murniramli

Krisis Air

In Berislam, Ramadhan, Renungan, Serba-Serbi Jepang on September 4, 2012 at 7:32 pm

Kalau di Bone sekitar seminggu yang lalu subuh senantiasa diguyur hujan, dan menjadi sejuklah perasaan orang muslim yang sedang berpuasa, namun di lain pihak, menjadi semakin malas pula kaki melangkah ke masjid untuk menunaikan sholat subuh. Maka, di tanah Jawa, tak setetes airpun turun dari langit hingga kini. Beberapa daerah sudah mulai kekeringan, rakyat memanfaatkan air apa saja untuk MCK. Sementara di beberapa rumah gedong, air mengalir dengan derasnya, bahkan dipakai oleh si empunya untuk menyirami jalan setapak, halaman, dan menyiram pepohonan.

Ironis sekali, ketika di salah satu pojok kota, setengah mati orang menahan hausnya, karena tak ada air, sementara di pojok yang lain, air dihamburkan bagaikan tak akan pernah habis.

Manusia adalah makhluk yang sengaja diciptakan dengan ketergantungan luar biasa pada air. Dalam salah satu siaran Ikegami Akira yang sering saya tonton ketika berada di Jepang disampaikan bahwa air laut di muka bumi ini jumlahnya ada 97%, dan yang dipakai manusia hanya o.o1%. Sungguh Allah telah mengelilingi daratan tempat tinggal manusia dengan air yang melimpah.

Dalam sehari-hari, keperluan air manusia untuk minum, cuci tangan dan mencuci sebanyak 20 liter. Bagi orang Jepang,angka tersebut belum termasuk keperluan untuk mandi. Dengan pola mandi sekali sehari dengan berendam air hangat pada malam hari, dan pemakaian air berendam oleh semua keluarga, maka orang Jepang memerlukan 300 liter air per hari.

Selain manusia, tanaman dan hewan juga merupakan makhluk yang tidak pernah bisa lepas dari air. Produksi gandum di Jepang membutuhkan 2100 liter air, jagung 300 liter. Belum lagi hampir semua industri membutuhkan air dalam prosesnya, termasuk untuk membuat T-shirt, dibutuhkan 2700 liter.

Mengingat besarnya kebutuhan air tersebut, maka terpikirlah manusia memanfaatkan air laut yang asin agar dapat dijadikan sebagai air minum. Di Jepang mulai dilakukan uji coba untuk menemukan teknik memisahkan air laut dari kandungan garamnya sejak beberapa tahun yang lalu, yang dikenal sebagai teknik gyaku sintouhou (逆浸透法) atau yang disebut sebagai reverse osmosis. Di daerah Fukuoka dan Okinawa, bagian Selatan Jepang, sudah sangat berkembang kegiatan ini. Tentu saja proses tersebut akan menimbulkan masalah penumpukan garam (kaisui tansuika = 海水淡水化).

Air laut yang mengelilingi wilayah Indonesia pastilah lebih banyak daripada jumlah air laut yang mengelilingi Jepang. Tetapi belumlah air sebanyak itu diolah dan dimanfaatkan sebagaimana di Jepang.

Kearifan dalam menggunakan air justru ditampakkan oleh pohon-pohon jati di sepanjang hutan Ngawi yang sering saya lewati. Pepohonan jati yang biasanya menghijau dan menimbulkan rasa nyaman dan sejuk saat berkendara, belakangan ini tampak kering tanpa daun. Jati, dengan bijaknya agar dapat tetap tumbuh, menggugurkan daun-daunnya tentu karena sunnatullah. Allah telah mengatur mekanisme alam ini dengan sempurna.

Lalu bagaimana dengan manusia? Berbeda dengan pohon jati yang tak diberi akal, manusia tak dilengkapi sistem kepekaan terhadap krisis air. Dengan akal dan nafsu (hati) nya, dia diberi kebebasan untuk berpikir dan berperlilaku menyikapi kekeringan yang melanda sebagian wilayah dan menjadi penderitaan sebagian manusia yang lain.

Sayangnya tak banyak yang menggunakan akal dan hatinya. Mereka tetap saja menggunakan air seperti hari-hari biasa. Tak ada pengurangan, tak ada penghematan. Padahal dapat saja dia berwudhu dengan segenggam air daripada bergayung-gayung air. Dapat saja dia mandi dengan 3-4 gayung air, daripada menghabiskan separuh lebih isi bak.

Barangkali kalau krisis air belum menimpa dirinya langsung, belumlah akan manusia sadar.

Renungan keduapuluh delapan

  1. banyak hal membuat manusia dikategorikan makhluk pintar+arief sesuai fitrah nya.
    dimana tingkat intelektualitasnya bisa melorot diatas dan menanjak dibawah makhluk Ciptaan-NYA (kebat keliwat)? kemudian menjadi mem bodoh+serakah kan diri meng ingkari sekaligus merusak fitrah nya itu, oleh banyak hal & unsur penyebab. padahal mereka diberi kelebihan akal+nalar+nurani+nafsu dan selebihnya adalah sama dengan makhluk lainnya, yakni naluriah semata bukan?.

    karena manusia diajak+ajari+di didik berfikir dan bernalar komposisi secara ter kotak-kotak+fokus kepada dirinya sendiri (individual+cadok+sempit+dangkal+tempurung dalam {kotak penjara} katak) = dilema institusi pembelajaran legal formal ; tanpa di imbangi diajak+ajari berfikir dan bernalar secara melebar meluas di antara diri pribadi, itu juga ada diri orang lain yang berfikir yang sama pula juga makhluk lain seantero jagad alam ini yang menjadi makmuman dari (manusia = insan kamil) = berfikir+nalar secara terbuka+meluas+ belajar kepada alam+kearifan lokal tradisional, layar terkembang alam bijak menjadi guru.

    kearifan ilmu warisan lokal nenek moyang tradisional mengandalkan relung rasa+etika+ meper (kendalikan) nafsu diabai sepelekan, digantikan ajaran kekuatan logika+nalar+ memuja nafsu semata, kehilangan kebajikan berbuat dan kebijakan membuat tata krama
    yang ada kebajakan alam seolah makhluk yang harus di takluk tunduk kan (etika berfikir barat), bukan harmoni bersama alam (etika berfikir timur) . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: