murniramli

Makanan Pokok dan Si Miskin

In Berislam, Islamologi, Ramadhan, Renungan on Agustus 18, 2012 at 9:37 am

Menjelang hari raya, kaum muslimin diwajibkan untuk membayar zakat fitrah, berupa beras atau makanan pokok sebesar 2,5 kg atau 3,5 liter beras. Tua muda sama saja, bagi yang berkecukupan, maka tak boleh dia mengelak dari kewajiban ini. 

Mengapa harus makanan pokok, dan mengapa tidak diganti saja dengan parcel lebaran yang lain seperti korma, kue kaleng atau sirup? Allah SWT sudah menetapkannya, dan kita hanya dapat mencari-cari hikmahnya. Bahwasanya, makanan pokok lebih dibutuhkan oleh fakir miskin daripada isi parcel lebaran.

Manusia sangat tergantung pada sebuah makanan yang memenuhi sebagian besar energi tubuhnya. Itulah yang disebut makanan pokok. Kalau tak memakannya sehari saja, maka menjadi lemaslah dia. Beras adalah salah satu alternatifnya, dan Maha Suci Allah yang telah menjadikan bumi ini sangat layak untuk ditumbuhi padi, bahkan dalam luasan yang sungguh besar. Di beberapa negara yang tidak mengkonsumsi beras, gandum ditumbuhkan dengan sangat suburnya untuk dijadikan roti yang menjadi makanan pokok penduduknya.

Oleh karenanya, sangatlah wajar dan masuk akal jika yang wajib diberikan pada saat menjelang hari raya adalah makanan pokok. Si fakir tidak bisa kenyang jika hanya mengkonsumsi biskuit kaleng, pun tidak akan bersendawa ketika dia menghabiskan korma. Tetapi, dia akan merasakan kepuasan dari rasa laparnya tatkala dia makan makanan pokoknya.

Lalu bagaimana jika digantikan beras 2,5 kg itu dengan uang? Ulama membolehkannya. Tetapi, jika berpikir bahwa dengan uang tersebut, si penerima perlu mengeluarkan uang tambahan dan energi ekstra untuk ke pasar atau toko membeli makanan pokok tersebut, maka alangkah baiknya menyederhanakan dan meringankan beban si penerima dengan memberinya barang dalam bentuk aslinya (makanan pokok).

Kemarin dan pagi ini, adik saya telah membagikan zakat fitrah kami sekeluarga. Kami setiap tahun membiasakan untuk mengantarkan langsung kepada si fakir dan miskin zakat fitrah kami. Bukan tidak mempercayai takmir masjid yang juga menyelenggarakannya, tetapi kami ingin meringankan beban mereka (para petugas), dan lagi tak susah mencari orang miskin yang berhak menerimanya di kota kami. Kami bertemu dengan mereka setiap hari. Ada nenek yang setiap hari lewat di depan rumah kami bersama cucunya, mengambil sampah-sampah plastik. Ada bapak tua yang setiap hari berjalan mengambil sampah basah kami. Dan ada tukang becak, Pak Man yang biasa dipanggil warga untuk menebang dahan pohon, dan membersihkan kebun pisang.

Bukankah juga tak susah menemukan orang miskin di negara ini? Sehingga sangatlah miris, apabila zakat fitrah belum dibagikan pada saat maghrib menjelang lebaran, karena kesulitan mencari si miskin.

Renungan kelima belas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: