murniramli

Pokoknya Jadi Pejabat

In Berislam, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, Ramadhan, Renungan on Agustus 23, 2012 at 11:37 pm

Ada beberapa tipe manusia yang bekerja sebagai abdi negara di bidang pendidikan. Ada yang ingin hanya berkecimpung sebagai 1) pengajar saja, ada yang cenderung menjadi 2) peneliti, ada yang 3) pengajar dan peneliti, ada yang ingin menjadi 4) pengajar sekaligus pejabat, 5) peneliti dan pejabat, 6)pengajar, peneliti dan pejabat, dan ada juga yang pokoknya harus menjadi 7) pejabat.

Kelompok yang pertama, biasanya hanya mengajar saja. Hidupnya datar dan yang terpenting mengajar sebanyak-banyaknya, karena dari situ pundi-pundi dapat bertambah. Karena hanya berorientasi pada pengajaran saja, maka apa yang diajarkannya tak ada perubahan dari tahun ke tahun. Materi tak berubah, metode itu-itu saja, dan karena sama, maka dia tak perlu mempersiapkan diri sebelum mengajar, atau karena tak ada waktu persiapan saking banyaknya pelajaran yang harus diampu.

Kelompok kedua, lebih suka berada di lab dan lapangan. Mengajar kadang dianggapnya sebagai beban, dan untuk tipe ini, mereka berupaya, mata kuliah sesedikit mungkin. Dalam kelompok ini, ada yang pandai mengajar, ada pula yang tak ahli mengajar. Padahal seharusnya hasil penelitiannya menjadi bahan ajar yang up to date.

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencoba menyeimbangkan antara dua fungsi utama pendidik, yaitu mengajar dan meneliti. Melalui penelitian, dia akan memperkaya bahan ajarnya. Orang-orang dalam kelompok ini akan membagi secara seimbang jumlah mata kuliah yang diampunya dengan jam-jam penelitian.

Kelompok keempat, mencoba menyeimbangkan antara tugas mengajar dan tugas menjabat. Tetapi ada pula yang berat sebelah tentunya, yaitu lebih mengutamakan tugas sebagai pengajar, dan menjadikan jabatan sebagai embel-embel saja. Barangkali sebenarnya mereka tidak mengharapkan sekali menjadi pejabat. Apabila dia mengharapkan sekali menjadi pejabat, maka tentu fungsi mengajar asal-asal saja, satu mata kuliah pun tak masalah.

Kelompok kelima, sebenarnya agak jarang ditemui. Karena umumnya orang yang memiliki semangat meneliti, akan menjauhi birokrasi. Dan sebaliknya, kalau dia condong pada posisi pejabat, maka biasanya peneliti hanya sebagai gelar saja.

Kelompok keenam, idealnya adalah dia menyeimbangkan ketiga peran, yaitu mengajar, meneliti, dan menjabat. Tetapi ini saya yakin sangat sulit dilakukan. Pasti ada kecenderungan ke salah satu peran saja. Misalnya, cenderung mengajar saja atau meneliti saja. Menjabat barangkali juga bukan karena kehendaknya, tetapi diminta secara aklamasi. Tetapi ada kasus lainnya, orang yang memilih jadi pejabat dengan alasan agar dapat mengatur kebijakan di tempatnya bekerja, sehingga lebih menguntungkannya.

Kelompok terakhir, adalah orang yang merasa tak berdaya jika tak menjadi pejabat. Apapun jabatannya yang penting pejabat. Jika orang normal menghendaki jenjang karir yang meningkat, maka bagi orang dalam kelompok ini, mereka tidak lagi berpikir jenjang menaik, yang penting jadi pejabat. Sampai-sampai, orang dalam kelompok ini ada yang jenjang karirnya terbalik, misalnya semula adalah Dekan atau Pembantu Dekan, lalu karena ambisi menjabat, maka jabatan ketua prodi pun diambilnya. Pernah ada seorang teman yang seorang dosen di sebuah PTN yang mengatakan, “Kalau saya tak jadi pejabat, saya harus mengerjakan apa?” Ternyata, baginya pejabat adalah satu-satunya pekerjaan, sekalipun status asalnya adalah pengajar. Karena keinginan menjadi pejabat, maka apapun caranya, sikut sana sikut sini, lobi sana lobi sini selalu menghiasi hidupnya.

Dalam kelompok apapun kita berada, maka yang sangat penting adalah jangan berlebihan, jangan serakah, dan jangan mementingkan diri sendiri. Semakin tinggi gelar akademik, seharusnya menjadikan kita sebagai orang yang semakin berilmu. Makin banyak karya-karya kita yang bisa dibaca oleh orang awam, makin banyak rekaman jejak nama kita tertera di jurnal-jurnal ilmiah, dan makin sering tulisan kita direfer oleh penggunanya.

Dalam banyak kasus, nepotisme menjadi sangat sulit dilepaskan oleh orang-orang yang menjadi pejabat. Sadar atau tidak sadar, dalam setiap pembuatan kebijakan internal, pastilah yang muncul dalam benaknya sebagai penanggung jawab dan koordinator, adalah menunjuk kroni-kroinya sebagai pembantu-pembantunya. Pembagian dosen pembimbing diberikannya kepada kolega dan pendukungnya. Kepanitiaan diserahkan kepada teman-temannya. Dana-dana penelitian bocor duluan ke peneliti. Pembimbingan skripsi, tesis dan disertasi tidak lagi berdasarkan kemampuan khas dan pengalaman dosen bersangkutan, tetapi adalah kue yang harus dibagi dengan kroni.

Bolehkah itu? Ya boleh saja, tetapi lebih afdol apabila seseorang bersifat rendah hati, menggunakan amanah jabatan sebagaimana mestinya, dan senantiasa berupaya mentransparankan dana-dana yang dimiliki institusi, dan mempunyai visi ke depan untuk kepentingan bersama, bukan sekedar menginginkan jabatan itu.

Renungan keduapuluh dua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: