosial yang memiliki banyak teman. Orang berhasil adalah mereka yang memperluas jangkauan pertemanannya dengan orang-orang yang baik dan berhati lurus. Melalui jaringan sosial di dunia maya, maka silaturahmi tidak lagi perlu berhadapan tubuh, tetapi cukuplah dengan kiriman separagraf kata. Sungguh manusia telah diberi ilmu  untuk memperluas silaturahmi.

Pertemuan saya dengan sanak kerabat di tanah Bone telah membukakan mata tentang betapa sayangnya mereka kepada saya. Mereka masih ingat anak kecil yang setiap kali hendak tidur, harus menggulung-gulung rambutnya dengan jari-jari tangannya sambil mengemut nasi sekepal (dalam bahasa Bugis, ini disebut makkaculu). Mereka masih mengingat saya. Kasihannya saya, sebab tak ingat sudah siapa gerangan nama Puan ini? Anak siapakah dia? Di manakah dia tinggal? Dan mengapa dia bisa mengenal saya?

Tampaknya Allah telah menghilangkan ingatan saya kepada mereka, karena kealpaan saya menghubungkan tali kasih sayang yang terputus ini.

Pulang kampung untuk menghubungkan kasih sayang yang terputus bermakna pula membagi-bagi rezeki yang kami dapat di tanah Jawa. Banyak orang yang mungkin berpikir bahwa itu tidak perlu dilakukan karena sama saja dengan tidak melatih kemandirian mereka. Teman Jepang yang menemani saya pun keheranan, ketika saya terlihat olehnya menyelipkan uang di tangan seorang nenek. Keyakinan saya bahwa sadaqah adalah pinjaman kepada Allah yang akan diganti dengan pahala yang berlipat olehNya, barangkali tak mampu dipahami akal sehatnya. Dia barangkali sama bingungnya dengan orang-orang yang masih menunda-nunda kebersihan hartanya.

Lalu, mengapa umur menjadi panjang karena silaturahmi?

Silaturahmi akan memperbanyak teman yang mendoakan di kala kita sakit. Dia pun akan menjadi sarana nama kita dikenang sebagai kenalan, sahabat, atau teman baik. Tidak ada yang tahu berapa umurnya sebenarnya. Tiada pula ada yang tahu kapan dia akan mati. Karenanya diperpanjang sebanyak berapa lamakah umur kita, tidak ada yang tahu.

Ada cerita seorang kawan tentang seseorang yang divonis kanker. Tak ada cara lain untuk menyembuhkannya selain menjalani chemo dan operasi. Dalam kerutinannya melakukan chemo, sampailah dia pada keputusasaan, mengapa penyakitnya tak kunjung sembuh? Lalu, setelah merenung berhari-hari, dia menemui dokter, dan mengatakan, “Saya ingin pulang kampung”. Dokter terkejut, dan memintanya untuk tidak putus asa. Tetapi sudah bulat tekad si bapak untuk pulang kampung. Apa yang dilakukannya semenjak dia di kampung? Tak ada lain selain mendatangi semua sanak familinya, bercengkerama dengan mereka, menghubungkan kasih sayang yang terputus. Alhasil, Allah telah memberinya umur panjang dengan menghilangkan kanker ganas yang mengenainya. Bagaimana Allah memainkan kuasaNya dalam perkara ini tidak ada yang tahu, dan kita hanya bisa berandai-andai jawaban dan bermain logika sebab akibat.

Renungan kedua

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: