murniramli

Hari Raya Tahun Ini

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 20, 2012 at 5:49 am

Biasanya hari raya selalu kami rayakan di Madiun, berkumpul dengan mamak, adik dan kakak. Tetapi tahun ini agak sepi, karena mamak dan kakak berlebaran di kampung halaman kami di Bone, dan hanya saya berempat dengan adik-adik di Madiun.

Kalau ada mamak, maka kami pasti akan menikmati jamuan khas Bugis, burasa, ayam khas, barongko, dan tape. Tetapi karena tidak ada persiapan dan ke-PD-an membuat itu, maka tak ada yang kami buat, kecuali ayam opor dan ayam bumbu rujak.

Makan ayam selama dua harian sudah membuat kurang nyaman di perut, maka pada saat makan malam dan sahur tadi pagi, kami kembali ke menu asal, tempe goreng dan sayur hijau. Saya dan keluarga tergolong pengkonsumsi sayur-sayuran, sehingga masakan itu wajib hadir di meja makan, sekalipun hanya berupa rebus-rebusan.

Karena di komplek kami semua orang mudik, maka tak ada yang datang ke rumah, kecuali hari ini, seorang anak buah almarhum bapak datang ke rumah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Saya ingat, mereka tidak pernah absen datang ke rumah, baik ketika bapak masih bekerja di pabrik gula, maupun setelah pensiun dan bahkan hingga bapak tiada. Sekarang, beliau sudah menjadi orang. Dengan keluarganya, tahun-tahun sebelumnya mereka datang dengan kendaraan motor, dan sudah dua tahun ini, alhamdulillah mereka datang dengan mobil. Tampaknya, ketekunan telah berbalas dengan buah yang menyenangkan.

Sholat ied kemarin kami kerjakan di lapangan Universitas Merdeka Madiun. Jamaah membludak, hingga banyak yang sholat di tempat yang lebih tinggi daripada posisi imam. Sebenarnya dalam agama ini tidak diperkenankan, namun banyak orang yang tidak mau susah, dan lebih suka memilih memajang sajadahnya di atas lantai gedung atau di undak-undakan tiang bendera. Kalau mereka mau berjalan sedikit, sebenarnya masih ada tempat datar ke arah kiri.

Seperti biasa, sebelum sholat dimulai, panitia mengingatkan agar duduk mendengarkan ceramah, dan jamaah tidak buru-buru berdiri. Sebab umumnya, setelah sholat, jamaah seakan berlomba melepas mukenah atau melipat sajadah dan bergegas meninggalkan arena. Padahal, kalau mereka tahu, rangkaian sholat Ied adalah dari mulai niat awal hingga doa. Jadi, jika hanya sampai sholatnya, dan tidak didengarkan khotbahnya hingga diaminkan doa imam, maka belumlah sempurna ibadah di pagi hari ied.

Hari raya tahun ini bertepatan dengan hari Minggu, hari berangkatnya umat kristiani untuk menunaikan misa pagi. Karenanya, pemandangan yang sangat jarang ditemui ini menjadi momen yang menggambarkan kemajemukan dan keragaman Indonesia. Oleh karenanya, ceramah yang disampaikan khotib kebanyakan tentang kerukunan beragama.

Masalah kerukunan sebenarnya sejak dulu sudah terbina dengan baik, hanya sayangnya ada saja oknum yang senang memanfaatkan konflik, memancing di air keruh, menyulut perselisihan di antara umat beragama di tanah air, sehingga konflik agama gampang sekali disulut. Sebenarnya, semakin kuat iman seseorang, maka akan semakin terbuka dan toleran dia kepada pemeluk agama lain. Sayangnya banyak yang sering mementingkan diri sendiri, golongan dan partainya.

Lebaran tahun ini semoga dapat mendewasakan bangsa ini.

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, menguatkan keimanan dan ketakwaan kita, mengampuni segala dosa, dan menjadikan kita hambaNya yang semakin mencandui ibadah kepadaNya. Amin.

Renungan keenam belas

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: