murniramli

Renungan Ramadhan yang Tertunda : Indahkanlah Bacaan Al-Quranmu !

In Islamologi, Ramadhan, Renungan on Agustus 11, 2012 at 3:17 pm

 

 

Setiap tahun di bulan Ramadhan, saya alhamdulillah diberi kekuatan untuk menuliskan renungan tentang hidup, hubungan antara manusia sebagai makhluk dan Allah SWT sebagai Khaliknya. Namun, sebuah kemunduran telah terjadi pada diri saya, sehingga menjadi lemah hati dan turun semangat, sehingga tak satupun tulisan tercipta hingga hari ini.

Saya menyesal bukan main.

Tetapi menyesal bukanlah pekerjaan orang yang hendak maju dan menjadi semakin beriman. Oleh karenanya, sekalipun terlambat, mulai hari ini saya ingin menuliskan Renungan Ramadhan 2012.

Saya baru saja membaca-baca kembali tulisan Renungan Ramadhan yang saya susun sejak tahun 2007 hingga 2011. Di dalamnya banyak sekali ingatan dan ajaran yang saya heran dan takjub atas karunia Allah yang melancarkan alam berpikir saya ketika menuliskannya.

Kalau saya membaca tulisan orang lain yang sungguh cantik dan indah, kadang-kadang saya berpikir, dari mana dan bagaimana Allah telah mentrasfer dan mengajarkannya ilmu menyusun kata yang demikian indah. Sewaktu di pesantren dulu, saya sering membaca kisah-kisah dalam bahasa Arab, dan selalu saja berdecak kagum mengagungkanNYA dengan “subhanallah”, tatkala sampai pada kalimat yang elok nian. Sungguh Allah telah menganugerahi beberapa orang dengan kemampuan menulis dan berbicara yang tiada tara keindahannya. Katanya, di surga nanti, para bidadari dan pembantu-pembantu surga akan berbicara dengan tutur kata yang sangat menyejukkan hati. Seperti apakah itu, sungguh tak bisa terbayang oleh telinga dan akal pikir.

Hari ini saya kembali menghadiri majelis sholat subuh di Masjid Al-Muhajirin, Payung Asri. Jamaah laki-laki hanya bersisa dua baris, demikian halnya dengan jamaah ibu-ibu. Kalau biasanya ada pengajian shorogan di pagi hari, maka pagi ini ustadz sedang ada tugas di luar, sehingga tak diadakanlah pengajian shorogan itu. Sekalipun saya sudah sering mengajar shorogan, saya masih menjaga diri untuk tidak mengajukan diri sebagai guru shorogan di majelis yang belumlah saya kenal baik ini.

Sebagai gantinya, pagi ini di tengah hawa dingin yang menampar-nampar pipi, saya dan tiga ibu-ibu mulai membaca Al-Quran bersama, menyimak bacaan satu dengan yang lainnya. Setiap orang mendapatkan bacaan dua “ain”. Maka, tatkala sampai pada giliran saya, membacalah lisan ini dengan semerdu-merdunya. Alunan suara yang keluar dari pita suara rupanya telah membuat ibu-ibu terlena, dan pada akhir pengajian, mereka menanyai saya apa resepnya memiliki bacaan yang bagus. Saya juga tidak punya resep jitu, selain meniru melalui proses mendengar yang terus-menerus dari para qari dan imam yang bersuara merdu.

Semula cara membaca saya sama saja dengan ibu-ibu yang lain. Ketika SD, oleh guru ngaji, saya dan kakak dilatih untuk menjadi qariah. Lalu, tatkala saya sudah memperdalam tajwid, saya mulai meniru-niru cara membaca imam-imam Masjidil Haram yang sering saya dengar dari tape tua bapak.

Almarhum Bapak dan mamak, juga paman dan bibi, serta sanak famili saya di Bone, selalu mengaji dengan bacaan yang hampir sama (maksudnya alunannya). Barangkali itu pula yang mempengaruhi cara saya membaca Al-Quran. Bukan faktor genetik, tetapi lingkunganlah yang telah membentuk alunan suara demikian.

Di dalam QS Al Muzammil : 4, Allah SWT berfirman :

 

 

“Dan tambahkanlah. Dan bacalah Al-Quran dengan tartil”

Apa arti tartil? Maksudnya membaca dengan perlahan, mengikuti tajwid (cara membaca Al-Quran yang sudah ditetapkan), dengan penyebutan huruf (makharijal huruf) yang benar. Mencapai bacaan yang benar dengan pengucapan yang benar, tidak mungkin dilakukan jika Al-Quran dibaca terburu-buru. Orang-orang yang memahami bacaan Al-Quran, pastilah dia akan membacanya seakan dia sedang menyampaikan pesan atau membaca berita dengan titik koma yang jelas, tanda tanya dan tanda seru yang disuarakan sekalipun di daam Al-Quran tidak ada tertulis tanda-tanda itu.

Jika tak dapat seseorang membaca dengan merdu, maka berusahalah untuk memerdukannya. Niscaya Allah Maha Mengetahui segala upaya itu. Membacanya pada masa-masa belajar, memanglah sangat sulit untuk melantunkannya dengan indah. Tetapi Al-Quran seperti mempunyai “lem” yang mengikat orang-orang yang membacanya. Atau bahkan, dia seakan dicipta dengan “zat yang memabukkan”, sehingga menjadikan pembacanya menjadi kecanduan, sekalipun tak paham artinya.

Membaca Al-Quran adalah makanan jiwa bagi kaum beriman, sekaligus manfaat yang ditabungnya untuk akhiratnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :

Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya Al Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

Daripada Abu Musa Al Asy’ari r.a. telah berkata : Rasulullah S.A.W. bersabda : “Umpama orang mukmin yang membaca al-Quran seperti buah Utrujjah ( seperti limau besar ) baunya wangi dan rasanya sedap. Umpama orang mukmin yang tidak membaca al-Quran seperti buah tamar tidak ada bau dan rasanya manis, dan umpama orang munafik yang membaca al- Quran seperti Raihanah (sejenis pokok) baunya wangi dan rasanya pahit dan umpama orang munafik yang tidak membaca al-Quran seperti buah labu yang tiada bau dan rasanya pahit”.

(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Daripada Omar Bin Al Khattab r.a. Bahawa Nabi Muhammad S.A.W. bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat martabat beberapa golongan dan merendahkan martabat yang lain dengan sebab al-Quran”.(Hadis Riwayat Muslim)

Renungan pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: