murniramli

Hidup itu untuk apa?

In Berislam, Ramadhan, Renungan on September 4, 2012 at 7:52 pm

Kalau saya tanyakan itu kepada murid-murid kecil saya, maka barangkali mereka akan menjawab, “untuk bermain game”. Kalau saya tanyakan kepada mahasiswa, mungkin dia akan menjawab, “untuk dinikmati”, dan kalau saya ajukan pertanyaan kepada ibu-ibu tua yang meminta diajari membaca Al-Quran tempo hari, bisa jadi mereka akan menjawab, “untuk beramal”

Ya, Allah mengatakan bahwa hidup ini untuk beribadah. Ibadah tentu saja dapat ditafsirkan macam-macam oleh siapa saja dengan perspektif apapun. Orang yang setiap harinya melakukan maksiat, tiba-tiba menyumbangkan uang kemaksiatannya kepada sebuah panti asuhan, mengatakan, “ini ibadah”. Lelaki muda yang menghabiskan masa mudanya untuk bekerja, dan menggunakan uang penghasilannya untuk membeli mobil mewah pun mengatakan, “ini ibadah”. Bahkan kalimat ini tak lupa disebut tatkala manusia menyisihkan hartanya untuk menolong si papa.

Orientasi hidup manusia selalunya berubah. Ketika masih belajar di bangku kuliah, cita-citanya hanya satu, segera lulus dan bekerja. Ketika sudah bekerja ia, orientasinya adalah membeli sebuah harta mewah (mobil, rumah), agar dapat dibanggakannya kepada calon istrinya. Ketika sudah berkeluarga, orientasinya adalah memiliki mobil lebih dari satu sesuai dengan jumlah anaknya. Ketika sudah bertambah tua dia, orientasinya adalah menikmati hartanya di tempat ternyaman di dunia. Ketika sudah terengah-engah nafasnya, maka barulah terpikir untuk memberikan pinjaman kepada Allah melalui sedekah kepada fakir miskin.

Tujuan hidup manusia dapatlah dikategorikan menjadi dua, yaitu dunia dan akhirat. Di antara milyaran manusia yang tinggal di muka bumi, mungkin 99%-nya memiliki tujuan dunia, dan hanya 1% yang bertujuan akhirat.

Allah memerintahkan keseimbangan keduanya.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash: 77).

Renungan keduapuluh sembilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: