murniramli

Suara merdu itu ada di mana sekarang?

In Berislam, Ramadhan, Renungan on September 1, 2012 at 12:28 pm

Tadi malam, bulan tampak hampir sempurna. Berarti sudah setengah bulan syawal, dan dengan kata lain sudah hampir dua minggu setelah idul fitri berlalu.  Ada yang makin lama makin hilang, yaitu suara-suara indah yang kira-kira dua mingguan lalu masih terdengar dari relung-relung masjid dan sudut-sudut rumah kaum muslimin. Sekarang, suara itu hampir tak terdengar lagi.

Sepertinya dari tahun ke tahun sama saja. Semangat kita membaca Al-Quran membara pada bulan Ramadhan, dan kemudian apinya meredup semenjak lebaran hari pertama. Apakah ini pertanda tak berhasilnya ibadah yang kita lakukan selama ramadhan?

Sungguh berbahagia orang-orang yang masih diberi semangat mengulang ayat-ayat itu sehari-hari, sekalipun hanya seayat dua ayat tak sebanyak kala ramadhan. Fenomena ini sama saja dengan kehidupan sehari-hari kita bukan?

Manusia akan berlomba-lomba, berebut datang paling awal ke mal ketika diumumkan ada pembagian gratis atau diskon gila-gilaan. Para pekerja semakin bersemangat bekerja jika atasannya mengatakan ada bonus yang menunggu keberhasilan mereka. Kita adalah manusia yang sangat manusiawi : mengharapkan harta jatuh dari langit, tanpa hendak berusaha keras; menginginkan pahala dariNya dengan sedikit ibadah yang kita lakukan.

Lalu, ketika Allah menyampaikan tentang ramadhan yang pahalanya sama dengan seribu bulan, bergiatlah kita beribadah di dalamnya. Namun, tak kita lakukan itu pada bulan-bulan lainnya. Mengapa? Sebab kita manusia yang lemah dan serakah.

Kita sejatinya kurang memahami makna ramadhan sebagai bulan latihan, tetapi baru sekedar menganggapnya sebagai bulan hadiah.Oleh karenanya kebiasaan baik selama ramadhan, mendadak hilang pada bulan-bulan selanjutnya. Dan karena menganggapnya sebagai bulan hadiah, maka kita hanya berlomba pada saat itu saja, dan pada bulan-bulan selanjutnya, kita tak lagi bersemangat.

Suara-suara merdu itu tak terdengar lagi, kecuali dari rumah-rumah sederhana yang tak pernah berhenti penghuninya menyebut namaNya sepanjang pagi dan malam.

Renungan keduapuluh lima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: