murniramli

Sandal

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 16, 2012 at 12:45 am

Tadi malam adalah hari pertama saya menunaikan sholat Isya dan tarawih di Masjid Al-Muhajirin Madiun. Saya meliburkan diri dari kegiatan kampus lebih cepat daripada rekan-rekan yang wajib menunggu upacara peringatan 17 Agustus. Keputusan untuk pulang kampung lebih cepat saya ambil karena tidak mau berdesak-desakan dengan sesama pemudik, dan agar perjalanan yang biasanya saya tempuh 6 jam tidak bertambah panjang karena antrean kemacetan. Alhamdulillah, kemarin jalanan sangat lancar, dan pengemudi bis Sumber Kencono (Sumber Selamat) yang saya tumpangi, sekalipun berpenampilan tak lazim (anting dan rambut merah), menyetir dengan sangat baik. Sayang, dia tidak puasa, masih merokok, dan menelepon dengan HP selama mengemudi.

Berangkat dari Semarang pukul 10 pagi, dan mampir sholat dhuhur di musholla terminal Tirtonadi, kemudian ganti bis, saya akhirnya tiba di rumah pukul 16.00. Di rumah hanya ada adik laki-laki yang sedang meracik bukaan. Ya, mamak dan kakak masih di Bone, sementara adik laki-laki lainnya masih bekerja. Saya yang kelelahan tak bisa membantu adik. Saat berbuka, kami menikmati sajian yang sudah lebih dari cukup, sekalipun barangkali tidak sekomplit rumah tangga lain. Alhamdulillah, hari ini kami berbuka nikmat sekali. Adik laki-laki yang baru saja tiba pun membawa sate, maka menjadilah kenikmatan semakin bertambah.

Sebelum adzan Isya berkumandang, saya sudah berangkat ke masjid dengan mengenakan sandal jepit hitam, dan sesampai di masjid, sengaja saya letakkan di daerah tepi dengan posisi seperti orang Jepang meletakkan sandalnya, yaitu ujung sandal menghadap ke arah luar, sehingga siap dipakai. Di sebelahnya ada sandal berwarna sama, dengan penanda keperakan di kedua ujungnya.

Barangkali karena kelelahan karena berkendara, saya yang semula hendak i’tikaf terpaksa harus pulang cepat karena perut sangat melilit. Ketika hendak mengambil sandal, ternyata hanya ketemu satu bagiannya. Saya lihat ada seorang ibu yang buru-buru dan tidak melihat sandal yang dikenakannya. Saya tak sempat mengingatkannya atas kekeliruaan tersebut. Akhirnya saya pulang dengan mengenakan sandal yang bukan pasangannya. Saya yakin ibu tadi tidak sengaja, sebab sandal beliau lebih bagus daripada sandal milik saya.

Keesokan harinya, sandal ibu yang satu lagi saya masukkan dalam tas kresek dengan maksud menaruhnya di pelataran masjid agar beliau dapat melihatnya, dan saya mengenakan sandal yang lain. Sandal yang pasangannya hilang saya tinggalkan di rumah. Seandainya nanti sandal saya tidak dikembalikan, maka saya tidak perlu pulang dengan sandal yang berbeda.

Alhamdulillah, saat hendak meninggalkan masjid, pasangan sandal saya ada di depan masjid, dan sandal milik ibu yang saya letakkan di sana juga sudah tak ada. Barangkali beliau berpikiran sama dengan saya atau justru beliau datang ke masjid dengan sandal yang berbeda pasangan? Entahlah, tetapi kami sama-sama berpikir, bahwa sekalipun hanya sandal jepit yang mudah dibeli di pasar manapun, tetap saja harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Perkara sepele memang, namun jika diabaikan maka tentulah akan membentuk jiwa dan pikiran yang tak patut kelak. Allah telah memberikan kami pelajaran, bahwa kelak jika kami menerima uang, jabatan, kesenangan yang bukan hak kami, atau menerimanya sebagai pelicin urusan (suap), maka di dalam jiwa telah tertanam pengertian, bahwa kita tak berhak menggunakan segala sesuatu yang bukan hak dan terlarang keras menerimanya apapun alasannya.

Renungan kesepuluh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: