murniramli

Libur Ramadhan

In Berislam, Islamologi, Ramadhan, Renungan on Agustus 15, 2012 at 12:09 am

Jika memasuki Ramadhan, inginnya kita agar sebulan penuh diliburkan saja agar dapat khusyuk beribadah. Ibaratnya setahun adalah masa manusia berupaya keras mencari nafkah, maka satu bulan di antara dua belas bulannya semestinya diistirahatkan untuk mempersiapkan jiwa, hati dan fisik yang lebih baik.

Sayangnya tidak demikan adanya. Di kampus, para mahasiswa berkejaran untuk melaksanakan ujian. Dosen terengah-engah membaca setumpuk skripsi dan tesis yang kadang ditulis apa adanya karena ketakcukupan waktu. Di kantor, pekerjaan administrasi tak kunjung berkurang. Di rumah sakit apalagi, tentulah tak dapat dicegah agar tak ada yang sakit selama sebulan penuh. Alhasil, dalam berbagai kondisi, banyak di antara kita yang tidak bisa menikmati kekhusyuan ibadah di bulan Ramadhan.

Sewaktu saya berkunjung ke Kabupaten Bone, pemerintah setempat memiliki kebijakan untuk meliburkan sekolah selama Ramadhan. Sehingga semakin gembiralah anak-anak. Tetapi sayang sekali banyak orang tua yang tidak memanfaatkan ini untuk mengajari anak-anaknya untuk memperbanyak ibadah di rumah ataupun di masjid. Alhasil, liburan selama sebulan penuh tak bermakna. Di Kabupaten Maros dan Kodya Ujung Pandang, anak-anak masih bersekolah hingga seminggu sebelum lebaran.Di Jawa demikian pula. Pelajaran di sekolah memang tidak berat dan berakhir lebih cepat daripada bulan-bulan biasanya. Tetapi, anak-anak pastilah sudah lelah, sehingga sesampainya di rumah, tak sangguplah dia untuk menggiatkan ibadahnya selama Ramadhan.

Bagaimanakah gerangan Rasulullah SAW dan para sahabat tatkala Ramadhan tiba?

Bulan Ramadhan bagi para sahabat Rasul adalah bulan yang dinanti-nanti pertemuan dengannya. Mereka bekerja sebelas bulan, dan menyiapkan diri untuk memasuki Ramadhan dengan penuh kebersihan hati dan kesiapan mental dan fisik. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, semestinya mereka sudah dalam keletihan sangat setelah bekerja penuh sebelas bulan, tetapi Rasulullah SAW senantiasa menasihati mereka ketika menyambut Ramadhan dengan penyemangat agar memfokuskan ibadah pada bulan ini, yaitu memperbanyak sholat, menderas Al-Quran, memberi makan orang yang berbuka, bersedekah, i’tikaf di masjid, dan menyampaikan nasehat kebaikan, tak lupa membayarkan zakat fitrah dan kalau sudah sampai nishab dan khaulnya, bayarkan pula zakat mal.

Sayangnya, kegiatan di kantor tak berhenti hingga dua hari bahkan sehari menjelang kepergian Ramadhan. Maka semakin lemahlah tubuh untuk menyelenggarakan i’tikaf di masjid, sebagaimana Nabi SAW dan para sahabat dulu melakukannya. Mereka berdiam di masjid, memperbanyak sholat, doa, memohon ampun dan penerimaan ibadah, agar tiada sia-sia yang mereka lakukan selama ini, hingga akhirnya malaikat Jibril datang memimpin para malaikat, mengunjungi Rasulullah SAW, menyampaikan tasbih dan tahmid dalam penampilan yang sempurna.

Masih ada waktu sebelum Ramadhan pergi, dan masih sempat kita bermohon agar tak diperbudak dunia yang melenakan, sehingga ringan kaki ini untuk melakukan i’tikaf di masjid.

Renungan kesembilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: