murniramli

Ayah

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 25, 2012 at 11:40 pm

Yang dilakukan ayah ketika anaknya baru lahir adalah mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan kirinya. Dia kemudian memberikan anaknya nama yang terbaik. Dia menimangnya tak bosan-bosan, bangun ketika anaknya menangis malam-malam, terkantuk-kantuk membantu istrinya menenangkan anaknya tersayang. Dia rela menjadi kurang tidur, padahal esok kerja harus dimulai pagi-pagi. Ketika pulang kantor, yang dilakukannya pertama kali adalah menengok si mungilnya, sudah sebesar apa dia setiap harinya? Ketika genap tujuh hari umurnya, dia panggilah sesepuh, tetangga, anak-anak yatim untuk merayakan aqiqah anaknya.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya mulai besar sedikit adalah menuntun anaknya belajar merangkak, berjalan, bahkan dia dengan setia memegangi sepeda si anak hingga dapat dia mengayuh pedalnya dengan sendirinya. Setiap sore waktunya habis untuk mengajak anak mungilnya berjalan-jalan, menggendong dan memeluknya ketika angin sore bertiup sepoi.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya belum baligh adalah memakaikan sarung dan kopiah terbaik, menyuruhnya berdiri di sebelahnya sambil melantunkan suara yang indah tatkala membaca ayat-ayat Al-Quran dalam rakaat sholat wajib. Dia tak pernah bosan membimbing anaknya membaca alif ba ta, hingga pandai dia merangkainya menjadi kata dan kalimat.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya telah baligh adalah memukulnya ketika anaknya tak hendak mendirikan sholat. Dia bahkan menyiramkan air dingin ke wajah anaknya yang tertidur pulas ketika adzan memanggil-manggil dari menara masjid. Dia tak pernah bosan melakukan itu, sekalipun si anak tumbuh jakunnya dan makin keras suaranya. Pikir ayah, “Biarlah anakku memarahiku karena paksaan ini, daripada aku harus menghadapi pertanyaan Allah kelak di padang masyhar tentang bagaimana aku menuntun anakku untuk sholat”.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya akan masuk ke sekolah adalah menambah jam kerja lemburnya agar dapat menyimpan rupiah demi rupiah untuk pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Dia bahkan lupa untuk istirahat dan menyenangkan dirinya.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya mulai menjadi remaja adalah memperketat pengawasan, memarahi bahkan memukul anaknya ketika dia berbuat salah, tetapi sesudahnya ayah akan diam-diam menangis menyesali perbuatannya. Itu dilakukannya karena inginnya dia agar anaknya selalu menjadi orang yang benar di jalanNya.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya akan masuk SMA adalah memangkas belanja pribadinya, dan memasukkan hampir semua gajinya ke dalam rekening pendidikan anaknya. Dia tak henti mencari informasi tentang sekolah terbaik, dan kalau perlu menanyakan langsung kepada kepala sekolah. Dia rela mencuri waktu kerjanya demi anaknya tersayang.

Yang dilakukan ayah kala anaknya hendak berkuliah adalah menjual warisan orang tuanya untuk memenuhi uang masuk PTN yang melampaui gaji bulanannya berlipat-lipat. Jikalau tak cukup juga, maka pergilah dia merendahkan diri di depan sanak familinya, memohon pinjaman uang. Dia pun mendatangi kampus diam-diam untuk meminta keringanan pembayaran. Dia tak pernah mengatakan, “Nak, ayah tak punya uang, kau pilihlah PTN yang lebih murah”.

Yang dilakukan ayah ketika anaknya hendak menikah adalah mencarikan jodoh yang terbaik untuk anaknya. Ayah memeriksa dengan baik calon mantunya yang akan mendampingi anaknya kelak, yang akan menggantikan dia dan istrinya dalam penjagaan anaknya tersayang. Dia bahkan tak berani menolak pilihan anaknya, dan menganggap anaknya adalah orang dewasa merdeka, bukan lagi perempuan jaman Siti Nurbaya atau laki-laki yang harus mengikuti jodoh yang ditentukannya sebagai orang tua. Untuk pesta pernikahan yang meriah, dia kuras tabungan terakhirnya, atau kalau tak cukup kembali dia bertandang ke sanak familinya, meminta dengan sangat pertolongan terakhir.

Yang dilakukan ayah ketika cucunya akan lahir adalah menghabiskan uang pensiunnya untuk keperluan cucunya tersayang. Dia bahkan tak pernah menikmati uang pensiunnya karena anaknya kadang-kadang masih memintanya membantu pembiayaan rumah barunya, kredit mobilnya, dan pendidikan anaknya. Padahal ayah sudah bertahan tak merehab rumahnya, dia pun sudah berpeluh mengayuh sepeda tuanya untuk mengambil uang pensiunnya.

Yang dilakukan ayah sepanjang hidupnya adalah hidup prihatin dan menabung yang banyak untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin.

Yang dilakukan ayah pada malam-malamnya adalah berdua dengan istrinya mendirikan qiyamul lail, bersujud lama hingga ada tanda hitam pada jidatnya, memohon dengan rintihan agar anaknya kelak menjadi anak yang sholih, menjadi pembela agama Islam, dan kaumnya.

Yang dilakukan ayah setiap harinya adalah menunaikan sholat dhuha, memohon kasih sayang Allah untuk memberinya rizki yang halal untuk membahagiakan anaknya tersayang.

Yang dilakukan ayah sepanjang hayatnya adalah apa-apa yang dapat menghasilkan uang untuk keperluan anaknya tersayang. Dia bahkan lupa mencari rezeki untuk dirinya sendiri.

Namun, yang dilakukan anak kepada ayahhnya adalah memaksanya bekerja hingga membungkuk badannya, berkurang penglihatannya, dan semakin susah pendengarannya. Dia bahkan masih memanggil ayahnya untuk mengawasi cucunya,  menata kebunnya atau mengawasi pembangunan rumahnya. Tak pernah dia menyerahkan uang kepada ayahnya, sebagai ucapan terima kasih, karena ayah tak pernah memintanya. Kalaupun dia memberi, hanyalah ongkos transpor pulang pergi. Padahal ayah tak pernah ragu mengeluarkan lembaran dalam dompetnya ketika cucunya merengek jajan.

Pantaslah jika ayah menjadi orang yang harus dihormati dan dihargai setelah ibu. Pantaslah jika nama ayah selalunya disandangkan pada nama belakang anak, agar kelak si anak berusaha membanggakan ayahnya, dan agar terekam dalam benak khalayak tentang ayahnya yang baik. Sayangnya, anak tidak menghargai kebanggan ayah ketika membuatkan nama untuk anaknya.

Renungan keduapuluh empat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: