murniramli

Keterpaksaan vs Putus Asa dari Rahmat Allah

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 12, 2012 at 12:02 am

 

Suatu kali berceritalah seorang kawan kepada penulis bahwa ia terpaksa menerima sebuah pekerjaan yang sejatinya tak cocok dengan prinsip yang dipegangnya. Keterpaksaan itu lahir karena tuntutan kebutuhan hidup, dan tentu saja yang paling mendesak, karena tuntutan manusia yang dekat dengannya.

Banyak di antara kita dihadapkan pada pilihan yang pelik tentang pekerjaan. Bagi seorang perempuan yang ditanggung sepenuhnya oleh suami atau orang tuanya, maka mubahlah hukumnya dia bekerja. Namun, bagi mereka yang tidak dalam penanggungan siapapun, maka sulitlah baginya jika dia berpangku tangan. Semestinya apabila dilaksanakan hukum-hukum agama yang berlaku, maka dia menjadi tanggungan keluarganya yang laki-laki. Sayangnya, tidak segampang itu penerapannya.

Tidak hanya masalah pekerjaan, masalah pengasuhan anak, jodoh, penyakit yang diderita, dan segala bentuk ujian hidup adalah perkara yang dapat menggelincirkan kita pada sikap putus asa, dan akhirnya jatuh pada pilihan yang menggembirakan sesaat namun menyengsarakan berkepanjangan.

Kehidupan yang paling menyenangkan tentu saja hidup dalam keridloan Allah. Artinya, apa yang kita lakukan senantiasa mendapatkan “restu” dan ijin Allah. Apa buktinya kalau Allah ridho? Pertama kehidupan itu haruslah berjalan sesuai dengan tuntutan syariah Islam terlebih dahulu, sebelum mempertanyakan lebih lanjut tentang keridhoan-Nya. Apabila hidup ini sudah dialirkan sebagaimana sungai dan ditegakkan sebagaimana gunung yang senantiasa patuh pada perintahNya, maka keputusasaan dari kasih sayangNya tidaklah akan menghampiri.

Manusia adalah makhluk yang diuji. Maka selalulah dia dihadapkan pada persolan dan tekanan-tekanan untuk mengetes seberapa kuat imannya, dan seberapa dalam alam berpikirnya bekerja, dan hatinya menekuri itu. Upayanya melewati ujian hidup tersebut pastilah suatu masa akan dihadang pada pilihan atau bahkan seakan paksaan yang menghimpit.

Manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk memilih jalannya.

Banyak sudah kisah sahabat yang terpaksa berdusta karena paksaan. Tetapi ada juga yang dikuatkan Allah keyakinan akan datangnya rahmat Allah. Ketika matahari panas padang pasir Mekkah dan lemparan batu besar menyakiti tubuhnya, Bilal bin Rabah tetap mengatakan “Ahad, ahad…”, ketika kaum Quraisy pimpinan Umayyah bin Khalaf memaksanya mempertuhankan Latta dan Uzza. Kesabaran Bilal dan keyakinannya pada pertolongan dan kasih sayang Allah akhirnya mendatangkan hasil. Abu Bakar As-Shiddiq, saudagar kaya Mekkah membebaskannya. Sejak itu Bilal menjadi pengumandang adzan terbaik Rasulullah SAW, memanggil orang untuk sholat bersama di bawah Imam yang mulia, Muhammad SAW.  Dari Ka’bah dan menara masjid di Madinah, suaranya senantiasa nyaring terdengar mendatangkan kekhusyuan dan kerendahan penyerahan diri di hadapan Yang Maha Kuasa. Dia menjadi tak sanggup mengumandangkan adzan tatkala Rasulullah SAW wafat. Allah telah melimpahkannya rasa kasih sayang yang melimpah kepada Nabiyullah Muhammad SAW, dan menyediakan surga untuknya di kampung akhirat. Sungguh beruntungnya Bilal bi Rabah atas buah dari keberhasilannya melewati paksaan yang dihadapinya sebagai kaum yang menyatakan Islam pada awal-awal masa kenabian.

Ingat pula kita bagaimana Yusuf mengajari anaknya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.

 

 

 

 

 

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf:87).

Rahmat dan karunia Allah sangat luas. Pertolongannya adalah misteri. Tak ada yang mengetahui kapan datangnya, tetapi pastilah datang kepada orang beriman yang meyakininya.

Wallahu a’lam bisshawab

Renungan keempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: