murniramli

Fa Ainallahu ?

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 12, 2012 at 1:10 am

Saya dengar dari kawan dosen bahwa beberapa kalangan mendapatkan prioritas untuk diterima sebagai mahasiswa baru di universitas. Beberapa orang tua yang sebenarnya sudah memiliki hak tersebut, sebagai ucapan terima kasih atau barangkali agar semakin mulus proses penerimaan anaknya, sering kali menitipkan “amplop” kepada pejabat universitas. Praktek seperti ini tidak saja terjadi di dunia perguruan tinggi, tetapi di semua level pemerintahan. Kawan lain berkisah tentang berapa juta uang yang mesti dia masukkan ke dalam amplop untuk lolos penerimaan PNS.

Korupsi dan penyogokan terjadi di mana-mana di negeri ini bahkan dalam pencetakan Al-Quran sekalipun. Saya tidak tahu apa yang ada dalam kepala dan hati orang yang mengerjakannya? Apakah sewaktu hal itu dilangsungkan, dia ingat Allah? Ataukah ingatannya telah ditutupi awan hitam tebal, sehingga tak membuatnya jernih berpikir?

Teringat kisah Umar bin Khattab yang kepanasan di padang pasir, dan mendapati seorang anak gembala yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Umar ingin menguji iman si anak, dengan menawar salah satu kambing kepada si gembala. Si anak bersikeras tidak memberikan.

“Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!”, ujar Umar. “Aku hanya seorang budak”, jawab si gembala. Umar semakin membujuknya, “Kambing itu amatlah banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?”. Dijawab, “Tidak. Majikanku tidak pernah tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya”. Umar semakin memaksa, “Kalau begitu, jikalau hilang satu kambing, majikanmu tak akan tahu. Atau katakan saja kepada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja untuk membeli baju dan roti”. Anak gembala terdiam, dan dipandangnya wajah Amirul Mukminin, “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, fa ainallahu (lalu di mana Allah?) Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa Allah pasti mengetahui siapa yang berdusta?” Betapa terkejut dan senangnya hati Umar bin Khattab mendengar jawaban si budak. Keimanan yang kuat telah merasuk dalam jiwa si gembala.

Pernahkah orang yang menerima uang yang bukan haknya, atau mereka yang melakukan kecurangan, bertanya sebagaimana si anak gembala, fa aina Allah?

Jikalau tak muncul kepekaan seperti itu dalam diri kita, maka bersiaplah untuk menjadi panggangan di neraka jika tak ada taubatan nasuha. Lalu, mengapa mereka tidak mengingat Allah ketika melakukan kecurangan?

Karena nafsu duniawi tentulah lebih berkuasa daripada nafsu mengharapkan kehidupan bahagia di akhirat. Dunia telah memperdayakan manusia dengan segala kesenangan dan keindahannya. Karena dunia sungguh indah dan menggiurkan, maka berlombalah manusia menaklukkan dan memiliki semua yang ada di dalamnya.

Ketamakan telah merajai dan mengungkung cara berpikir orang yang mengaku berislam. Sehingga lupalah dia bahwa ketika melakukan perbuatan tersebut, ada malaikat yang sudah bersiap sedia dengan bolpen dan notes catatannya.

Berlaku ihsan sebagaimana anak gembala yang ditemui Amirul Mukminin amatlah sulit dibentuk dan ditumbuhkan kepada anak-anak masa sekarang yang setiap hari menyaksikan perbuatan tercela dan kecurangan terjadi dan dilegalkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Berat dan bertambah beratlah tugas orang tua dan guru. Tetapi bukan sebuah pekerjaan yang tak dapat ditunaikan. Hanya saja perlu kesabaran dan kesungguhan untuk membentuk generasi yang senantiasa mengingat dan menyebut, “fa ainallah”

Renungan kelima

 

  1. Beberapa waktu yang lalu saya menjadi peserta PLPG dan selesai tanggal 9 juli lalu. Pengalaman paling berkesan? Ternyata guru-guru juga hobi kasih amplop ke dosennya dan banyak dosen yang enjoy saja terima amplop. Saya tidak tahu pasti berapa perbandingan yang terima amplop dan yang menolak. Tapi setidaknya beberapa dosen yang kebetulan masuk di kelas saya menerimanya dan baru satu orang yang saya lihat menolak. Di kelas lain saya dengar juga sama. Inikah para pendidik bangsa kita? Padahal para dosen itu tentu sudah mendapatkan honor atau fee karena ini adalah proyek pemerintah.
    Kasihan sekali anak-anak negeri ini/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: