murniramli

Bingkisan Lebaran dan Pengemis

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 16, 2012 at 7:28 am

Dalam salah satu siaran TV tadi malam, disampaikan bahwa pada bulan Ramadhan tidak hanya bisnis bingkisan lebaran yang meningkat, tetapi jumlah pengemis pun bertambah. Pertanda apakah ini?

Jika pada masa Rasulullah SAW dan sahabat, tidak ada parcel yang harus dikirimkan ke rekanan bisnis, atau yang harus diberikan kepada sanak famili, maka entah meniru dari kebiasaan memberikan hadiah natal, umat Islam akhirnya membiasakan diri untuk memberi bingkisan lebaran.

Parcel dikirimkan kepada orang tertentu, yang dianggap telah berjasa kepada pemberi. Di Jepang, ada juga kebiasaan semacam ini yang disebut o chuugen (diberikan pertengahan tahun) dan o seibo (diberikan di akhir tahun). Pemberinya juga bermaksud mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepadanya. Tetapi, terkadang parcel disalahartikan, sehingga dulu pernah ada pula aturan, bahwa pejabat dilarang menerima parcel.

Di lain sisi, jumlah pengemis yang mendatangi rumah-rumah, berkeliran di jalan, dan atau menunggu di depan toko, semakin hari semakin meningkat. Entah dari mana saja mereka berasal, dan bagaimana mereka sampai memutuskan menjadi pengemis, padahal itu sangat dilarang di dalam Islam.

Dari Hakim bin Hizam radhiallahu anhu dia berkata: Saya pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun memberikannya padaku. Kemudian aku meminta lagi, maka diberikannya lagi. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau pun memberikannya lagi. Sesudah itu, beliau bersabda:
إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى
“Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, Dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Al-Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1717)

Dari hadits di atas diketahui bahwa sifat meminta-minta sebenarnya adalah penyakit. Orang yang meminta-minta ketika diberi, maka muncul keserakahan di dalam dirinya, dan dia terus saja meminta, tanpa pernah merasa kecukupan. Pengemis pun demikian. Tak heran, banyak kabar yang sampai ke telinga kita, bahwa sebenarnya pengemis di perkotaan terorganisir, mereka mampu membeli rumah dari hasil mengemisnya. Lalu, apakah mereka tidak takut dengan ancaman berikut ini ?

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725)

Saya kira fatwa dan kebijakan beberapa daerah untuk meminta warganya agar tidak memberikan uang kepada pengemis, ada kebaikannya. Upaya ini semacam pressure agar mereka berhenti meminta dan mengaktifkan diri menjadi bagian dari orang-orang yang bekerja, mencari sesuap nasi, sesulit apapun itu.  Sayangnya, banyak yang tak setuju, atau  belum tahu sehingga pengemis pun tak bergeming, dan terus saja menganggap tindakan mengemis adalah pekerjaannya.

Lalu, apakah mereka tidak mengetahui ancaman dan hinaan terhadap pekerjaan tersebut menurut hukum agama? Dalam hadits dikatakan bahwa kefakiran sangat dengan kekufuran. Itu artinya, kondisi fakir dapat menyebabkan otak dan pikiran seseorang menjadi kufur (ingkar) terhadap semua hukum Allah. Naudzubillahi min dzalik

Fenomena bingkisan lebaran dan pengemis menjadi sangat ironis. Karena seharusnya bingkisan lebaran dikirimkan kepada si miskin agar tidak memaksanya untuk mengemis. Tetapi sayangnya, bingkisan lebaran yang terbaik justru dikirimkan ke rumah para bos dan atasan, dibagikan kepada sanak famili yang sebenarnya berpunya. Lalu, si miskin hanya menerima bingkisan lebaran berupa beras sebagai pembayaran zakat fitrah kaum muslimin sebelum sholat Ied ditunaikan.

Renungan kesebelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: