murniramli

Ibu

In Berislam, Ramadhan, Renungan on Agustus 25, 2012 at 4:08 pm

Yang dilakukan ibu ketika anaknya baru lahir adalah memberinya sedapat mungkin air susu yang menyehatkan. Dia rela mengkonsumsi makanan yang sebenarnya tak disukainya, demi menyediakan air susu yang melimpah dan sehat untuk anaknya.

Yang dilakukan ibu ketika anaknya mulai masuk sekolah adalah bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan dan bekal, lalu memegang tangan mungil anaknya, mengantarkannya ke TK, dan mengintip anaknya dari balik jendela kaca kelas, dengan wajah selalu penuh senyum. Dia khawatir anaknya menangis jika tak melihat wajahnya di jendela. Itu dilakukannya setiap hari hingga anaknya masuk SD kelas satu.

Yang dilakukan ibu ketika anaknya beranjak remaja adalah membelikannya baju yang bagus, mengirimnya berkursus musik dan aneka keahlian, menyukai musik, bacaan, film yang digemari anaknya agar masih dapat dia mengobrol dengan anaknya tersayang, dan supaya tak dikatakan dia sebagai ibu yang kuper. Dia rela menggemari sesuatu yang sebenarnya tak disukainya demi anaknya.

Yang dilakukan ibu ketika anaknya akan masuk SMA adalah mendatangi banyak sekolah terbaik yang sekiranya dapat menerima anaknya. Dia rela tak membeli perhiasan, baju, kosmetik, dan memangkas biaya pribadinya demi membayar uang masuk sekolah anaknya yang melampaui gaji suaminya setahun.

Yang dilakukan ibu ketika anaknya hendak masuk kuliah adalah mengantarkan anaknya ke PTN yang dicita-citakannya, mencarikannya rumah kos yang layak. Dia tak pernah mengeluhkan uang dapur yang semakin menipis, karena dipakai untuk mengirimi uang kuliah anaknya tercinta.

Yang dilakukan ibu ketika anaknya bilang akan menikah adalah menjual emas perhiasannya, dan merancang pesta perkawinan yang megah, sekalipun dia harus berutang kepada sanak famili jika tabungannya tak cukup. Dia tak ingin anaknya malu di depan calon mertuanya, bahwa mereka dari keluarga miskin. Dia tak pernah melepaskan senyum dan tawa bahagianya pada hari bahagia itu karena anak tersayangnya telah menggenapkan sebagian imannya.

Yang dilakukan ibu ketika anaknya mengatakan cucunya akan lahir adalah menabung uang pensiun suaminya untuk membelikan makanan enak bagi anak/mantunya yang hamil, lalu ketika si cucu lahir, maka pergilah ibu ke toko mainan, meghabiskan uang pensiun suaminya yang tak seberapa untuk membelikan sepatu mungil, baju mungil, topi mungil, dan mainan aneka rupa untuk cucunya tersayang. Rasa cintanya kini terbagi kepada anak dan cucunya tersayang.

Yang dilakukan ibu ketika cucunya sudah agak besar adalah mendatangi rumah anaknya untuk menjadi penjaga dan pengasuh cucu, karena anaknya harus berkerja.Dia lebih tahu tentang cucunya daripada anak dan mantunya, tetapi dia tak berani menasehati dan menggurui anak dan mantunya tetang pendidikan yang baik untuk si cucu.

Yang dilakukan ibu sepanjang umurnya adalah berbuat baik kepada orang lain, agar anaknya kelak pun mendapat perlakukan yang baik dari orang lain.

Yang dilakukan ibu setiap harinya adalah menolong orang yang kesusahan, agar ketika anaknya kelak ditimpa kesusahan, maka dia pun akan ditolong oleh orang lain.

Yang dilakukan ibu sepanjang hidupnya adalah berwajah ramah dan pengasih kepada sesamanya. Dia berusaha tak marah, tak menyakiti, dan tak berwajah masam kepada orang lain, karena dia berharap anaknya pun tak disakiti, dan akan selalu berhadapan dengan orang yang berwajah bagaikan bulan, lembut dan menyenangkan.

Yang dilakukan ibu sepanjang malamnya adalah bersujud hingga hitam jidatnya, berdoa dengan cucuran air mata tak pernah bosan memintakan hal yang sama kepadaNya : “Karuniakan anakku keimanan yang kuat, keyakinan yang shodiq, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, mudahkan jalannya dan urusannya, ampunkan dosanya”. Ibu bahkan terkadang lupa berdoa untuk dirinya sendiri.

Yang dilakukan ibu ketika badannya telah membungkuk, rambutnya telah memutih, dan kerutan semakin banyak menghiasi wajahnya adalah mendatangi masjid di kala subuh, maghrib dan isya, untuk berdoa hal yang sama untuk anaknya di tempat yang lebih mulia, agar Allah lebih mendengar dan sudi kiranya mengabulkannya. Ibu tak pernah surut melangkah ke masjid, sementara anaknya tidur dengan pulas ketika adzan subuh berkumandang. Ibu tak berani membangunkan anaknya, karena suara si anak lebih besar daripada suaranya. Ibu sangat sedih, tetapi dia hanya dapat mengadu kepadaNya, memohon kasih dan sayangNya agar DIA berkenan melembutkan hati anaknya.

Apa yang dilakukan ibu sepanjang hayatnya semuanya untuk anaknya tersayang. Sangat sedikit dia memikirkan dirinya sendiri.
Namun, apa yang dilakukan anak sepanjang hayatnya adalah untuk dirinya sendiri, sangat sedikit dia mengingat ibunya.

Sangatlah tepat bahwa di bawah telapak kaki ibu ada surga. Maka sungguh tak pantas masuk surga anak yang menyakiti ibunya.

Renungan keduapuluh tiga

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: