murniramli

Merdeka Tak Pernah Benar-Benar Merdeka

In Berislam, Islamologi, Ramadhan, Renungan on Agustus 17, 2012 at 8:01 pm

Ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno tahun 1945 tanggal 17 Agustus, kebetulan sekali bertepatan dengan 9 Ramadhan. Jikalau dulu kemerdekaan itu diselenggarakan di awal Ramadhan, maka kali ini dalam peringatannya yang ke-67, perayaannya berada di penghujung bulan Ramadhan.

Beberapa rekan PNS mengeluhkan hal ini karena mereka harus menunda mudik, dan diharuskan mengikuti upacara 17-an pagi ini. Tetapi ada juga yang menikmatinya dan menganggap ini sebagai sebuah kelangkaan, upacara bendera 17-an pada akhir Ramadhan. Saya tidak mengikuti upacara secara langsung, tetapi bersama adik-adik menyaksikan prosesi pengibaran dan penurunan bendera pada hari ini.

Merdeka pada bulan Ramadhan adalah sebuah keberkahan, sebagaimana Allah menjamin pahala bagi semua amalan di bulan ini. Karenanya, sungguh beruntung para pejuang yang memperjuangkannya dulu. Dia diganjar atas usahanya yang tiada putus, dan atas keikhlasannya memerdekakan diri.

Orang yang merdeka tentulah berbeda dengan orang yang tak merdeka. Orang merdeka dapat beribadah dengan nyaman, dia dapat berbuat sekehendak hatinya dalam koridor syariah Allah. Periset yang merdeka pun dapat dengan leluasa melakukan penelitian sesuka keinginannya. Pebisnis yang merdeka dapat membina hubungan bisnis dengan siapa yang dia cocoki. Presiden yang merdeka dapat mengambil kebijakan tanpa tekanan dari manapun.

Sayangnya, kemerdekaan yang diraih seseorang atau sebuah negara, bukanlah kemerdekaan yang mutlak. Kemerdekaan dan pembangunan sebuah bangsa selalulah disertai dengan ketergantungan pada negara dan penguasa lain, sehingga menjadilah negara itu merdeka tetapi dalam tekanan. Indonesia demikian halnya. Dia telah merdeka 67 tahun, tetapi dia tidak pernah merdeka dalam percaturan politik dunia.

Di dalam dunia kampus, mahasiswa katanya adalah orang yang merdeka. Tetapi benarkah demikian? Sesungguhnya tidak. Banyak mahasiswa yang tidak bebas menentukan rencana studinya. Tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa sesuka hati memilih tema penelitiannya. Semua katanya harus dalam bimbingan dosen pembimbingnya. Namun, pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang “dipaksa” menyukai dan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tak rela hatinya mengerjakan itu. Lalu, mengapa mahasiswa tersebut tidak memerdekakan diri? Nasibnya sama dengan nasib bangsanya yang berada dalam tekanan institusi global penguasa dunia. Dia seperti makan buah simalakama ketika hendak merdeka.

Sekalipun merdeka tidak berarti bebas yang sebenarnya, Allah memerintahkan hambaNya untuk memerdekakan diri, sebagaimana Dia telah memerintahkan hijrah Nabinya Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, agar beliau dapat menyampaikan dan menyebarkan Islam dengan merdeka.

Hal yang sama diperintahkan kepada siapa saja yang merasa terdesak dan terhalang melakukan ibadah di suatu negeri, agar dia berhijrah ke tanah lain. Sama halnya dengan orang yang tidak merdeka beribadah dalam pekerjaannya, maka hendaklah dia berani memutuskan pindah pekerjaan.

Maka karena kemerdekaan sungguh bernilai besar, tiadalah bangsa yang pernah berhenti memperjuangkannya, termasuk saudara-saudara seiman di Palestina.

Wallahu a’lam bisshawab

Renungan ketiga belas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: