murniramli

Para Pencari Lailatul Qadar

In Berislam, Islamologi, Ramadhan, Renungan on Agustus 14, 2012 at 12:01 am

Hari-hari belakangan ini adalah hari tersibuk dan juga sekaligus hari-hari mengharukan bagi para pencari lailatul qadar yang hanya disediakan Allah di bulan suci Ramadhan. Masjid-masjid pada malam hari ba’da shalat tarawih, diisi oleh mereka yang mengharapkan Allah mendatangkan rahmatNya atas malam yang kebaikannya lebih dari seribu bulan.

Masjid yang setiap malam saya datangi pun demikian. Sejak awal Ramadhan, tua muda sudah dibentuk dalam kelompok tadarus kecil, pemuda, pemudi, bapak-bapak, dan ibu-ibu. Saya, alhamdulillah hingga hari ini masih dapat mengikuti majelis ibu-ibu, ba’da tarawih dan ba’da subuh. Sekalipun badan masih penat karena bekerja seharian di siang hari, tetapi Allah sungguh memberikan keberkahan pada malam-malam ini, sehingga menjadi kuatlah orang-orang yang menghendaki beribadah kepadaNya.

Tetapi, sebaliknya, banyak pula kaum muslimin yang mencari lailatul qadar di tempat yang salah. Mal-mal yang menjual paket lebaran menjadi tempat yang lebih ramai daripada masjid. Petugas kasir sampai tak sempat lagi tunaikan sholat karena pembeli bagaikan kesurupan akan kehabisan stock parcel lebaran. Ibu-ibu yang berbelanja sudah lupa apakah dhuhur sudah lewat, ashar sudah masuk, maghrib sudah datang, ataukah sudah waktunya menunaikan isya dan tarawih. Sungguh kenikmatan dunia telah memperdayakan kita!

Ada juga orang yang mencari lailatul Qadar di depan TV. Ketika berbuka disuguhi dengan sinetron-sinetron Islami tetapi sangat menyandukan. Sehingga berat rasa badan diangkat mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat maghrib ketika sinetron sudah mulai disiarkan. Apatah lagi melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan sholat isya dan tarawih berjamaah. Masjid semakin jauh rasanya bagi mereka, padahal hanyalah lima kali langkahan kaki.

Lalu, siapakah yang akan mendapatkan keberkahan lailatul qadar? Hanya Allah yang mengetahui rahasia ini. Namun, orang yang mendapatkannya telah digambarkan ciri-cirinya. Bahwa imannya akan lebih bertambah, kecintaanNya untuk bertemu dengan Allah melalui dzikir dan sholat bagaikan candu, lisannya tak lepas dari memujiNya, dan kehidupannya sungguh mulia. Banyaklah teman yang menyenanginya, mudahlah segala urusannya, banyaklah mulut-mulut dan hati yang mendoakan keselamatan dan kesejahteraannya, bahkan malaikat tak bosan menjadi pencatat amalan kebaikannya yang pelan-pelan menumpuk.

Sungguh menyenangkan jika dapatlah kita menjadi salah satu yang mendapatkan kemuliaan itu. Semoga Allah menguatkan hati, pikir, dan tubuh kita untuk menjadi pemburu lailatul qadar, dan sesudah masuknya syawal, bertambahlah keimanan kita. Amin

Renungan ketujuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: