murniramli

Bergaul dengan Orang Tua

In Berislam, Islamologi, Ramadhan, Renungan on Agustus 12, 2012 at 6:22 am

Kalau ditanya dengan siapa Anda ingin berteman? Tentulah kita akan memilih teman sebaya. Sangat jarang anak muda yang ingin berteman dengan orang tua, atau sangat jarang anak-anak ingin berteman dengan orang dewasa. Tetapi, sungguh orang-orang tua ingin sekali berteman dengan yang muda-muda.

Sepanjang ingatan, saya sudah bergaul dengan orang tua (terutama ibu-ibu) pada usia belumlah genap 25 tahun. Saya masih kuliah S1 di IPB ketika sekelompok ibu-ibu sepuh meminta saya mengajari mereka membaca Al-Quran dan tafsirnya. Saya tidak menyangka muncul kesabaran menghadapi mereka. Mengajari anak-anak membaca Al-Quran adalah lebih mudah ketimbang orang tua yang sudah memudar daya ingatnya.

Pernah ada murid saya yang tangannya selalu bergetar (tremor) saat memegang Al-Quran. Beliau membaca dengan sangat terbata-bata, tetapi semangat belajarnya yang tinggi membuat saya tidak pernah absen mengajarinya, sekalipun saya harus melewati hujan lebat. Selesai pengajian, ada saja ceritanya tentang anak-anaknya yang sudah pergi, tentang kehidupannya yang seorang diri, dan tentang hipnotis yang dialaminya sehingga hilang uang di ATM. Dia tak pernah bosan bercerita, dan saya tidak pernah bosan mendengar dan mengomentari.

Di kelompok ibu-ibu pengajian, berbagai masalah mereka keluhkan, seakan saya memahami semua ilmu. Saya bagaikan seorang psikolog, konsultan rumah tangga, dan sekaligus konsultas pengasuhan anak. Pada umur yang masih belia waktu itu, saya merasa mengetahui sesuatu lebih awal daripada generasi sebaya.

Ketika berada di Jepang, entah mengapa semakin banyak teman-teman dari kalangan generasi tua yang berusia 70 hingga 80 tahun. Mereka sering sekali mengajak saya mengobrol di kampus ataupun di rumah. Menurutnya, tak banyak orang asing yang bisa diajak bercanda dan mengobrol, dan saya termasuk yang betah mendengarkan cerita orang, sebab saya pun gemar bercerita.

Sepulangnya ke Indonesia, saya kembali berkumpul dan berteman dengan ibu-ibu sepuh. Mereka tergabung dalam kelompok pengajian di Masjid Al-Muhajirin Payung Asri Semarang. Sekalipun saya jarang-jarang datang dalam majelis mereka, tetapi selalunya saya disambut dengan ramah. Hal yang paling mengasyikkan selain mengaji bersama setelah sholat subuh dan tarawih, adalah mengobrol tentang berbagai persoalan keseharian.

Bergaul dengan orang tua adalah sebuah kawah pengingat, bahwa kita pun akan melewati masa itu. Berbicara dengan mereka telah mendatangkan pemahaman tentang pahit dan manisnya hidup yang akan saya lewati kelak. Perbedaan pemahaman dan kebiasaan dikarenakan generasi yang terpisah, tidaklah menjadi penghalang kenikmatan kami berbagi cerita.

Banyak di antara mereka yang sangat cerewet dan terkesan ingin selalu dibenarkan, tetapi adapula yang sangat bijak dan santun ucapannya. Barangkali demikian pula kelak saya kalau sudah menginjak usia yang sama. Secerewet apapun mereka, yang bisa dilakukan oleh orang yang lebih muda seperti saya adalah bersabar dan menjadi pendengar yang baik. Katanya, orang tua adalah anak-anak yang tubuhnya menjadi renta, tetapi alam berpikirnya kadang-kadang menjadi kekanak-kanakan. Tetapi ada di antara orang-orang tua yang masih menganggap diri memiliki hegemoni terhadap yang muda. Satu-satunya senjata untuk menghadapi ini hanya bersabar dan berusaha memberikan jawaban yang menyenangkan hatinya.

Orang tua yang paling dekat bergaul dengan kita tentu saja ibu. Dia adalah kisah hidup yang dapat kita baca sehari-hari suka dukanya. Saya mengenal mamak saya sebagai wanita yang sangat lembut, dan gampang sekali menangis tatkala mendengar anak dan cucunya kesusahan. Tangannya selalu dengan ringan mengelus kepala anak-anak yang ada di dekatnya. Mamak juga sama dengan ibu-ibu yang lain, sering bercerita tentang obrolan yang didengarnya di majelis pengajian atau di acara arisan dan senam lansia yang rutin diikutinya.

Mari kita camkan ajakan Rasulullah SAW berikut ini :

“Sebagian tanda memuliakan Allah, yaitu menghormati orang muslim yang sudah putih rambutnya.” (HR. Abu Daud)

“Bibi (Saudara perempuan ibu atau bapak) itu sama dengan kedudukan ibu” (HR. Tirmidzi)

Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik berbakti seseorang ialah menghubungi teman-teman ayahnya”

Renungan keenam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: