murniramli

Sebulan dengan Juz Amma

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 20, 2012 at 10:17 am

Menjadi imam sholat bukanlah pekerjaan yang mudah. Tak sembarang orang dapat menjadi imam, karena ada beberapa persyaratan yang ditetapkan dalam aturan agama. Sayangnya, banyak orang yang tidak merasa bahwa sebenarnya dia tak layak menjadi imam, karena bacaan dan pemahamannya.

Dalam bulan Ramadhan, saya melakukan sholat tarawih di enam masjid, tiga di Sulsel, dan tiga di Jawa. Masjid yang biasa saya sambangi di Semarang adalah Masjid Al-Muhajirin. Imam di sana diatur secara bergiliran. Beberapa imam membaca ayat-ayat dalam QS Al-Baqarah, QS Al-Imron, dan beberapa ayat pendek lainnya. Sayangnya dibaca dengan tak tartil, sehingga kurang terasa kekhusyuannya.

Di Masjid di sebuah perumahan di dekat bandara Sultan Hasanuddin, di Makassar, yang menjadi imam hanya satu orang. Surat-surat yang dipilihnya adalah potongan ayat dari Surat-surat non juz Amma. Dibaca dengan bacaan yang sangat indah, tartil dan memenuhi tajwidnya. Sangat menyenangkan beribadah di belakang imam seperti ini. Khusyuk dan bisa memaknai ayat-ayat yang dibacanya.

Bermacam-macam masjid, namun umumnya imam hanya menamatkan sebagian juz Amma pada bulan Ramadhan dalam sholat Isya dan tarawih. Bacaan-bacaan surat hanya berkisar dari Al-Ikhlas hingga paling panjang Al-Zalzalah. Kadang-kadang meningkat menjadi As-Syams dan Al A’la.

Ada imam yang membaca sambil bergumam dengan bacaan yang sangat cepat, sehingga sakitlah perut yang baru saja diisi makanan berbuka, karena harus ditekuk dan diluruskan dalam kecepatan tanpa tumakninah. Ada juga imam yang membaca dengan lirih dan bergumam, sehingga tak jelas apa yang dikumandangkannya. Bahkan yang lebih menyulitkan adalah ketika berdoa tak jelas apa yang beliau baca, tetapi makmum hanya meng-amin-kan saja.

Memang tidak ada yang salah dengan imam yang hanya membaca juz Amma jika hanya itu yang dikuasainya. Namun juz Amma sekalipun, surat-suratnya mengandung makna yang dalam, sehingga untuk memahami dan menyelami kedalaman artinya, perlulah dibaca dengan bacaan yang indah, dengan penekanan di bagian tertentu yang berisi peringatan, dan dibaca dengan suara merintih pada bagian yang berisikan doa.

Menjadi imam haruslah ada peningkatan dari ramadhan ke ramadhan. Jika sudah ada upaya untuk menjadi lebih baik dari kaum muslimin,maka semakin berjayalah Islam.

Renungan keduapuluh

  1. assalamu’alaikum wr. wb.
    saya tersentil dengan tulisan ini, sangat menarik dan membuat saya merenung.
    saya seorang mahasiswa, di kampus setiap menunaikan shalat (dzuhur & ashar) saya selalu memberanikan diri jadi imam. saya sadar walaupun hanya dibaca dalam hati, saya melafalkan surat dengan biasa-biasa saja dan ilmu tentang surat yang saya bacapun terbilang minim. paling paling ketika saya baca surat Ad-Dhuha saya mencoba merasakanya sembari berharap Allah melapangkan pintu rezeki bagi siapa saja yang kebetulan jadi jama’ah saya. saya sering malu sendiri jika terlintas pikiran ‘apa saya pantas jadi imam?’ seperti paragraf pertama tulisan ini. pertimbangan saya selama ini adalah saya harus berani memimpin, karena saya punya cita-cita yang besar. jalan panjang ke depan itu saya rintis dengan berani jadi imam di setiap kesempatan shalat.
    wassalam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: